Home / Berita / Opini / Pendidikan Berkarakter, Solusikah ..???

Pendidikan Berkarakter, Solusikah ..???

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

pendidikan-karakterdakwatuna.com – Sampai saat ini kita masih di dengungkan dengan nada-nada sumbang kondisi pendidikan di negara ini, mulai dari sistem yang tak jelas, merosot nya moral anak  didik. Kasus tawuran antar pelajar yang terjadi baru-baru ini, adalah potret buram hasil pendidikan yang ada saat ini. Pendidikan karakter sepertinya masih menjadi agenda utama yang belum jua tuntas untuk di perbincangkan.

Sepertinya pendidikan karakter di Indonesia saat ini barulah berupa wacana usang yang kemudian di ulang-ulang, seolah-olah ini sudah berjalan lama, padahal belum menemukan hasil yang memuaskan.  Memang tak dapat kita nafikan ada beberapa faktor kuat yang mendukung terjadinya polemik ini, salah satunya adalah sistem yang menyulitkan, ke tidak stabilan politik, ke tidak stabilan ekonomi dan lainnya.

Sehingga kasus demi kasus kian hari kian mewarnai iklim pendidikan Indonesia. Di sisi lain pendidikan karakter yang di canangkan masih menyisakan pertanyaan besar selain pertanyaan tentang keberhasilan penerapan pendidikan tersebut, pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah guru kita berkarakter?.

Polemik pendidikan yang terhampar di depan kita saat ini, seperti mencerminkan tingkat keberhasilan guru dalam menanamkan konsep tersebut kepada siswanya, sebagai seorang patokan guru mestilah menjadi tujuan utama pendidikan karakter tersebut. Karena eksistensi guru pada hakikat nya adalah suatu yang fundamental dalam memegang kendali keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.

Jepang telah memberikan contoh nyata kepada kita, betapa guru menjadi tonggak pacu peradaban dan kemajuan bangsa dan Negara matahari terbit itu, saat jepang di taklukkan sekutu dengan peristiwa Hiroshima dan Nagasaki, satu pertanyaan fenomenal yang terlontar pertama sekali adalah, “masih adakah guru yang hidup?”, pertanyaan ini menandakan betapa penting nya peran dan eksistensi guru terhadap kebangkitan dan kemajuan bangsa jepang saat itu. Dengan demikian ketika hari ini permasalahan pendidikan silih berganti hadir di tengah bangsa Indonesia, maka layak lah dipertanyakan ada apa dengan pendidikan kita? dan ke mana guru bangsa?,

Memang tak bisa di elakkan bahwa keberhasilan siswa didik, sangat dipengaruhi oleh peran guru. Sehingga tak heran mengapa kemudian guru lah yang menjadi sorotan utama dalam penerapan pendidikan berkarakter ini. tidak hanya sebagai seorang pengajar dan pencerdas kehidupan bangsa tugas dan tanggung jawab guru lebih kepada bagaimana menanamkan nilai-nilai moral, nasionalis, serta relijiusitas dalam diri anak didik.

Namun apa yang terjadi saat ini justru malah kisah sedih dan buram, dimana tidak hanya pelajar yang terlibat skandal dan disoroti, guru juga banyak yang tidak mengindahkan profesi dan tugasnya sebagai seorang pendidik, kasus demi kasus ikut pula mengukir nama guru di kancah pendidikan Indonesia, yang berdampak pada lunturnya nilai kehormatan pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Kecurangan dalam ujian nasional, kasus plagiat, kekerasan terhadap siswa didik, sampai pada kasus pelecehan seksual terhadap siswa didiknya, semakin menjatuhkan dan menambah buram nya citra seorang guru di mata masyarakat. Dapat dikatakan bahwa apa yang kita lihat sekarang adalah hasil pendidikan sepuluh tahun belakangan, beku nya mental korup di bangsa ini adalah budaya dan pola pikir yang tertanam dari hasil pendidikan waktu itu.

Sekarang pertanyaan nya, bagaimana masa depan bangsa Indonesia 10 atau 20 tahun kedepannya? Lebih burukkah atau lebih baik?. Tak dapat di elakkan semua itu tergantung pada siapa dan bagaimana guru saat ini. Pendidikan karakter di mulai dari guru yang berkarakter, seperti apa yang di dengungkan soekarno

“Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda mau, Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa Anda” – Soekarno

 

Maka bagaimana mungkin akan ada pendidikan yang berkarakter bila yang menjadi penggerak gagasan tersebut, yang menjadi cermin pendidikan berkarakter itu sendiri tak berkarakter, sementara anak didik hanyalah orang yang akan di proses dalam sebuah sistem yang dijalankan oleh pendidik.

Bagaimana bisa guru yang bertabiat buruk mampu mengajarkan karakter, nilai- nilai moral dan adab kepada siswanya, mengajarkan tentang kejujuran pada anak didiknya, bila ia tak mampu menahan kecurangan. Akan sangat jauh panggang dari api, mengharapkan generasi muda menjadi generasi kebanggaan bangsa, bila nilai-nilai moral hanya tinggal di dalam lembaran-lembaran wacana semata. Konsep yang hanya matang di dalam tataran normatif akan tetapi tidak mampu menyentuh tahapan pengejewantahan.

Semua berpangkal dari guru, kembali kepada pendidik itu sendiri,  sudahkah mereka memiliki karakteristik dan mengandung nilai-nilai moral dalam diri mereka? Pertanyaan ini kiranya adalah jawaban mengapa sampai saat ini pendidikan karakter tak sampai pada hasil yang memuaskan. (th/sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Toto Hidayat, SPdI.
Lulusan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lulus dari Universitas tahun 2012 aktif di organisasi kemahasiswan kampus. Anak ketiga dari 6 bersaudara ini sekarang dalam program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Guru Model yang di tempatkan di Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Selain jadi guru model, penulis juga aktif di berbagai pelatihan guru di kabupaten Buton, Penulis, dan Penyiar Radio Ozzon Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Motto Hidupnya Isbiru Wassabiru Warrabitu.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya

Organization