Home / Pemuda / Essay / Saudaraku, Janganlah Mengkerdilkan Makna Dakwah

Saudaraku, Janganlah Mengkerdilkan Makna Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kartun-anak-laki-bawa-pensil (1)dakwatuna.com Berdakwah adalah pekerjaan di mana seseorang dengan rela mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW. dengan hati yang ikhlas semata-maya mengharap Ridho Allah SWT.

Pekerjaan ini juga tak harus selalu dimonopoli oleh golongan atau status sosial tertentu saja, seperti kia/nyaii,ustadz/ah,penceramah.

Ada statement menarik dan perlu untuk kita cerna dan garis bawahi tebal-tebal dari salah seorang ustadz di negeri ini, “nilai plus adalah ketika seorang dokter yang juga berdakwah,seorang guru yang juga berdakwah,seorang pejabat yang juga berdakwah. Bukan berhenti hanya sebatas dengan satu fokus pekerjaan saja,misalnya Guru yaudah lah jadi guru aja,dokter atau pejabat, yaudah lah jadi dokter atau pejabat aja”.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh dan panutan nyata betapa beliau tidak menyempitkan makna dakwah.

Ditengah kesibukan sebagai seorang negarawan mengurus berbagai problematika umat di masa itu, seorang Muhammad masih dengan sangat semangat menyampaikan Risalah-risalah yang telah Allah amanahkan untuk beliau.

Tak bisa kita lupakan pula Muhammad SAW yang seorang saudagar yang sukses dan tentunya memiliki kesibukan, tidak serta merta melupakan kewjiban berdakwahnya.

Hal ini juga banyak dicontoh oleh beberapa orang di negeri ini, sudah banyak bermunculan orang yang menjadi pengusaha tetapi masih terdapat lebel ‘ustadz’ di depan namanya.

Pun juga sudah banyak orang yang berlebel ustadz di depan namanya mau menjadi seorang negarawan dan menjabat posisi-posisi tertentu di Pemerintahan. Inilah orang-orang yang benar-benar mengerti akan makna dakwah yang sebenarnya.

Namun juga tidak sedikit kalangan yang dengan pengetahuan sempitnya masih mengkerdilkan bahkan sangat menyempitkan makna dakwah yang sebenarnya.

Mereka masih beranggapan bahwa berdakwah yang berorientasi pada ke-akhiratan masih tidak pas jika harus ditempatkan sejajar dengan profesi/pekerjaan yang itu berorientasi pada ke-duniawian semata.

Tak jarang mereka dengan enteng berkata “ustadz,ustadz aja dah.. kiai,kiai aja dah.. politisi,politisi aja dah..”.

Hal penyempitan dan pengkerdilan makna semacam inilah yang mungkin membuat sebagian diantara kita ikut-ikutan menyerahkan problematika kehidupan beragama ini kepada seorang ustadz atau kiai. Menganggap bahwa urusan memperbaiki masyarakat dan memperbaiki moral bangsa adalah hanya urusan para kiai/ustadz saja.

Ini juga yang mungkin menjadi salah satu faktor kenapa problematika kehidupan di bangsa ini tidak pernah menemukan kata selesai.

Berdakwah sejatinya adalah mengajak atau menyeru orang lain untuk baik.

Dan urusan mengajak orang lain untuk baik adalah tugas kita selaku umat Islam, bukan semata-mata hanya dibebankan pada seorang kiai dan ustadz saja.

Bukankah pada QS. An-Nahl ayat 125 Allah SWT. telah memerintahkan pada manusia untuk menyeru atau mengajak pada jalan Allah SWT.

 
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

 

Yang perlu kita ingat dan camkan baik-baik adalah, Allah tidak hanya menyuruh para kiai atau ustadz saja untuk menyeru pada kebaikan (menyeru pada jalan Allah SWT), tapi Allah memerintahkan kita semua untuk menyeru atau mengajak.

Jika kita seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang juga berdakwah. Jika kita seorang pengajar, jadilah pengajar yang juga mengajarkan pesan-pesan dakwah.

Jika kita seorang pejabat, manfaatkanlah jabatan itu untuk juga berdakwah. Jika kita seorang mahasiswa, jadilah mahasiswa yang juga aktif di jalan dakwah.

Apapun profesi atau pekerjaan sehari-hari kita, janganlah melupakan atau bahkan meninggalkan kewajiban berdakwah.

Wallahu a’lam

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ikhwan Uvik
- KAMMI Komsat Universitas Negeri Malang - FSLDK Universitas Negeri Malang - Kaderisasi LDF Muslim Studi FE Universitas Negeri Malang

Lihat Juga

Ustadz Ruslan Effendi (kiri) bersama Ustadz RahmatAbdullah (kanan). (IST)

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia