Home / Pemuda / Essay / Teladan Mengalahkan Kekuatan Perkataan

Teladan Mengalahkan Kekuatan Perkataan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pengurus Daerah (PD) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Papua menggelar Dialog hari Kartini pada hari Ahad (21/4/2013) di Ruang Aula SDIT Qurrata A’yun Abepura Jayapura Papua. Dialog mengambil tema ‘Dari Keluarga Menuju Peradaban’. (ist)
Pengurus Daerah (PD) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Papua menggelar Dialog hari Kartini pada hari Ahad (21/4/2013) di Ruang Aula SDIT Qurrata A’yun Abepura Jayapura Papua. Dialog mengambil tema ‘Dari Keluarga Menuju Peradaban’. (ist)

dakwatuna.com Hari ini aku tertohok oleh siswaku. Saat itu jam kedua, Aku kembali bertugas menggantikan guru yang sedang mengawas UN di sekolah lain. Karena pelajaran kosong, Aku meminta siswaku untuk membaca buku literasi di perpustakaan. Daripada mereka diminta untuk membaca buku di kelas, siswaku pasti akan meminta untuk segera pulang. Maka, aku meminta siswaku untuk membaca di perpustkaan karena buku yang ada di sana tentu lebih beragam sehingga siswa bisa memilih buku yang akan dibacanya dan mereka akan betah hingga jam pulang tiba.

Siswaku pun sangat senang dengan kegiatan ini, mereka berlarian ke perpustaknaan tak sabar rasanya. Setelah sampai di perpustakaan, masing-masing anak memilih buku yang akan mereka baca.  Namun,  ada yang menarik di sini, pengalaman yang mungkin tak bisa kulupakan. Ini tentang  kesopanan.

Sebelumnya aku ceritakan dulu tentang kondisi perpustakanan sekolah kami yang belum rapi, karena masih banyaknya tumpukan alat peraga dan  buku-buku yang belum di data. Terdapat beberapa rak buku, dan 1 lemari peralatan olahraga serta beberapa baris meja panjang yang terbuat dari papan. Meja tempat duduk siswa ini sebenarnya tak layak disebut meja, lebih mirip bangku panjang, yang biasa kita temui di halte bis. Sehingga tanpa sadar, beberapa siswa sering duduk di atas “meja” ini. Melihat temannya ada yang duduk di meja, siswaku pun mengingatkan temannya dan melaporkan- nya padaku.

“Bu, Biak (red. Anak) duduk di meja”, lapor temannnya.

“Ayo duduknya  di bawah Nong (red. Nak), itu meja”. Gak boleh duduk di meja. Begitu ku kataku  pada siswaku.

Siswa yang duduk di “meja” tersebut pun turun, dan duduk di lantai beralaskan karpet yang sudah pudar warnanya.

Tak lama berselang, setelah pegal berjalan melihat-lihat siswa yang asyik membaca buku dan menjawab beberapa pertanyaan mereka, tanpa sadar saya duduk di atas “Meja” itu.  Tak lama kemudian, siswaku yang tadi kutegur menegurku kembali,

“Bu, itukan meja, tadi kata ibu gak boleh  duduk di meja”

Ups, tertohok rasanya. “langsung ku minta maaf pada mereka”

“O iya, maaf Nong Bu guru lupa. Dan gak sadar”.

Sepenggal cerita tadi mungkin pernah dialami oleh orang tua atau guru yang lain.

Inilah mungkin yang bisa dikatakan sebagai teladan yang harus diberikan kepada anak harus  sesuai dengan perbuatan. Bagaimana hal yang kita katakan harus sesuai dengan yang kita lakukan.

Maka itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi anak didik kita. Karena sebetulnya mereka lebih melihat perbuatan kita selaku orang tua atau guru dari pada mendengar apa yang kita ucapkan.

Benar memang kata pepatah, kekuatan perbuatan akan mengalahkan kekuatan kata-kata.

Semoga dari cerita ini kita sebagai orang tua maupun guru bisa merefleksi diri, bahwa sesungguhnya anak-anak kita butuh teladan yang baik, yang sesuai dengan nasehat yang sering kita perdengarkan pada mereka, bukan hanya sekedar perkataan belaka.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guru Model Sekolah Guru Indonesia (SGI) daerah penempatan sambas, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Facebook.com)

Suami Pelit, Bagaimana Cara Menyikapinya?