Home / Pemuda / Cerpen / My Secret Admirer

My Secret Admirer

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

siluet-orang-tanda-tanya1“Shobaahul khoir, sholehah…”

dakwatuna.com Sms yang kuterima pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Entah siapa pemilik sms itu, tapi yang pasti itu membuatku semangat untuk menyusun puzzle kehidupanku.

“Ran, sudah kamu tanyakan ke teman-teman siapa yang punya nomor hp ini? Tanyaku pada sahabatku, Rani.

“Sudah aku tanyakan, tapi gak ada yang tahu. Ada yang penasaran banget nih” Godanya sambil tertawa.

“Iihhh… malah godain. Iya nih penasaran.” Jelasku sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.

“Ya udah gak apa-apa, gak usah di fikirin gitu dong. Anggap saja itu dari secret admirer mu.” Godanya dengan bumbu tawa.

Heemm.. penasaran juga memang. Apakah dia seorang lelaki yang memang mengagumiku dari jauh dan tidak berani mengungkapkan hanya karena aku berjilbab lebar? Apakah dia benar-benar my secret admirer? Ah, kok jadi kePDan gini ya.

***

Pagi berikutnya ku menunggu sms yang selalu mengawali pagiku. Entah kenapa aku jadi begini. Lama ku menunggu sampai di kampus pun tak kudapatkan sapaannya.

            “Keisya, kok lemes banget. Kenapa, sakit?” Tanya Rani

“Engga. Cuma aneh aja. Kok pagi ini ga ada sms itu lagi y? Tanyaku penasaran, padahal seharusnya tak kutanyakan karena Rani pun tak tahu.

“Waaahhh, mood mu sekarang tergantung sama sms itu ya?” Tanya Rani sambil cekikikan

“Ya enggak lah.” Jawabku sambil manyun

“Ya udah, kalo gitu aku saja yang langsung bilang sama sahabatku ini ya.” Jawab Rani dengan kedipan mata

“Huuuuu…” Sorakku memprotes tanda tak setuju.

***

Sms itu menyapaku di pagi selanjutnya ketika aku baru sampai di kampus. Senang rasanya sampai tak sadar sahabatku duduk disampingku dan tersenyum melihat tingkahku.

“Ehm yang dapat sms lagi dari secret admirer mu” Goda Rani sambil menggelitik pinggakku

“Apaan sih.” Jawabku sambil tersenyum

“Ran, nanti malam nginap di rumahku yuk. Sekalian kita kerjakan tugas Bu Mira. Gimana?” Sambungku dengan ajakan

“Oke siap, sholehah.” Jawab Rani disertai godaan yang sedari tadi dilakukannya

***

Tugas pun menjadi santapan di malam ini. Laptop yang masih menyala, buku sumber yang berserakan tak mampu menjagaku untuk tidak mengantuk. Jam menunjukkan pukul 1, sedangkan Rani sudah terlelap 3 jam yang lalu. Ku raih hp Rani, ku buka beberapa folder dan langsung ku buka aplikasi permainan Angry Bird sebagai caraku untuk mengusir rasa kantuk karena tugas belum selesai. Tak lama, akupun segera mengerjakan tugas kembali disertai ukiran senyum.

***

            “Pagi ini dapet smsnya lagi, Kei?” Tanya Rani

            “Iya dapet.” Jawabku singkat sambil tersenyum lebar

Ah sahabatku, maafkan aku. Terlambat aku menyadarinya. Kamulah yang ternyata selalu menyapa di setiap pagiku setelah aku tahu di draft hp mu. Kamu lah orang itu. Terimakasih sahabatku sholehah. Semoga kita selalu dipersatukan dalam indahnya ukhuwah ini sampai ke SurgaNya. UhibbukifiLlah…

            “Hei, kok melamun? Senyum sendiri pula. Kenapa?” Tanya Rani penasaran.

            “Terima kasih ya, sahabatku.” Ucapku sambil meraih tangannya.

            “Semoga persahabatan kita kekal sampai Syurga” Sambungku.

“Iiihhh apaan ini, kok tiba-tiba jadi romantis gitu” ujarnya dengan mengernyitkan dahi.

            “Engga. Pengen bilang gitu aja.” Jawabku ringan dan langsung memeluknya.

***

“… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (Al-Anfal: 63)

***

“Sebentar-sebentar. Apakah kamu mengira aku yang mengirim sms-sms itu?” Tanya Rani dengan mimik penuh rasa ingin tahu.

            “Kan kamu my secret admirernya. Iya kan?” Todongku

            “Bukan, bukan aku. waahh salah orang nih”

            “Tapi semalam aku lihat di draft hp mu ada sms yang sama.” Jelasku dengan polos

“Iya, tapi kan bukan berarti aku yang kirim pesan itu. Aku nulis kata-kata itu di draft sengaja untuk bahan tulisanku.” Jelasnya dengan mimik serius

“Jadi, siapa dong?” tanyaku yang masih penasaran

“Meneketehe” jawabnya singkat sambil tertawa

Tiba-tiba sms masuk kembali menyapa dengan sms sama yang disempurnakan. Padahal Rina tidak sedang memegang hp.

“Shobaahul Khoir, Sholehah.. Aku yakin, engkaulah Bidadari itu.. ^_^”

***

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lastri Azzahra
Pengajar di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 4.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang