Home / Pemuda / Kisah / Dinikahi Karena Sesuatu

Dinikahi Karena Sesuatu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Nikah1dakwatuna.com Mempunyai ‘partner hidup’ mungkin ada dalam target list kehidupan ikhwahfillah.  Selain penyempurna sebagian agama, menikah merupakan ladang amal untuk memanen pahala-Nya, jika dikelola dengan baik.

Sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian besar) yang Alloh istilahkan mengenai pernikahan, partner hidup yang dipilih sejatinya memenuhi kriteria yang baik. Baik dalam segi fisik, baik dalam segi akademik, baik dalam segi finansial dan masih banyak baik – baik yang lainnya.

Alloh tidak melarang hamba-Nya untuk menikahi seseorang yang cantik/ tampan, kaya dll. Tidak sama sekali. Bahkan hal tersebut dianjurkan. Hal ini mengingat fitrah seorang manusia yang sering kali menilai orang pertama kali melalui zhahirnya. Alloh sangat mengerti ciptaanNya, Alloh sangat memahami sifat manusiawi hambaNya, meskipun pada akhirnya yang paling dianjurkan adalah agamanya.

Jika seseorang dinikahi karena sekuens kriteria partner hidup yang dia buat laiknya manusia pada umumnya 1. Good looking, 2. Sholeh/ah, 3. Mapan dll, maka hal ini biasa dan sangat wajar. Namun, banyak orang ingin menjadi ‘luar biasa!’ tapi sedikit orang melakukan hal yang ‘luar biasa!’. Banyak diantara kita, siap bahkan sangat siap menerima kelebihan calon partner hidupnya. Tapi, pernahkah kita terpikir untuk menyiapkan diri menerima kekurangan dan kelemahannya? Atau membuat sekuens kriteria partner hidup berdasarkan kekurangan dan kelemahannya, sehingga kehadiran kita menjadi penyempurna dalam hidupnya?

Alhamdulillah, dewasa ini masih ada teladan yang Alloh pentaskan untuk menjadi bahan renungan kita semua. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata seorang ikhwan yang diceritakan oleh murobiah ana. Kisah seorang ikhwan yang menyiapkan diri untuk kelemahan dan kekurangan partner hidupnya.

Sebut saja Ukh Sarah. Mahasiswa jurusan kimia semester enam yang tengah berkuliah di salah satu universitas di Indonesia ini, seringkali absen tidak masuk dalam setiap mata kuliah. Bukan karena malas – malasan atau bolos kuliah untuk mengejar target nongkrong di mall. Tapi, kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk memaksakan diri dalam mengikuti setiap mata kuliah.

Meski sering sakit – sakitan, bukan berarti penyakitan. Aktivitas Sarah di kampus begitu padat, belum lagi amanah dakwah yang harus di embannya. Selain itu, Sarah harus rajin mencari usaha di sela kesibukannya di kampus untuk memenuhi biaya kuliah.

Tidak ada satupun yang menginginkan sakit saat amanah – amanah meminta untuk dipenuhi. Hal ini menjadi perhatian Al – akh Hendra yang pada saat itu adalah adik tingkat Sarah. Melihat kondisi Sarah, Hendra bertekad untuk menolong Sarah. Bukan berusaha mencari dokter yang tepat untuk menyembuhkan Sarah dari sakitnya. Akan tetapi Hendra memberanikan diri untuk menjadikan Sarah, kakak tingkatnya sebagai pendamping hidup.

Mungkin orang lain akan memberikan pilihan biasa untuk menolong Sarah. Tapi Hendra memberikan pilihan ‘luar biasa!’ untuk menolongnya. Dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan, Hendra bukanlah ikhwan mapan atau punya harta sepetak sawah dari orang tuanya. Tapi Hendra punya keyakinan untuk menolong Sarah, dengan modal itulah Hendra mengorbankan kuliahnya untuk membiayai kuliah Sarah hingga tuntas, sehingga Sarah tidak perlu lagi mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya.

Hendra tidak bergantung pada orang tuanya, dengan tinggal di kontrakan sederhana, dan Hendra berusaha untuk menjaga Sarah agar tidak terlalu capek dalam beraktivitas agar kuliah Sarah tetap berjalan lancar. Setelah menikah, Sarah tidak lagi sakit – sakitan seperti dulu, wajahnya selalu cerah ceria ketika memasuki gerbang kampus. Tak ada lagi gurat sedih dan lelah di wajahnya. Kini Sarah menapaki kehidupannya yang baru dengan semangat. Tak ada sedikitpun rasa sesal di hati Hendra. Hanya ada perasaan bahagia yang membuncah setelah mengambil keputusan itu.

Ana pikir, ikhwahfillah yang membaca sepenggal kisah ini berpikiran bahwa meskipun Sarah memiliki kelemahan – kelemahan seperti sakit dan kekurangan biaya kuliah pasti Sarah adalah seorang akhwat yang cantik jelita, primadona kampus dsb sehingga Hendra berani mengambil keputusan tersebut. Tapi ketahuilah ikhwahfillah, keikhlasan Hendra untuk menolong Sarah dengan jalan yang dihalalkan Alloh terlihat dari kenyataan bahwa Sarah adalah sosok akhwat yang sederhana dikatakan kurang cantik tidak, dikatakan sangat cantik pula tidak. Sarah memiliki rupa yang sederhana, namun semangatnya untuk menuntut ilmu tidak diragukan.

Sikap Hendra memang langka terjadi. Dan biasanya yang langka itulah yang banyak dicari. Inilah sosok ikhwan yang menikahi akhwat bukan dari rupanya, bukan dari fisiknya bukan pula dari hartanya, tapi dari kekurangannya. Dia berusaha menyempurnakannya, melengkapi perangkat yang sebenarnya sudah sangat baik. Dengan keikhlasan, kesempurnaan itu beriring menutupi kekurangan yang ada. Karena sempurna itu, bahagia dalam kesyukuran. Wallohu Alam.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Runni Nurul Inayah
Alumni UPI Purwakarta jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Purwakarta.

Lihat Juga

Jusuf Kalla Minta Waktu 2 Pekan Selesaikan Kasus Penistaan Agama yang Dilakukan Ahok