Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan: Peningkatan Ketaqwaan Individu dan Masyarakat untuk Persatuan Umat

Ramadhan: Peningkatan Ketaqwaan Individu dan Masyarakat untuk Persatuan Umat

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2: 183)

sumber gambar dari google.comdakwatuna.com – 

Salah satu rukun Islam yang lima, yang menjadi pilar agama ini dan wajib dilaksanakan adalah puasa, dalam hal ini puasa Ramadhan. Dalam fiqh puasa disebutkan bahwa Puasa Ramadhan adalah kewajiban yang sakral dan ibadah Islam yang bersifat syiar yang besar. Seperti dalam firman Allah di atas, Puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghidupkan hati nurani, menguatkan iman, dan mempersiapkan seseorang menjadi manusia bertaqwa. Oleh karena itu orang yang berpuasa harus membersihkan puasanya dari hal-hal yang mengotorinya, atau bahkan menghancurkanya. Orang yang puasa hendaknya membentengi dan memerisai diri dari perilaku dosa, kemaksiatan, dan dari azab Allah Swt di akhirat kelak. Berkatalah salah seorang ulama salaf, “Puasa yang diterima adalah puasanya anggota tubuh dari maksiat, puasanya perut, dan kelamin dari syahwat.” Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata palsu dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya. (HR. Bukhari)

hal ini tentu berkaitan dengan niat, jika puasanya hanya untuk Allah semata, maka dia akan dengan ringan menjauhi dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sebagian orang terkadang menahan diri dari kegiatan makan dan minum dari fajar hingga Maghrib, bahkan lebih dari itu, akan tetapi dilakukan untuk tujuan olah raga, mengurangi berat badan, atau semisalnya. Jika tujuannya hanya itu, maka hanya rasa lapar dan dahaga lah yang akan ia dapatkan. Sebagaimana dikuatkan dengan sabda Rasulullah Saw. Berikut,

Betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar. (HR. Nasa’I dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Untuk itu, niat , doa, dan tekad yang kuat sangatlah penting untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Dalam fiqih puasa karya Yusuf Qardawi, yang dimaksud niat di sini adalah, berniat melaksanakan ibadah demi melaksanakan perintah Allah dan taqarrub kepada-Nya. Allah Swt. berfirman,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, (Qs. al-Bayyinah:5)

Namun faktanya yang banyak terjadi hari ini adalah bahwa masyarakat Indonesia khususnya belum menjalankan ibadah puasa dengan kepahaman dan keimanan, masih sebatas kebiasaan atau rutinitas tahunan, dimana saat bulan Ramadhan orang beramai-ramai menutup aurat, fenomena para artis yang mendadak taubat di bulan Ramadhan ini begitu banyak, mendadak alim, mendadak para musisi menerbitkan album religi di bulan Ramadhan, dan serba mendadak lainnya. Apakah ini semua hanya bisa terjadi di bulan Ramadhan saja? Lalu ke mana sebelas bulan ke depan? Akan seperti apa? Akan sampaikah pada kita derajat taqwa itu setelah selesai bulan Ramadhan, jika kita hanya berbuat baik di bulan Ramadhan saja? Mengapa bulan yang agung ini dinilai begitu remeh?

Hal ini terjadi karena pertama, belum adanya keimanan dan pemahaman yang mendalam tentang Ramadhan. Ramadhan terus berlalu dari tahun ke tahun, tapi perubahan di masyarakat belum begitu terlihat. harusnya puasa pada bulan Ramadhan secara khusus merupakan kesempatan untuk menyucikan dosa-dosa selama sebelas bulan sebelumnya. Barangsiapa berpuasa dengan penuh iman dan mengharap pahala Allah, maka ia berhak untuk keluar dari bulan puasa itu dalam keadaan diampuni dan suci dari dosa, khususnya dosa-dosa kecil yang biasa dilakukan pada pagi, sore, dan malamnya, yang terkadang tidak disadari oleh pelakunya, dan ia tidaklah tahu bahwa jika dosa-dosa itu membinasakan pelakunya. Rasulullah Saw. Bersabda,

Shalat lima waktu, jumat ke jumat, Ramadhan ke Ramadhan, adalah penghapus dosa di antaranya, jika dosa-dosa besar dijauhi. (HR. Muslim)

Kedua, pemaknaan Ramadhan didasarkan atas cara pandang pemikiran sekuler. Sehingga anggapan melakukan ketaatan kepada Allah itu hanya pada bulan Ramadhan saja. Padahal telah jelas dalam firman-Nya pada Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183 bahwa Allah mewajibkan kita berpuasa (Ramadhan) agar kita menjadi orang yang bertaqwa (setelah selesai dari Ramadhan), bukan “hanya” di bulan Ramadhan. Justru keberhasilan Ramadhan itu dilihat aplikasinya dari sebelas bulan ke depan apakah kita akan tetap istiqamah untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ketiga, sistem yang tidak mengatur. Berbicara tentang sistem tentu kita melihat pada lingkup sosial, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. sistem Negara kita yang masih sekuler, tidak diatur dengan sistem islami yang salah satu akibatnya seperti fenomena Ramadhan ini dimana ketaatan kepada Allah hanya berlaku di bulan Ramadhan, karena memang sebelas bulan lainnya tidak diatur dengan sistem Islam. Seharusnya taqwa itu dilakukan setiap saat, kapan pun dan dimana pun.

Keempat, krisis keteladanan. ini merupakan faktor penting yang ikut mempengaruhi perubahan masyarakat dalam tarbiyah di bulan Ramadhan. Di negeri kita ini sangat langka tokoh yang bisa dijadikan teladan, padahal unsur keteladanan ini harus dikedepankan dalam semua ranah. Khususnya dalam pendidikan di bulan Ramadhan ini, kebiasaan masyarakat sekitar yang menjadikan Ramadhan hanya sebatas musiman saja tentu ada pengaruh dari tokoh atau pimpinan masyarakat sekitar yang mencontohkan hal tersebut, masjid ramai untuk shalat berjamaah saat Ramadhan, setelah habis Ramadhan kembali lagi pada habitat semula. Jika semua ini ada yang mengarahkan, membimbing, memahamkan, dan ada yang menjadi teladan untuk bisa diikuti oleh masyarakat sekitar, yang tidak hanya ketaqwaan secara individu tapi juga ketaqwaan sosial, maka anggapan Ramadhan yang hanya “musiman dan kebiasaan” bisa dihilangkan secara bertahap. Jika dalam shalat saja kita bisa patuh pada pimpinan (Imam), harusnya di luar shalat pun kita bisa mengaplikasikan ketaatan itu. Bukan malah kembali pada kemaksiatan, jika begitu di mana gelar taqwa itu?

Dari realitas individu dan masyarakat di atas, kalau kita mau merenungkan dan berpikir secara mendalam bahwa banyak pembelajaran yang bisa diambil dari bulan Ramadhan. Dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183, Allah menginginkan hamba-Nya secara individu agar meraih kemenangan Ramadhan dengan gelar taqwa. Namun apakah taqwa yang kita dapatkan hanya untuk diri kita sendiri? Lalu dimana kebermanfaatan kita untuk umat? Taqwa di sini juga harus taqwa dalam lingkup sosial dimana kesalehan pribadi kita harus bisa kita wujudkan dalam amal kolektif kita sehingga menjadi shalih sosial. Hal ini diperintahkan dalam firman Allah yang merupakan kelanjutan dari Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183,

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri´tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa. (Qs. Al Baqarah : 187)

Dalam ayat di atas bagian terakhir jelas bahwa Allah menginginkan “supaya mereka bertaqwa”. Kata “mereka” di sini berarti tidak satu individu manusia, tapi banyak, yaitu bagaimana masyarakat mewujudkan ketakwaan pribadi-pribadi mereka dalam bentuk amal kolektif.

Dari penjelasan di atas, jelas solusinya bahwa kita harus mewujudkan ketaqwaan itu dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, hingga sistem islami bisa kita terapkan di muka bumi ini. Mewujudkan ketaqwaan itu bisa dilakukan dengan proses bertahap tentunya, tidak bisa instan. Untuk itu, di bulan Ramadhan ini adalah moment yang tepat untuk kita jadikan titik tolak pembinaan (tarbiyah) dan pembiasaan individu dan masyarakat. Individu itu di  gembleng selama Ramadhan dengan harus menaati semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga terbentuk pemahaman dan keimanan yang mendalam, untuk kemudian menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Dari situ kita ambil pelajaran bahwa ada hubungan vertical yang special antara hamba dan Tuhan-Nya di bulan Ramadhan. Selain hubungan vertical, Allah juga memerintahkan kita untuk baik dalam hubungan horizontal nya yaitu dengan sesama manusia. Habluminallah dan habluminannas semuanya harus bagus. sebelas bulan kedepan nya kita bisa tetap istiqamah dengan pembinaan seperti di bulan Ramadhan. Sampai Ramadhan berikutnya dengan pemahaman, kita jadikan sebagai bulan peningkatan dan pembelajaran (peningkatan nilai iman dan ruhiyah). Dari individu yang bertaqwa itu bisa menjadi pembenahan keteladanan untuk lingkup sosial dan bersama-sama dalam amal kolektif dan harapan untuk menjadi orang-orang (masyarakat) yang bertaqwa itu tidaklah sulit. Wallahu’alam bishawab. (sbb/dkw)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Belanja Bareng Yatim, Salah satu program IZI di Ramadhan. (nana/IZI)

Program Ramadhan IZI Sasar Penerima Manfaat dari Aceh Hingga Papua