Home / Pemuda / Cerpen / Dia, Aku, Akal, dan Allah

Dia, Aku, Akal, dan Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Seperti biasa. Hari ini matahari terasa terik. Panas menyengat membebani. Peluh keringat membasahi sekujur tubuh. Maklum. Ruangan sidang tak seluas gedung aula utama dengan pendingin udara. Biasanya panitia wisuda tahunan memilih aula tersebut untuk melepas mahasiswa-mahasiswi dengan wajah sumringah. Lain halnya dengan ruangan sidang yang saat ini sedang menegang.

                Zulfa duduk termenung memikirkan jejak-jejak kehidupan yang telah  ia lewati. Cepat sekali rasanya 4 tahun terlewati. Dan sekarang ia duduk menunggu hasil sidang skripsi diumumkan. Ia sudah melewati 4 jam nonstop menghadapi dosen-dosen penguji.

Bukk.. Seseorang memukul pundaknya, “Assalamu’alaikum! Dari tadi melamun saja. Ada apa? Sidangmu sudah lewat, kan?”

“Iya, alhamdulillah. Jangan mengagetkan, dong. Aku tak bisa fokus.”

“Memang kamu sedang memikirkan apa, tho?

“Tak apa. Hal biasa.”

Hanin cemberut, teman Zulfa. Sedari tadi memerhatikan temannya. Berusaha bertanya namun tak digubris seperti yang diharapkan.

“Ya, sudah. Kalau tak mau cerita tak apa. Yowis, aku pulang dhisik ya?”

Zulfa mengangguk. Kemudian tersenyum. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan Hanin. Temannya itu merupakan seorang Jawa. Ia tak bisa melepaskan aksen Jawanya dengan serta merta. Tapi, hal itulah yang menjadikan Zulfa selalu dekat dengan Hanin.

Setiap hari mereka berdua tak pernah terlepas dari komunikasi. Walaupun hanya sekadar memberikan dan menerima sms. Mereka bagaikan bulan yang takkan pernah terpisah dari malam. Banyak sekali cerita yang menjadikan mereka berdua semakin dekat. Kedekatan mereka terjalin dari diskusi-diskusi ilmiah kecil-kecilan yang mereka buat sendiri.

***

Suatu ketika kedua sahabat itu sedang melepaskan lelah dari kepenatan aktifitas seharian. Mereka memutuskan untuk beristirahat di masjid Fakultas Kedokteran. Saat itu Hanin menemukan suatu keanehan dalam Al-Quran, “Hmm… Aku baru sadar. Ternyata kata dhomir nahnu’ atau ‘kami’ itu ditujukan kepada Allah, ya?” ia bertanya dengan wajah lugu yang tak pernah hilang.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanya Zulfa dengan penuh perhatian.

Sejak awal pertemanan mereka selalu dihiasi oleh pertanyaan dan pernyataan yang jarang disangka. Seringkali mereka berdebat mengenai banyak hal. Dan itu semua menjadikan mereka semakin dekat.

Ditatapnya mata Hanin dengan dengan seksama. Zulfa menerka temannya ini memiliki rasa keingintahuan yang tinggi mengenai Al Quran. Sejak masa-masa awal tahun kuliah, Hanin merupakan salah satu mahasiswa yang berbeda. Setiap sore ia selalu mendiamkan diri didalam masjid. Menekuri akal mencari makna Al Quran. Sejak Zulfa menceritakan perihal keutamaan penghafal Al Quran, ia menjadi semakin bersemangat untuk menghafal Al Quran. Terbukti di tengah kesibukan kuliah yang menumpuk, dalam waktu 1 tahun saja ia dapat menghafal 7 juz Al Quran. Mungkin ia termotivasi dengan Zulfa yang sudah sejak SMA telah hafal 30 juz Al Quran.

“Aku hanya ingin tahu saja. Bukankah Allah menciptakan akal untuk manusia sebagai media untuk berpikir?” jawaban penuh kebijaksanaan. Zulfa tercekat dengan pernyataan temannya. Pikirannya berkelabat akan suatu hal. Sampai ia tercenung agak lama. “Hey…. kenapa jadi melamun? Aku ini bertanya. Kok malah dicueki?”

Zulfa hanya bisa membalas dengan nyengir. Hehe..

“Mendengar pernyataanmu aku menjadi teringat suatu hal. Beberapa bulan lalu ada sebuah kajian tafsir di Masjid Kampus yang kuikuti. Saat itu pembicaranya adalah Ustadz Ahmad A. Fillah. Kau tahu apa yang beliau katakan didepan para pendengar?”

Hanin menggeleng. Bagaimana ia bisa tahu kalau dia sendiri saja tidak mengikuti kajian tafsir tersebut. Pertanyaan retoris. Ungkap Hanin dalam hati.

Zulfa dengan susah payah mengubah sikap duduknya menjadi semakin tegak. Layaknya seorang kakek yang akan memberikan petuah nasehat kepada cucunya. Mulaialah ia bercerita.

“Saat itu aku mengikuti sebuah kajian tafsir yang diadakan LDK Jama’ah Shalahuddin di Masjid Kampus. Kebetulan yang akan menjadi pembicara adalah Ustadz Ahmad A. Fillah. Sudah sejak lama aku ingin bertemu dengan beliau mendengarkan petuah nasihatnya yang tak pernah sampai di telinga secara langsung. Hanya melalui buku-buku beliau yang selalu menginspirasiku. Maka aku tak menyiakan kesempatan tersebut untuk mendapatkan tempat duduk terdepan.”

Suatu ketika, sebelum manusia diciptakan, Allah SWT mengadakan percakapan dengan para malaikat. Percakapan tersebut menuai banyak sekali makna. Tak terkecuali para malaikat itu sendiri. Saat itu Allah SWT berfirman didepan para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi!” dengan tegas Allah SWT menyatakan bahwa Ia akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Para malakaikat pun berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu?” Allah SWT pun menimpalinya dengan berfirman kepada mereka, “ Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”

Cerita diatas merupakan pemaknaan dari petikan ayat Al Quran Surah Al Baqarah ayat 30. Dalam ayat-ayat selanjutnya kemudian diterangkan mengenai kisah bagaimana pada akhirnya para malaikat memahami kenapa Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Jawabannya adalah karena manusia memiliki akal. Allah SWT memberikan karunia kepada kita semua sebagai makhluk yang memiliki akal. Ini terbukti ketika para malaikat diminta untuk menyebutkan nama-nama benda, mereka tidak bisa melaksanakan. Justru Nabi Adam as. dapat menyebutkan nama-nama benda yang diminta oleh Allah SWT.

Sebaliknya, Allah SWT tidak memberikan akal kepada para malaikat. Dia SWT menciptakan mereka hanya untuk tunduk dan patuh serta memuji-Nya. Ditambah dengan tugas-tugas mereka masing-masing. Sungguh, ini merupakan kejelasan bahwa Allah SWT memberikan akal kepada manusia sebagai perangkat utama menjadi khalifah di bumi.

Bagaimana kita memahami hal ini? Poin utamanya adalah bahwasanya manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan makhluk-Nya yang lain. Bahkan para malaikat dan iblis pun diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam as. Hal ini menjadi bukti mutlak bahwasanya akal yang dimiliki oleh manusia merupakan sesuatu yang bernilai tinggi. Sebagai bentuk kemulian manusia dibandingkan makhluk Allah yang lain.

Lalu, apa konsekuensinya? Tentu saja setiap kelebihan ataupun kelemahan yang didapat pasti memiliki konsekuensi atau tuntutan yang harus dijalani. Tuntutan yang harus dilaksanakan tak lain adalah kita sebagai manusia, apalagi kita sebagai seorang muslim, seyogyanya memanfaatkan akal yang telah dikaruniakan Alllah SWT dengan sebaik mungkin. Bagaimana caranya? Yaitu dengan beribadah kepada-Nya dengan sebaik mungkin dan mengayomi bumi sebagai ladang tempat kita beramal dalam dunia ini. Layaknya seorang yang akan mati di esok hari. Ia tak memikirkan hal selain kedua hal tersebut. Dekat dengan Allah secara ihsan dan juga menyayangi bumi dengan cara tidak melakukan kerusakan diatasnya. Beginilah Allah SWT Yang Maha Kuasa memberikan pengajarannya kepada manusia.

Hanin terdiam mendengarkan penjelasan sahabatnya. Diam tanda mengerti. Itulah yang dikatakan Hanin jika sahabatnya terlihat diam. Suatu retorika yang tidak mudah diterima secara langsung oleh Zulfa. Namun, itulah ciri khas yang dimiliki Hanin. Orang Jawa memang tidak pernah terlepas dari kesantunan. Zulfa sangat menyukai orang-orang Jawa seperti Hanin.

Zulfa masih memerhatikan Hanin yang terlihat berdiam diri. Ia sedang memikirkan sesuatu. Temannya ini memang ketika mencerna sesuatu yang menarik untuknya dapat dipastikan akan memakan banyak waktu menunggu. Membuat kesal setiap orang yang menunggu agar ia mulai berbicara.

“Berarti secara tidak langsung Allah SWT telah memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akal dengan sebaik-baiknya? Lalu, bagaimana batasan penggunaan akal agar tidak bertentangan dengan wahyu?” tiba-tiba saja Hanin berbicara setelah lama berdiam diri. Zulfa sedikit tersentak dengan pertanyaannya.

Zulfa kemudian mulai menerka apa maksud pertanyaan temannya ini. Ia ingin mengetahui lebih jelas dan dalam konsep mengenai penggunaan wahyu dan akal untuk mendapatkan hikmah. “Pertanyaanmu cerdas sekali, Hanin. Bagaimana ya? Sudah jelas kan wahyu harus didahului sebelum akal digunakan?”

“Iya, tapi mengapa Allah SWT dalam banyak hal di ayat-ayat Al Quran menjelaskan tentang akal yang dimiliki oleh manusia? Seperti kisah Nabi Ibrahim as. yang diberikan pengajaran oleh Allah SWT  ketika beliau bertanya bagaimana menghidupkan orang yang telah mati. Eemm… Itu di surat apa ya?”

“Juz 3 Surah Al Baqarah ayat 260.”

Hanin terlihat nyengir. Gigi-giginya yang putih terlihat berjejer rapi dan bersih.

“Iya, maaf aku lupa.”

“Temanku ini cerdas sekali ya. Tak apa. Setiap manusia tidak bisa mengingat semua hal yang harus ia ingat.” Zulfa tersenyum dengan manis. Senyuman yang memberikan ketentraman hati.

“Lalu, apa jawabanmu?”

“Hmm… pernyataanmu tadi justru sebenarnya menguatkan konsep penggunaan wahyu dan akal.”

“Menguatkan bagaimana?”

“Dalam surah Al Baqarah ayat 260 dikisahkan bahwasanya Nabi Ibrahim as. meminta kepada Allah SWT agar menunjukkannya bagaimana cara menghidupkan orang yang telah mati. Bukankah begitu?”

Hanin mengangguk.

“Dalam ayat tersebut diceritakan Nabi Ibrahim as. masih belum percaya akan hal tersebut. Beliau mengatakan agar ia mendapatkan ketenangan dalam hati. Dari sini kita mendapatkan hikmah bahwa semua ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT itu rasional dan sesuai logika sehingga dapat diterima oleh akal. Dan poin pentingnya adalah akal sangat berdekatan dengan hati.”

“Selanjutnya Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk mencincang empat ekor burung kemudian diletakkan masing-masing diatas bukit yang berbeda. Kemudian, Nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk memanggil keempat burung tersebut. Allah berfirman, ‘Panggillah mereka! Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera.’ Dari sini kita juga mendapatkan hikmah. Diawali oleh sebuah pertanyaan. Mengapa Nabi Ibrahim as. adem anyem saja menuruti semua proses yang diperintahkan oleh Allah SWT? Bukankah Allah SWT hanya tinggal mengatakan kun fayakun sehingga burung yang mati pun bisa langsung dihidupkan oleh Allah SWT?”

Zulfa memerhatikan reaksi Hanin. Apakah ia sejauh ini mengikuti? Ternyata sesuai dugaannya. Hanin masih terdiam memikirkan perkataan yang dilontarkannya. Zulfa memustukan untuk melanjutkan.

“Jawabannya adalah karena Allah SWT itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesuai akhir ayat surat tersebut. Ia SWT Maha Perkasa karena dapat menghidupkan yang telah mati dan Maha Bijaksana karena menghargai proses ilmiah. Proses yang harus dilakukan Nabi Ibrahim as. itu pada dasarnya ditujukan kepada ummat Islam yang memegang Al Quran sebagai pedoman hidup agar dalam berpikir harus menghargai proses ilmiah. Tidak bisa langsung jadi. Semuanya didasari oleh cara berpikir ilmiah.”

Zulfa kembali tersenyum . Dipandangnya wajah Hanin yang masih berpikir keras untuk mencerna setiap perkataannya. Pada akhirnya pun dapat dipastikan ia mengerti. Bahkan kembali bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu istimewa. Pertanyaan yang jarang sekali orang-orang memikirkannya.

“Oya, kembali ke pertanyaan awalmu. Hampir saja lupa.”

“Hmm.. Iya, ya. Diskusi kita sampai merembet kemana-mana. Hehe..”

“Tapi, tak apa. Pertanyaanmu memiliki irisan terkait dengan  hal yang baru saja kita bahas.”

Zulfa memperbaiki duduknya. Gamis dan jilbab lebar yang ia kenakan agak sedikit merepotkan. Namun, itu tidak menghalanginya untuk menjaga diri. Begitu pun dengan Hanin. Mereka berdua merupakan mahasiswi yang tetap konsisten menjaga kepribadian mereka sebagai seorang muslimah yang taat. Mereka biasa disebut dengan akhwat.

“Jadi, apa tanggapanmu mengenai kata ganti ‘dhomir’ Allah yang menggunakan ‘kami’ didalam Al Quran?”

Hanin kembali menitikberatkan fokusnya pada kata-kata yang terucap dari mulut Zulfa. Ia tak sabar ingin mengetahui pendapat sahabatnya itu. Ia telah siap untuk mendengarkan.

“Mengenai pertanyaanmu sebenarnya mufassirin atau para ahli tafsir sudah memberikan penjelasan. Mereka menyatakan bahwa dhomir nahnu’ atau ‘kami’ yang ditujukan kepada Allah merupakan suatu keniscayaan. Allah memiliki tujuan sendiri mengenai hal ini.”

Hanin menyimak penjelasan Zulfa dengan seksama.

“Namun, mufassirin akhirnya bersepakat bahwasanya itu disebabkan ayat yang memiliki dhomir nahnu’ itu mengandung makna tersirat tentang suatu proses. Dan proses itu secara tidak langsung melalui beberapa tahap yang dilakukan tanpa campur tangan Allah SWT.”

“Ini tidak berarti Allah SWT tidak mampu melakukannya. Melainkan untuk menunjukkan bahwasanya proses ilmiah yang rasional telah terjadi dalam proses tersebut. Contohnya saja mengenai penciptaan manusia yang dijelaskan dalam surah Al Mu’minun ayat 12 sampai 14. Ayat-ayat tersebut menjelaskan perkembangan calom bayi dari zigot menjadi embrio yang pada akhirnya berkembang menjadi janin yang telah ditiupkan ruh pada bulan ke-4 pada rahim seorang ibu.”

Hanin kemudian terdiam. Zulfa masih bersemangat menjelaskan.

“Dalam hadits Arba’in pun juga dijelaskan,kan?”

Hanin hanya mengangguk.

Ia terlihat berpikir keras. Kemudian secara tiba-tiba ia bertanya.

“Kalau begitu terkesan Allah SWT tidak konsisten dalam penggunaan bahasa Al Quran. Bukankah begitu, Zul?”

Zulfa tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya. Pertanyaanmu-pertanyaanmu selalu istemewa, Hanin.

Kamu  lupa ya kalau bahasa Al Quran menggunakan bahasa Arab?”

“Eh..Emm.. Tidak. Tentu saja aku tahu. Dari kecil aku sudah belajar Iqro untuk bisa membaca Al Quran. Memang ada hubungan terkait?”

Selalu saja polos.

“Nin, bahasa Arab itu mulia. Sampai Allah menjadikannya sebagai bahasa pengantar dalam kitab suci terakhir agama-agama samawi. Dan kita mendapatkan tempat kemuliaan tertinggi sebagai ummat Nabi Muhammad saw. untuk menjaga isi Al Quran dengan sebaik mungkin. Bukankah dengan begitu kita bisa menarik kesimpulan bahwasanya bahasa Arab memiliki sesuatu yang menarik?”

“Ya, lalu?”

“Nah, sesuatu yang menarik itu adalah ilmu balaghah. Ilmu yang mempelajari keindahan struktur bahasa Arab. Dulu, para penyair Arab sangat mumpuni dalam ilmu ini sebagai ilmu dasar yang harus dikuasai untuk membuat sebuah syair. “

“Nah, hubungannya dengan Al Quran?”

“Inilah poinnya. Bahasa Al Quran pun tidak menyampingkan penggunaan keindahan bahasa. Bahkan bahasa Al Quran merupakan bahasa terindah dibandingkan kitab-kitab suci agama selain Islam. Saat ini pun banyak terapi dilakukan dengan menggunakan Al Quran sebagai media perantara yang dibacakan secara merdu. Tapi, alhamdulillah keindahan bahasa yang dimiliki Al Quran tidak menjadikan ummat Nabi Muhammad saw. sulit untuk memahami kandungan Al Quran. Allah sudah menegaskannya beberapa kali dalam surah Al Qamar. ‘Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?’”

Hanin mengangguk-angguk. Kemudian berdiam diri. Tanda ia sudah mengerti. Tak perlu ditanyakan kembali,kan? Bahwasanya dia sudah mengerti. Kata Zulfa dalam hati.

“Lagipula,Nin. Aku memastikan diriku dalam posisi yang tepat mengenai pertanyaanmu. Aku tidak mau ambil pusing mengenai banyaknya hal yang sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan. Seperti halnya beberapa surah dalam Al Quran yang mengandung huruf-huruf tidak bermakna jelas sebagai awal surah. Alif Lam Mim, Kaf Ha Ya ‘Ain Shad, Qaf dan masih banyak lagi. Bukankah di setiap Al Quran terjemahan kamu tidak mendapatkan maknanya secara zhahir, jelas?”

“Tentu saja.” Jawab Hanin singkat.

“Tapi jangan sampai salah kaprah. Kita masih diperkenankan untuk mengetahuinya. Dengan apa? Tentu saja menggunakan akal kita. Ya, kan? Hehe.”

Hanin nyengir mendengar pernyataanku.

“Aku memandang seperti ini, Hanin. Para mufassirin sudah menjelaskan bahwasanya penggunaan dhomir ‘nahnu’ memiliki keterkaitan dengan sebuah proses. Nah, tugas kita sebagai muslim untuk mempelajari proses-proses tersebut secara ilmiah.”

Senyum Zulfa mengembang. Melihat senyum itu Hanin ikut tersenyum. Ia bahagia Zulfa bersemangat sekali menjelaskan pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Sepasang sahabat yag saling menguatkan.

Kedua akhwat itu kemudian bergegas pulang. Hari sudah beranjak senja. Lazuardi jingga sudah memenuhi langit sedari tadi. Merekam dengan jelas percakapan mereka sore itu. Burung-burung berterbangan menutupi langit. Riak-riak air tercipta disebabkan hewan-hewan air yang bergegas pulang ke sarang mereka. Sebaliknya, hewan-hewan malam keluar dari tempat persembunyiannya mencari mangsa. Menandakan hari akan semakin gelap. Kegelapan malam yang selalu membuat kekhawatiran dan keresahan.

***

                Zulfa terbangun. Ia baru saja bermimpi. Masya Allah, aku ketiduran! Teriak Zulfa dalam hati. Sejak Hanin beranjak pulang duluan siang tadi, ia tertidur diatas kursi. Hampir satu jam. Ia terlewat ashar berjama’ah. Seharusnya pengumuman hasil sidang skripsi sudah disampaikan di hadapan para mahasiswa. Namun, Zulfa melewatkan kesempatan itu. Feel yang dirasakan akan berbeda ketika ia hanya melihat kertas pengumuman yang dipampang di mading ruang sidang.

“Zulfa…!!!” seseorang memanggilnya dari kejauhan.

Ternyata teman-teman satu fakultas. Fakultas Teknik Lingkungan. Ada apa gerangan?

                “Selamat ya. Kamu lulus. Dapat cumlaude lagi. Siap-siap nanti dipanggil kedepan saat wisuda.” ucap Leny. Teman setia  satu meja di ruang kuliah sejak semester awal.

“Tentu saja sebagai mapres. Mahasiswa berprestasi.” Annisa pun ikut menimpali. Teman satu rumah kontrakan Zulfa yang kebetulan lewat. Menghampiri Zulfa untuk mengucapkan selamat.

Baarakallahu fiik. Semoga Allah memberkahimu.” timpal mereka berdua.

Bertubi-tubi Zulfa diucapkan selamat oleh kedua temannya itu. Awalnya ia harus mengingat ulang apa yang ia lakukan sebelum tidur tadi. Dan ternyata ia sedang menunggu hasil pengumuman hasil sidang skripisi dan kedua temannya itu pun mengucapkan selamat atas kelulusan dirinya.

Allahumma aamiin. Wah, terima kasih banyak Leny, dan juga Annisa. Ini semua tak terlepas dari bantuan dan pertolongan yang kalian berikan kepadaku. Aku sangat berterima kasih banyak. Jazakumullah khairan jazaa. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan berlipat.”

Waiyyaki. Dan kepadamu juga.”

Kemudian kedua teman Zulfa beranjak pergi. Ia pun kembali sendirian. Zulfa kemudian mengingat suatu hal. Tapi ia lupa. Semoga dengan shalat ia kembali teringat. Maka bergegaslah ia menuju masjid fakultas di sebelah selatan gedung ruang sidang.

Selesai shalat akhirnya ia teringat akan suatu hal. Ia telah berjanji dengan Hanin untuk bertemu esok hari dalam sebuah acara seminar. Mengadakan pembahasan mengenai isu lingkungan, iklim, dan geologi. Cocok bagi mereka berdua yang merupakan mahasiswi dari jurusan yang tepat. Zulfa dari teknik lingkungan dan Hanin dari teknik geologi.

Zulfa ingin menjadikan acara seminar tersebut menjadi momen terakhir baginya bersama Hanin dalam keceriaan. Sekitar 2 pekan lagi Hanin akan berangkat ke Bogor menjadi peneliti di LIPI. Ada pihak dari sana yang menawarkan pekerjaan kepada Hanin untuk menjadi peneliti di LIPI. Maka jadilah ia meneken kontrak dengan pihak LIPI.

Berbeda halnya dengan Zulfa. Ia lebih memilih untuk menjadi pengamat di BMKG. Ia sudah merencanakan akan meneken kontrak dengan pihak BMKG sesaat sebelum diwisuda nanti. Ia yakin akan mendapatkan pekerjaan terbaik disana.

***

                Esok pagi hari terasa sejuk. Embun-embun pagi masih membasahi rerumputan. Matahari belum menjadi terik. Zulfa dan Hanin bergegas menuju gedung aula utama tempat diselenggarakannya seminar. Seperti yang diperkirakan, pesertanya membludak hingga keluar ruangan. Untung saja mereka berangkat pagi-pagi sehingga mendapatkan kursi terdepan.

Saat ini bumi mengalami kerusakan yang sangat parah. Hutan gundul, efek rumah kaca, polusi udara, aliran sungai tercemar, pembuangan sampah nonorganik, lautan pembuangan limbah rumah dan industri, tumpahan minyak, dan banyak lagi. Semua kerusakan tersebut secara langsung saya nyatakan adalah ulah MANUSIA.

                Bagaimana tidak? Ulah-ulah kotor tangan manusia menjadikan bumi ini semakin gersang tak berisi. Semua kekayaan dikeruk tanpa balas budi. Setiap kepala memikirkan bagaimana dapat bertahan hidup dengan mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Pikiran mereka hanya merusak. Tidak ada sama sekali kata perbaikan dalam otak mereka. Oknum yang hanya mencemarkan nama seluruh manusia di muka bumi ini.

                Begitu ketus. Pikir mereka berdua, Zulfa dan Hanin. Sepertinya mereka mengikuti seminar yang tak sesuai. Pembicara didepan pikirannya tidak mencerminkan wawasan yang luas. Dari tadi yang mereka dengar hanya gerutu, marah, dan gerutu. Tidak memberikan solusi. Sama saja dengan oknum-oknum yang ia bicarakan sendiri.

Mari kita bayangkan! Semula hutan di Indonesia menjadi paru-paru kedua dunia setelah hutan Amazon di Brasil. Namun, sekarang apa yang kita lihat? Semuanya gundul! Tak tersisa secuil pun. Tangan-tangan serakah merampas semuanya. Tak ada harapan lagi bagi kita semua.Kecuali mereka semua yang bersalah dihukum dengan sesuai.

                Semakin tidak enak di hati. Mereka berdua risih mendengarkan ocehan pembicara didepan. Apakah ia tidak bisa menggambarkan keilmuan yang ia miliki dengan kebijaksanaan?

Saudara-saudara sekalian! Mari kita mulai bergandengan tangan. Bahu membahu membangun bumi kita ini kembali. Masih ada harapan didepan sana. Kita bangun Indonesia ini menjadi hijau kembali!

                Tak sepenuhnya buruk. Minimal pembicara itu sadar dan berinisiatif mengajak peserta seminar untuk bahu membahu dalam penghijauan. Apa daya mereka berdua? Zulfa dan Hanin hanya tidak menyukai cara penyampaian pembicara tersebut. Terkesan tidak terdidik dan tidak memahami seluk beluk masalah yang ada di nusantara ini. Mereka kira pembicara itu tidak mengikuti perkembangan politik yang ada. Mungkin saja ia tidak mengetahui bahwa negara super power seperti Amerika Serikat saja masih belum melakukan ratifikasi mengenai protokol Kyoto yang berisi pengurangan gas seperti CFC yang dapat merusak lapisan ozon bumi.

Sudahlah, lebik baik kita berkontribusi sesuai jalan pikiran kita masing-masing. Pikir mereka berdua bersamaan. Maka, keluarlah mereka dari gedung aula utama. Gedung yang akan menjadi tempat Zulfa diwisuda dengan predikat cumlaude. Begitu pun dengan Hanin mendapatkan predikat yang sama. Mereka berdua akan diwisuda pekan depan pada hari Ahad.

Maka, keluarlah mereka. Gedung aula utama tersebut masih penuh sesak oleh peserta seminar. Mereka berdua sudah menyakini bahwasanya pada dasarnya manusia diberikan akal untuk mengayomi bumi dengan baik. Menjadi khalifah Allah di muka bumi. Tapi, kadangkala sebagian manusia terkalahkan akal mereka oleh nafsu kepada dunia yang mengekang hati. Sehingga jadilah mereka mendapatkan balasannya. Seperti banjit tahunan, suhu bumi semakin panas, dan lain sebagainya.

Maka dari itu sudah sepatutnya sebagai seorang muslim memperhatikan kesudahan orang-orang terdahulu yang membuat kerusakan di bumi. Mereka tidak menggunakan akal mereka dengan baik. Sehingga hati mereka terkalahkan oleh nafsu yang menmbelit. Pada dasarnya akal manusia condong kepada kebenaran dan kebaikan. Sama halnya dengan hati mereka. Bahkan hal ini sudah disebutkan didalam Al-Quran.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang lurus). Katakanlah, ‘Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” Surah Ar-Rum ayat 41-42

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Wali Radhi
Lahir di Medan, 8 Maret 1996. Saat ini tinggal di Kota Bandung.Pernah menempuh pendidikan di Yayasan Ummul Quro Bogor, Ma'had Husnul Khotimah Kuningan dan Insan Cendekia Serpong. Memiliki minat dalam sains dan energi serta selalu berusaha mengungkapkan kebenaran ilmiah dengan cahaya ilmu yang berada di Al-Qur'an. Berbagai perlombaan dan prestasi telah diraih olehnya dan Insha Allah dapat menorehkan prestasi yang lebih membanggakan. Dalam hidup berusaha untuk dapat menjadi yang terbaik dintara yang lain dalam ketaqwaan kepada Allah. Semoga Allah memudahkan sekaligus meridhoi apa-apa yang dilakukan olehnya dan ia pun ridho atas apa yang Allah SWT tentukan untuknya.Saat ini sedang berusaha menggeluti dunia tulis menulis dengan baik dan selalu menjadi mujahid yang haus akan ilmu dan hikmah. Penulis merupakan salah satu mahasiswa dan aktivis dakwah kampus di Institut Teknologi Bandung??? ???? ?? ????? ??? ? ???? ??

Lihat Juga

Ilustrasi. (twitter)

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?