Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Ibnu Khaldun, Sang Sejarawan Multidisipliner

Ibnu Khaldun, Sang Sejarawan Multidisipliner

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ibnJudul Buku: Biografi Ibnu Khaldun: Kehidupan dan Karya Bapak Sosiologi Dunia

Penulis: Muhammad Abdullah Enan

Penerbit: Zaman

Cetakan: 1, 2013

Tebal: 224 halaman

ISBN: 978-979-024-341-5

dakwatuna.com Di tengah stagnasi perkembangan ilmu pengetahuan, umat Muslim dituntut keluar dari skeptisme perkembangan sejarah. Historisitas menjadi aspek penting untuk mendongkrak semangat perbaikan mutu peradaban. Sebuah ideologi mutlak diperlukan sebagai pijakan membangun kembali peradaban masa silam. Berpijak dari sinilah kajian terhadap biografi tokoh-tokoh tersohor menempati posisi yang krusial untuk ditelaah.

Kajian biografi seorang sejarawan yang satu ini selalu menarik untuk disimak. Karya-karya pemikiran islam dari Ibnu khaldun terhitung unik. Lebih dari enam abad yang lalu, pemikirannya telah lahir dan semangat modernitasnya senantiasa relevan di masa sekarang

Kajian terhadap Muqaddimah yang menjadi masterpiece-nya telah menuai kritik oleh Barat namun tidak sepenuhnya dipahami di Timur. Walaupun demikian, karyanya tersebut merupakan warisan intelektual yang tak terkira. Semangat orisinalitas yang terdapat dalam karya-karyanya patut dicontoh para pewaris peradaban bangsa, khususnya pemuda Muslim. Tidak sekadar mengaggumi pemikiran dan penelitiannya, melainkan menelaah pelbagai metode penyampaian teori-teorinya yang selalu faktual.

Abdullah Enan menceritakan perikehidupan sang Sejarawan dengan apik. Dimulai dari Ibnu Khaldun muda yang terlahir di Tunisia, Abdullah Enan secara ringkas merangkainya dengan berbagai fase kehidupan sang Sejarawan. Ibnu Khaldun adalah ulama nomadik. Dari buku ini dijabarkan kehidupan Ibnu Khaldun ketika di Afrika Utara dan Andalusia sebelum akhirnya menetap di Mesir.

Di Afrika Utara, kehidupan Ibnu Khaldun banyak didedikasikan dalam ranah politik. Fase kehidupan ini adalah yang penuh dengan berbagai goncangan, karena ia melalui padang petualangan sarat risiko dan intrik. Jabatan politik untuk meraih pengaruh dan kekuasaan tak lepas dari pasang-surut. Di sini ia habiskan selama seperempat abad hidupnya (hlm. 110).

Jiwa nomadisnya yang yang kuat dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, terlihat dari kehidupannya di Mesir. Di pusat peradaban Islam kala itu, Ibnu Khaldun menanggalkan pakaian petualangan politiknya untuk kemudian mengenakan jubah ulama besar. Di sinilah banyak ditulis karya-karya sang Sejarawan yang penuh dengan prinsip-prinsip sosial.

Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah yang merupakan karya sejarahnya sebagai penjelasan pendahuluan bagaimana seharusnya membaca dan memahami sejarah. Sejarah bukan sekadar sejarah, “ia” adalah ilmu yang tidak sekadar cerita. Dengan metode dan penalaran baru, Ibnu Khaldun mencetuskan sejenis filsafat sosial. Sehingga tak elak kalau Ibnu Khaldun disebut sebagai bapak Sosiologi Dunia. Sebagai tamsil, sejarah tentang masyarakat juga mengkaji kondisi dan ciri-ciri masyarakat, unsur pembentuknya, peranan, cara kehidupan, hingga cara mendapatkan ilmu pengetahuannya.

Terkait penelitian Barat terhadap Ibnu Khaldun, dan penghargaan, analisis serta perbandingannya tentang pemikiran dan teori-teorinya, Abdullah Enan menyediakan satu bab khusus mengulas secara lengkap semua penelitian yang pernah ditulis tentang Ibnu Khaldun.

Pertengahan abad ke-19, para pemikir Barat mulai mengkaji Ibnu Khaldun dan teori-teori sosialnya dengan serius. Salah satu kesimpulan menunjukkan bahwa warisan Ibnu Khaldun merupakan penemuan ilmiah. Para pemikir Barat menemukan banyak teori filsafat, sosial, dan ekonomi dalam warisan pemikir Muslim tersebut. Teori-teori Machiavelli, Vico, Montesquieu, Adam Smith dan August Comte sudah ditemukan dan dipelajari oleh Ibnu Khaldun (hlm. 177)

Dengan ditopang literatur yang kuat, buku setebal 224 halaman ini menghadirkan kehidupan Ibnu Khaldun yang bersahaja dan apa adanya. Buku ini menjadi bukti bahwa Ibnu Khaldun adalah ‘penggila’ ilmu pengetahuan, dan dia tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Dia adalah seorang peneliti dan penulis produktif pada saat dunia Islam memulai kemundurannya. Ketertarikannya pada ilmu pengetahuan tak terbatas pada satu bidang. Dia adalah seorang ulama multidipliner yang mengaugerahkan banyak warisan intelektual.

Buku ini mengulas semua bentuk kajian terhadap Ibnu Khaldun. Penulis juga memberika catatan bibliografik tentang Kitab  al-Ibrar. Walhasil, buku ini mampu menyadarkan semua orang, khususnya Muslim untuk menndapatkan dorongan membaca, memahami, dan menuai manfaat dari warisan intelektual Ibnu Khaldun yang berharga. Selamat membaca!!

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kru LPM Zenith anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Sejumlah tokoh Sulawesi Selatan menggelar pertemuan pasca tragedi Tolikara, Rabu (22/7/15).  (almunawiy)

Pasca Tragedi Tolikara, Tokoh Masyarakat dan Ormas Islam Sulawesi Selatan Gelar Pertemuan