Home / Berita / Opini / Demokrasi Transisi

Demokrasi Transisi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

demokrasidakwatuna.com Dewasa ini, kita melihat perlawanan rakyat atas suara mereka yang disalah gunakan oleh penguasa. Kita sebut saja, Indonesia, Tunisia, Mesir, dst. Demokrasi yang notabenya baru benar-benar muncul hasil dari perjuangan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Telah menemukan titik jenuh. Titik jenuh akan ketidakpastian keadaan, ketidakadilan hukum, kemandulan ekonomi, dan kemacetan moral yang melanda santero negeri.

Sebenarnya apa itu demokrasi ?

Mari kita flashback bentuk demokrasi yang ada selama ini, pertama adalah Demokrasi Langsung yaitu suatu sistem dimana rakyat ikut ambil bagian langsung dalam penentuan kebijakan politik. Kita ambil contoh di Mesir, saat Presiden Mursi membuat UU baru, dan rakyat diberikan hak untuk menentukan konstitusi mana yang sesuai. Kita tahu sendiri hasilnya seperti apa. kedua, Demokrasi Perwakilan, sistem inilah yang negara kita anut. Dimana rakyat memiliki kedaulatan pemilihan akan tetapi kebijakan diwakili oleh seseorang yang dianggap mewakili rakyat, “Wakil Rakyat.”

Pemisahan 3 lembaga, Eksektif, Legislatif, dan Yudikatif dalam pemerintahan demokrasi diharapkan mampu menciptakan mekanisme Check and Balance supaya setiap kebijakan pemerintah dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan amanat konstitusi. Akan tetapi, teori tetap teori. Keberjalanan sebuah tatanan demokrasi banyak diciderai oleh kepentingan kekuasaan dan ekonomi.

Coba kita tengok pasca terjadi Perang Dunia I pada tahun 1920-an gelombang demokrasi tidak bisa dibendung, akan tetapi hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencengkram kekuasaannya disebuah negara, maka tak heran jika muncul berbagai pemimpin yang diktator di Negara Asia dan Amerika Latin.

Lalu kapan Demokrasi ini menemukan titik sempurna ?

Dalam buku “Demokrasi, Transisi, dan Korupsi”, Fahri Hamzah menerangkan bahwa sebelum memasuki era kesempurnaan sistem demokrasi, maka sebuah institusi pemerintahan harus melewati fase Korupsi, berlanjut ke Transisi dan jika berhasil berdirilah negara Demokrasi. Jadi bisa saya simpulkan bahwa kita memasuki fase transisi, karena pada fase ini, sebuah institusi pemberantasan korupsi dilahirkan. Terlepas dari baik dan buruknya kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi.

Melihat tatanan demokrasi di negara asia, berat sekali jika kita mendambakan sebuah Negara yang benar-benar Demokrasi, karena prinsip demokrasi dimana Kekuasaan dipegang oleh mayoritas suara warganya disalah gunakan. Bahkan dilecehkan dengan Kudeta Militer yang dewasa ini terjadi di Mesir.

Tidak heran dalam Demokrasi muncul kekuatan-kekuatan penunjang kekuasaan, Negara dengan Militernya, Liberal dengan Medianya, dan Islam dengan Ikhwanul Musliminnya. Liberal yang digalangi AS beserta kroni-kroninya, Ikhwanul Muslimin yang ditakuti oleh Pimpinan Negara Timur Tengah karena dapat mengusik “kebahagiaan mereka”.

Baik buruknya sebuah sistem tergantung dari pemimpinnya, jika pemimpinnya serakah maka jangan harap keberkahan singgah di Negerinya, berbanding terbalik jika pemimpinnya amanah, kebahagiaan akan singgah. Maka tak heran jika Rasulullah Saw pernah bersabda dalam hadistnya,”Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [HR. AL-Bukhari; Ahmad; dan Al Hakim] Korelasi dari Akhlaq ini akan berdampak pada lingkungan kita sebagai manusia, sekali lagi Al-Qur’an menunjukan betapa akhlaq Qur’ani yang dicontohkan Nabi dalam Hadistnya telah menuai keberkahan bagi Sentero jagat.

Mengutip kata Buya Hamka,”Islam beribadah akan dibiarkan, Islam Berekonomi akan diawasi, dan Islam Berpolitik akan dicabut sampai keakar-akarnya.

Perjuangan mewarnai negeri, menjadi sepenggal firdaus-Nya masih panjang kawan. (F4)

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agus Subkhi Hermawan
Hamba Allah yang meniti kenikmatan hikmah dan hidayah-Nya || Cukup Allah dan Rasul-Nya yang menjadi tujuan hidup. || KAMMI Teknik UNDIP
  • nana suryana

    Laksanakanlah Islam secara Kaaffah.

    Kaaffah dalam Islam hanyalah dengan

    Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah.

    Jama’ah Muslimin atau Hizbullah adalah panggilan bagi orang-2 yang melakukan Al-Quran dan Sunnah Rosulullah

    Lawan dari sebutan Jama’ah Muslimin atau Hizbullah

    adalah Jama’ah Kafirin atau Hizbusy-syaithon

    Berpegang teguhlah pada Islam dengan berjama’ah

    dan janganlah berpecah belah didalamnya

    Rosulullah ditawari oleh kru-krunya Abu Jahal dengan tiga tawaran ( Harta, Tahta, dan Wanita). Beliau menolaknya

    Mengapa kita memperebutkannya dengan alasan da’wah

    Bertafaruq / berfirqoh-firqoh / ashobiyah golongan dalam melaksanakan Islam adalah musyrik

    Khilafah tegak sejak Nabi Adam dengan berjama’ah, maka kelompok mereka disebut Jama’ah Muslimin

    Nabi Muhammad dan Shahabatnya adalah Jama’ah Muslimin, dan Abu Jahal CS adalah Jama’ah Musyrikin

    Bai’at (ikatan) adalah syari’at Islam, muslimin tanpa bai’at adalah liar seperti domba yang tidak di ikat

    Kita harus mewujudkan kehidupan Jama’ah Muslimin, dengan meninggalkan jama’ah2 bagian muslimin

    Segala yang baru dari syari’at Islam adalah bid’ah dan akan berahir di Neraka

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia