22:46 - Jumat, 18 April 2014

Empat Skenario Krisis Politik di Mesir

Rubrik: Analisa | Kontributor: dakwatun - 07/07/13 | 22:52 | 29 Shaban 1434 H

Presiden Pilihan Rakyat Mesir, Muh. Mursi (inet)

Presiden Pilihan Rakyat Mesir, Muh. Mursi (inet)

dakwatuna.com – Politik Mesir pasca revolusi memang penuh dengan tantangan. Rezim Mubarak yang 30 tahun berkuasa dengan berbagai kerusakan yang dibuatnya, telah membuat rakyat Mesir gamang dalam mengatur negara. Masing-masing pihak harus lebih berhati-hati, tujuannya satu; berhasil dalam pengalaman pertama berdemokrasi, dan Mesir tidak kembali kepada rejim diktator baru yang tidak jauh berbeda dengan rejim Mubarak.

Oleh karena itu tantangan pemerintahan Presiden Mursi tidaklah mudah. Mengembalikan ekonomi, membersihkan pejabat korup, menghadapi sisa rejim yang masih loyal dengan Mubarak dan ingin mengembalikan kekuasaan, tantangan dalam dan luar negeri karena Mesir memegang peranan penting di Timur Tengah apalagi jelas-jelas membawa bendera Islam, dan lainnya. Dan semua itu di bawah tekanan keinginan besar mayoritas rakyat yang sedang merasakan euforia kebebasan, yang tak jarang menuntut secara berlebih.

Oleh karena itu, Presiden Mursi dan awalnya tidak saja sibuk membereskan sisa kerusakan warisan Mubarak, tapi juga menghadapi rongrongan dalam negeri (rejim lama), pemimpin-pemimpin negara Arab yang masih ingin nyaman di kursinya, dan Israel. Semua itu memuncak awal bulan Juli ini dengan terjadinya kudeta militer.

Dalam lorong gelap politik ini, setidaknya ada 4 kemungkinan yang akan terjadi di Mesir:

Mursi Kembali Berkuasa

Ini adalah skenario yang paling ideal. Presiden Mursi kembali berkuasa sampai akhir masa jabatannya. Karena beliau dipilih melalui pemilu yang demokratis. Pemilu yang bersih, tidak ada manipulasi suara seperti yang biasa terjadi sebelumnya. Namun ada beberapa tindakan yang perlu diambil:

  1. Perlu ada reformasi besar-besaran pada lembaga-lembaga eksekutif. Sehingga performancenya perbaikan ekonomi memuaskan, dan stabilitas terkendali.
  2. Memilih para pejabat (penasihat, menteri, jaksa agung, dan sebagainya) dari kalangan yang mempunyai kompetensi, pengalaman, integritas, dan ketegasan. Sudah bukan waktunya lagi hanya mengandalkan integritas, karena akan menimbulkan kekacauan. Akan lebih sempurna lagi jika ada unsur partisipasi yang menyeluruh semua kekuatan politik.

Militer Berkuasa

Ini adalah skenario ideal kedua. Militer berkuasa pada masa transisi, tak lebih dari 2 tahun. Namun ada beberapa syarat:

  1. Skenario pertama benar-benar gagal.
  2. Ada gejala disintegrasi. Ada ancaman keamanan, baik dari dalam ataupun luar negeri.
  3. Militer intervensi ketika sipil gagal. Tidak boleh ada motivasi persaingan politik antara sipil dan militer. Memang militer adalah lembaga yang sangat solid, tapi mengatur negara bukalah perannya. Dan dalam tatanan demokrasi, yang mengatur negara adalah sipil, selain adanya pemilu yang bersih dan suksesi antar partai kuat.
  4. Militer harus lebih berkonsentrasi mengamankan negara, dan mengembangkan teknologi pertahanan sehingga tidak bergantung kepada asing.

Chaos

Ini adalah skenario yang sangat mengkhawatirkan, tapi sangat mungkin terjadi. Gejalanya adalah:

  1. Kondisi seperti saat ini tidak berubah, dengan solusi-solusi yang lemah, atau bahkan tidak ada solusi
  2. Performance pemerintah buruk
  3. Oposan dan kaum reformis disusupi preman, sehingga penyampaian aspirasi menjurus kepada anarkisme. Baik dengan penunggang gelap maupun tidak.
  4. Lepas kendali keamanan
  5. Demonstrasi mudah diklaim sebagai gerakan revolusi. Sehingga akan banyak terjadi revolusi.

Intervensi Asing

Lebih buruk dari skenario ketiga, karena ditambah dengan timbulnya gelombang fundamentalisme, pengkafiran, pembid’ah, disertai dengan kekerasan dengan nama kebenaran. Ini akan mudah timbul, karena berasal dari keikhlasan minus pemahaman yang benar dan moderat.

Dalam kondisi ini Amerika akan menemukan celah masuk. Seperti di Irak dan Afghanistan, dengan mengusung judul memerangi terorisme. Mesir tidak jauh kemungkinan dari hal ini, karena sangat dekat dengan Israel yang selalu meminta jaminan perlindungan dari Amerika. Sedangkan hal ini juga dulu sangat mudah mendapatkan keabsahannya, bahkan dari kalangan ulama.

Kalaupun tidak sampai kepada intervensi militer, bisa juga berbentuk kerja sama dan pemberian bantuan yang bersifat damai, seperti sudah mulai terlihat saat ini.

Redaktur: Samin

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
55 queries in 1,049 seconds.