Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhanku, Janganlah Cepat Berlalu

Ramadhanku, Janganlah Cepat Berlalu

ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya Allah memberi kesempatan pada kita untuk bertemu kembali dengan Ramadhan. Setiap kali hadir bulan Ramadhan, selalu terbesit banyak harapan. Apalagi Ramadhan kali ini, Allah berikan pelajaran berharga bagi kami. Beberapa hari menjelang Ramadhan, Allah memanggil seorang ustadzah teman dekat kami yang tinggal di samping kompleks. Hari itu, jam 10 pagi , kami berdua bersilaturahim ke rumahnya, sekaligus mengantarkan undangan acara silaturahim. Suguhan minuman dan kue beliau lakukan sendiri, karena di rumahnya hari itu tak ada orang lain selain dirinya. Sempat kami bertanya, apakah ustadzah akan pergi ? khawatir kehadiran kami mengganggu rencananya. “ Tidak, hanya ingin istirahat”, demikian beliau menjawab. Jam 16 hari yang sama, telepon dari teman yang tadi pagi berkunjung bersama , mengabarkan bahwa “ustadzah” telah dipanggil oleh Allah swt., sekitar jam 15.30 tadi. Begitulah, takdir Allah menentukan, beliau benar-benar istirahat untuk selamanya, tinggal memetik hasil dari amal-amal shalih yang dilakukan. Pertemuan berakhir dengan perpisahan, dalam waktu yang relatif singkat dan tak terduga. Allahumagfirlaha……..

Bertemu Ramadhan kali ini, adalah kesyukuran yang besar. Ada harapan besar, satu sisi ada kekhawatiran, agar ‘dia’ tidak segera pergi, sebagaimana perginya ustadzah kami yang mendadak dan mengejutkan. Harapan agar bisa bertadarus Al-Qur’an bersama, sebagaimana Rasul yang mulia bertadarus bersama malaikat Jibril. Harapan untuk bisa fastabiqul khairat bersama anak –anak dan suami, untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sekian kali. Juga berlomba dengan teman demi mengharap keutamaan dari-Nya. Harapan untuk bisa berkumpul bersama tetangga dan kerabat dalam tiap rakaat shalat tarawih di sepanjang malam Ramadhan. Harapan untuk bisa setiap hari berbagi makanan pembuka kepada tetangga, teman atau siapa pun, karena mengharap janji-Nya bahwa pahala puasa mereka juga kita dapatkan tanpa mengurangi pahala mereka. Harapan untuk bisa munajat setiap malam menjelang saat-saat sahur bersama keluarga. Harapan untuk bisa berbagi kepada masyarakat luas dengan berbagai kegiatan sosial dan bazar Ramadhan. Harapan untuk bisa kembali melihat senyum ceria dan penuh harapan dari para dhuafa, saat mereka mendapatkan bagian zakat yang kami salurkan mewakili lembaga. Harapan untuk bisa mengisi sepuluh hari terakhir dengan i’tikaf bersama keluarga di masjid. Dan…… harapan pada-Mu Rabbi, karuniakan kami kenikmatan untuk mengunjungi rumah-Mu (baitullah) di tanah Haram, pada akhir bulan Ramadhan. Harapan pada-Mu duhai Rabb, agar hadir kembali kemenangan-kemenangan di bulan Ramadhan, seperti dulu Engkau telah menghadirkan kemenangan perang Badar, kemenangan fathu Mekkah, penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad al-fatih, dan juga kemenangan proklamasi kemerdekaan negeri ini.

Rangkaian harapan yang terus terukir dan atas pertolongan Allah semata, harapan2 itu akan terus terealisir, secara bertahap. Meski tak bisa dipungkiri, kadang berjalan pelan. Jika ini yang terjadi, segera ingat pesan Rasul mulia, “ man bathi’a amalahu lam yusri’ nasabahu” “Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat nasabnya”. Bagi teman-teman yang terpaksa tidak bisa menjalankan ibadah “mahdhah” dengan shaum atau tilawah Al-Qur’an karena kendala fitrah dan takdir yang tak dapat terelakkan sebagai seorang muslimah, atau karena ditakdirkan sakit, jangan pernah bersedih. Karena hakikatnya, seluruh ketaatan, sekecil apapun, meski bentuknya tidak selalu ibadah mahdhah, sepanjang dilakukan dengan kesadaran dan berharap ridha-Nya, pasti akan menghadirkan tambahan keimanan dan menjadi suplai energi ruhiah yang baik. Bukankah Rasul saw telah bersabda: “ Al iimaanu yaziidu wayankusu, yaziidu bi thaat wayankusu bil ma’shiyat. “. Iman itu naik turun, akan naik dengan ketaatan, dan turun dengan melakukan kemaksiatan”

Di atas semua harapan-harapan tadi, tentu doa kita bersama, Allah akan ampunkan dosa-dosa kita, sehingga menjadi pemenang di Bulan Ramadhan, dengan membawa piala “TAQWA”. Duhai Ramadhanku, janganlah cepat berlalu, agar hamba yang dhaif ini, masih memiliki kesempatan untuk mengukir amal-amal demi menggapai MUTTAQIEN……

Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu annie ya Kariim. Wallahu a’lam

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Organization