16:29 - Senin, 15 September 2014

Erdogan: Kudeta di Mesir Musuh Demokrasi dan Tidak Dapat Ditoleransi!

Rubrik: Afrika, Asia, Eropa | Kontributor: dakwatuna.com - 06/07/13 | 19:39 | 28 Shaban 1434 H

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. (france24)

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. (france24)

dakwatuna.com – Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk kudeta militer yang menggulingkan Presiden Mesir Muhammad Mursi secara ilegal. Hal tersebut dikatakannya sebagai musuh demokrasi. Erdogan juga mengecam negara-negara barat yang malu-malu mengatakan bahwa tindakan militer di Mesir adalah sebuah kudeta.

Merujuk pada sejarah kudeta di negaranya, Erdogan memperingatkan bahwa tindakan pemberontakan militer seperti itu akan mendatangkan harga mahal dan tidak dapat ditoleransi.

“Tidak peduli di manapun mereka berada… Kudeta itu buruk!” tegas Erdogan dalam sebuah pidatonya di televisi. “Kudeta adalah jelas-jelas musuh demokrasi!”

Mereka yang menggunakan senjata di tangannya, mereka yang menggunakan kekuatan media tidak bisa membangun demokrasi… Demokrasi hanya bisa dibangun pada kotak suara”, lanjut Erdogan.

Erdogan juga mengecam negara-negara Barat yang malu-malu menyebutkan bahwa tindakan militer di Mesir sebagai sebuah kudeta. Selain itu dia menyambut baik keputusan Uni Afrika yang memutuskan hubungan dengan Mesir karena aksi kudeta militernya.

“Barat telah gagal uji kejujuran” kata Erdogan. “Jangan tersinggung, tetapi demokrasi tidak menerima standar ganda.”

Para penguasa berbagai negara mendesak Mesir untuk kembali ke demokrasi, tetapi seruan itu tidak diimbangi dengan kutukan terhadap tindakan kudeta terhadap presiden sah di Mesir.

Mengacu pada sejarah kudeta di Turki, Erdogan mengatakan negaranya berfungsi sebagai “referensi yang sangat penting” untuk Mesir tentang mengapa kudeta militer tidak bisa ditoleransi.

“Setiap kudeta militer, tanpa terkecuali, telah menyebabkan Turki kehilangan beberapa dekade”, ujar Erdogan.

“Setiap kudeta militer telah melumpuhkan ekonomi. Setiap kudeta militer telah menyebabkan negeri, bangsa, dan generasi muda harus membayarnya dengan mahal.”

Sejak memimpin Turki pada tahun 2002, pemerintahan Erdogan telah berusaha mengurangi kekuasaan militer, dan menahan beberapa perwira karena percobaan kudeta. (france24/hdn)

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (30 orang menilai, rata-rata: 9,77 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
95 queries in 1,426 seconds.