Home / Berita / Opini / Fahri Hamzah: Sebuah Fenomena dalam ‘Keunikan’ Karakternya

Fahri Hamzah: Sebuah Fenomena dalam ‘Keunikan’ Karakternya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Fahri Hamzah. (inet)
Fahri Hamzah. (inet)

dakwatuna.com – Tulisan ini ter inspirasi dari diskusi yang terjadi antara saya dengan teman-teman di sebuah grup blackberry. Percakapan yang dibuka dengan info dari saya tentang Fahri Hamzah yang mencak-mencak kepada para awak media (wartawan) di salah satu stasiun TV, karena difitnah mempunyai kedekatan dengan Ahmad Fathanah. Sebuah foto Fahri Hamzah yang sedang makan bersama AF tersebar di banyak media, dimana foto tersebut dianggap Fahri Hamzah hanya sebuah foto biasa saja. Namun oleh media sengaja di besar-besarkan, guna mendukung dugaan mereka mengenai adanya  “hubungan manis” antara Fahri Hamzah (PKS) dengan tersangka utama dalam kasus suap impor daging sapi tersebut. Tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Fahri Hamzah, foto itupun menjadi sasaran empuk para wartawan. Sehingga inilah yang membuat seorang Fahri Hamzah meradang luar biasa kepada mereka.

Diskusi yang semula datar-datar saja, lama-kelamaan jadi semakin hangat & alot. Begitu banyak komentar, tanggapan & argumentasi yang disampaikan oleh saya & teman-teman se-grup. Yang jelas, pro & kontra ramai mewarnai alur diskusi kami semalam. Dan saya adalah termasuk salah seorang dari mereka yang “pro” dengan sikap keras (tegas) Fahri Hamzah dalam menghadapi para wartawan/media yang nakal itu. Dari diskusi yang cukup panjang ini, tiba-tiba ada seorang dari grup kami mengusulkan kepada saya untuk membuat tulisan tentang FAHRI HAMZAH, terutama yang berkenaan dengan masalah “karakter” beliau yang kami anggap memiliki keunikan ini. Maka lahirlah tulisan ini, setelah sebelumnya saya juga pernah mengulas sedikit tentang beliau dalam tulisan saya yang berjudul : Fenomena Di antara 3”F”: Sebagai Apa Kita Akan Dikenang?

Menulis tentang Fahri Hamzah, bagi saya adalah sesuatu yang fenomenal. Karena entah mengapa, selalu ada “getaran” emosional yang mengikuti setiap hentakan jemari saya di atas keyboard laptop. Dan mungkin saja dalam pemaparan nya nanti, seakan-akan kental unsur subyektivitas nya. Mengingat saya adalah salah seorang “fans”-nya (hehehe…). Padahal terus terang saja, saya sendiri tidak pernah kenal dengan beliau. Walaupun kalau  soal nama saya memang sudah tidak asing lagi, dan sudah terlalu sering mendengarnya. Namun sampai detik hari ini, saya belum pernah sekalipun berjumpa apalagi berkomunikasi baik secara langsung maupun tak langsung dengan beliau. Saya cuma tahu & sering melihat Fahri Hamzah di TV, terlebih lagi sejak merebaknya kasus suap impor daging sapi yang diduga melibatkan Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) & PKS. Sejak itulah, saya sering mengikuti “sepak terjang” beliau, meski tak semuanya.

Bagi saya, FAHRI HAMZAH memang memiliki satu “keunikan” yang jarang dimiliki oleh orang lain. Terlebih lagi dalam tubuh para kader PKS, yang memang sudah terkenal dengan kesantunan & kelemah-lembutan nya ini. Hadirnya seorang Fahri Hamzah dengan segala keunikan nya itu, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diakui memang bahwa beliau telah berhasil membuka mata dunia tentang “kepribadian” PKS selama ini. Dengan gayanya yang khas orang NTB (keras & berapi-api), Fahri Hamzah selalu tampil “berani”. Maka tak heran, jika sosoknya selalu disegani oleh lawan, namun tetap disayangi oleh kawan. Dan saya, adalah termasuk orang yang sangat mengagumi karakter beliau tersebut. Dan karena “kekaguman” saya ini, ada teman yang mencandai saya dengan mengatakan, karena saya & Fahri Hamzah mempunyai satu kemiripan : SAMA-SAMA KERAS & GARANG…!!! Hehehe…

Akan tetapi terlepas dari siapa Fahri Hamzah, di sini saya tertarik untuk mengulas sedikit tentang sifat & karakter manusia. Dari beberapa referensi yang saya baca, ada perbedaan antara sifat & karakter manusia. Kalau “sifat” lebih cenderung kepada yang berbentuk rangsangan atau respon terhadap sesuatu. Misalnya penyayang, penyabar, pemaaf, pemarah, iri, dengki dan lain-lain. Tidak permanen dan masih atau dapat dirubah, namun perlu waktu yang lama serta tergantung kepada si pemilik, mau merubahnya atau tidak. Sedangkan kalau “karakter” lebih cenderung kepada masalah kejiwaan dan dia bisa merupakan kumpulan dari beberapa sifat yang telah ada (cakupannya lebih luas). Cenderung permanen (walaupun tidak mutlak juga),  karena dalam perjalanannya, ternyata faktor lingkungan juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk/mempengaruhi sifat & karakter seseorang. Namun pada dasarnya karakter ini sangat sulit untuk dirubah, sebab dia sudah terbentuk secara alami dari sejak dalam kandungan. Dengan kata lain, karakter merupakan sifat bawaan yang akan menjadi ciri khas dari setiap manusia, yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT kepadanya.

Adapun kaitannya dengan Fahri Hamzah, dari beberapa kali penampilannya baik di media cetak maupun elektronik, tentu saja orang sudah bisa menebak bagaimana sifat & karakter beliau. Meskipun  ternyata, orang juga mempunyai persepsi yang berbeda-beda dalam memberikan penilaiannya. Begitu pula yang terjadi pada diri saya & teman-teman yang melakukan diskusi malam itu. Saya berdua teman di antara mereka, sangat setuju dengan sikap Fahri Hamzah dalam menghadapi ulah wartawan pada saat itu.  Masih menurut kami (saya) pula, bahwa bukan tanpa sebab atau alasan jika Fahri Hamzah marah kepada mereka. Serta bukan karena merasa “sok jagoan” pula, Fahri Hamzah menunjukkan sifat/karakter aslinya di hadapan para wartawan itu. Andai saja mereka beriktikad baik, masa iya Fahri Hamzah juga harus tetap memperlihatkan taring nya? Saya rasa, Fahri Hamzah tidak akan se gegabah itu. Beliau pun pasti masih punya sopan santun serta memiliki akhlaq yang baik (plus cerdas). Dan dalam pengamatan saya, belakangan ini juga sebetulnya Fahri Hamzah sudah cukup “lunak dan jinak” dalam bersikap, setelah kemarin-kemarin selalu tampil garang & seolah-olah ingin menerkam siapa saja yang dianggapnya tak mampu berlaku adil & profesional.

Namun di mata beberapa orang teman (dalam diskusi kami), Fahri Hamzah dinilai terlalu emosional. Menurut mereka, Fahri Hamzah tidak harus selalu tampil garang. Harus mampu main tarik ulur dalam bersikap. Dan menurut mereka pula, sebaiknya Fahri Hamzah tak perlu menanggapi ulah nakal para awak media yang menyebarkan foto itu. Cool ajalah…begitu kata mereka. Dan masih menurut mereka pula, orang di luar PKS tidak akan simpati kepada yang sangar & meledak-ledak seperti Fahri Hamzah. Bisa-bisa yang simpati malah jadi kabur, karena melihat gaya beliau. Benarkah demikian? Salah kah penilaian dari teman-teman saya itu?

Tentu saja tidak. Sebab, memang dalam situasi dan kondisi tertentu kita memang harus pandai-pandai menentukan sikap. Adakalanya kita harus lembut, kalem & slowly dalam menghadapi suatu persoalan, tapi adakalanya pula kita harus tampil “bak macan yang terganggu tidurnya” dalam menanggapi persoalan yang lainnya. Dalam hal ini saya sependapat dengan teman-teman saya. Akan tetapi  dalam kasusnya Fahri Hamzah kemarin, menurut saya sikap beliau sudah benar & wajar. Karena bukan sekali dua kali ini, beliau (dan PKS) di bully habis-habisan oleh media massa, tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelumnya. Masalah  akan ditinggalkan oleh pengikut/simpatisan PKS, saya rasa terlalu dini untuk kita berasumsi demikian. Sebab menurut saya, hal itu tidaklah berbanding lurus dengan apa yang telah dipertunjukkan oleh Fahri Hamzah ataupun yang se-karakter dengannya.. Bagi para musuh (haters) PKS, baiknya PKS tetap saja akan dinilai/dilihat buruk oleh mereka. Karena kebencian & penyakit hati sudah begitu kuatnya menggerogoti jiwa/pikiran mereka. Bagi para haters, PKS itu tidak ada nilai baiknya…titik…!!!

Di PKS sendiri, ada banyak karakter manusia yang berkumpul. Ada Ust. Mardani Ali Sera, Ust. Hidayat Nurwahid, Mahfudz Siddiq dan lain-lain yang terkenal kalem/cool/low profile. Tapi ada juga Ust. Anis Matta, Fahri Hamzah, Aboebakar AlHabsyi dan kawan-kawan yang tegas/lugas/keras. Saya yakin, mereka ini pasti sudah memiliki peranannya masing-masing dalam tugas menghadapi (meng-counter) berbagai macam masalah/kasus yang menerpa PKS. Dan dalam sejarah Islam-pun kita sudah mengenal beberapa karakteristik dari para sahabat Rasulullah saw. Ada Abubakar Assiddiq yang penyabar & lemah lembut. Tapi ada pula seorang Umar bin Khaththab yang  garang & ke mana-mana selalu membawa pedang kesayangannya. Sampai-sampai diceritakan dalam riwayatnya, bahwa syaitan pun akan lari terbirit-birit jika berjumpa dengan Umar saking takutnya. Namun dibalik ke”sangaran”nya itu, Umar bin Khaththab memiliki hati selembut salju. Sejarah pun sudah banyak melukiskan tentang kelembutan & kepekaan beliau ini. Yaaa…begitulah romantika, dinamika & harmonisasi yang terjadi dalam dunia Islam. Begitu indah,  serasi, menakjubkan sekaligus juga sangat fenomenal..

Demikian pula yang terjadi dalam tubuh PKS. Di antara sekian banyak kader yang berkecimpung & berkiprah di dalamnya, bukanlah suatu kebetulan jika Fahri Hamzah yang selalu diamanahkan “tugas” untuk berhadapan dengan orang-orang yang keras pula seperti dirinya. Sebagaimana yang kerap kita saksikan akhir-akhir ini di berbagai media massa. Saya sangat yakin, PKS pasti punya alasan yang kuat terhadap seorang Fahri Hamzah. Apapun yang beliau lakukan, semua itu pasti tak lepas dari pantauan para pengurus PKS. Lagi pula Fahri Hamzah bukanlah anak kemarin sore yang baru terjun ke dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Pengalamannya dalam berorganisasi dari sejak remaja sampai selanjutnya mendapat kepercayaan sebagai anggota dewan DPR RI dari Fraksi PKS, telah mengantarkan beliau menjadi seorang politikus yang handal dan selalu diperhitungkan oleh lawan (musuh/haters PKS). :”Karakter” yang tegas, lugas serta berapi-api itulah yang senantiasa mengiringi setiap gerak & langkah Fahri Hamzah, kapan dan di manapun beliau berada.

Begitulah, terlepas dari sikap pro-kontra atau benar-salah dari seorang Fahri Hamzah, semua itu tentu adalah  satu “keunikan” sekaligus juga merupakan segudang kelebihan yang melekat pada dirinya. Di samping juga merupakan asset berharga bagi partai dakwah yang bernama PKS, sama seperti keunikan dan ke-khas-an dari para kader PKS lainnya. Dikarenakan masing-masing orang selalu punya kelebihan serta kekurangannya, dan itulah yang mampu memberi warna seindah pelangi dalam perjalanannya. Dan saya pun teringat pada sepenggal taushiyah dari Ustadzah Srivira Chandra dalam sebuah acara seminar beberapa waktu yang lalu. Kata beliau, sifat dasar/karakter manusia itu gak perlu dirubah. Biarkan saja dia berkembang & mengalir (terbentuk/terpola) seperti apa adanya. Yang penting adalah si pemilik karakter bisa memposisikan dirinya sesuai dengan porsi nya. Dan selama itu tidak menyimpang atau bertentangan dengan nilai-nilai Islam, monggo saja…(mengambil istilah Ust. Mardani Ali Sera).

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Ilustrasi (Inet)

Miras Sumber Kejahatan