Home / Narasi Islam / Dakwah / Berdakwah Dengan Hati

Berdakwah Dengan Hati

baca kitabdakwatuna.com Kalangan orientalis menganggap bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Anggapan ini tentu tidak tepat sebab bukti sejarah dan tabiat agama Islam sesungguhnya jauh dari kekerasan apalagi terorisme. Perang hanyalah jalan terakhir ketika tidak ada lagi pilihan. Seperti yang kita tahu sebelum pasukan Islam memasuki wilayah lawan terlebih dahulu dikirim utusan untuk menawarkan tiga opsi: Masuk Islam, membayar pajak, dan perang. Jika mereka memilih masuk Islam, maka mereka menjadi bagian dari kaum Muslimin, bagi mereka hak-hak sebagai kaum Muslimin dan atas mereka kewajiban layaknya muslim. Dan jika mereka membayar pajak maka mereka mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan.

Islam merupakan agama yang cinta damai. Syariahnya, baik yang pokok maupun yang cabang dibangun di atas nilai kasih sayang. Ia mengajak umatnya untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis yang penuh dengan kasih sayang dan saling menghormati. Bahkan risalah yang dibawa oleh Muhammad saw. adalah risalah kasih sayang. Allah menegaskan misi kerasulan Muhammad saw. dengan firman-Nya.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107)

Bahkan, jika perang sedang berkecamuk lalu muncul kecenderungan lawan untuk menghentikan pertempuran dan mengajak berunding untuk menempuh jalur damai. Keinginan ini harus direspon sebagaimana firman Allah Taala,

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Anfal: 61)

Sejak pertama kali menerima risalah dakwah Rasulullah saw. sangat menyadari fungsinya sebagai pembawa misi kasih sayang kepada manusia. Tidak saja kepada kaum Muslimin, bahkan kepada mereka yang memusuhi beliau dan dakwahnya. Tidak ada yang memungkiri fakta ini kecuali ia tidak paham terhadap sejarah beliau atau di hatinya tersimpan kebencian dan kedengkian kepada beliau dan Islam. Dari langit ke tujuh Allah memuji sifat ini,

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159)

Tiga belas tahun Rasul yang mulia berdakwah menyeru manusia kepada Islam, menawarkan agama baru ini kepada setiap orang dengan cara-cara yang santun. Namun apa yang diterima beliau dari mereka? Alih-alih menerima ajakan beliau dan masuk agama yang menyelamatkan dunia dan akhirat mereka, bahkan mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi dakwah beliau dan menghalangi orang-orang yang merespon dakwah beliau. Intimidasi, pelecehan, tuduhan, fitnah, serangan fisik, bahkan sampai pembunuhan mereka lakukan terhadap orang-orang yang menyambut dakwah beliau. Bahkan pengusiran beliau dan kaum Muslimin dari kampung halaman mereka dan perampasan harta benda mereka.

Beliau dan para sahabat mengungsi di negeri orang dengan rasa sedih dan khawatir. Bayang-bayang kematian menghantui mereka. Mengarungi perjalanan ke negeri yang jauh. Tidak ada kerabat dan kenalan selain di sana ada hati yang siap menampung mereka. Sesampainya di Madinah beliau melakukan pembinaan para sahabat Anshar dan Muhajirin. Kedua unsur yang kemudian menjadi basis kekuatan kaum Muslimin. Lalu interaksi dengan musuh-musuh dakwah terpaksa dilakukan dengan kekuatan fisik dan senjata. Hingga Allah mengokohkan eksistensi mereka.

Di tahun ke delapan Hijriyah Rasulullah dan kaum Muslimin kembali ke Mekkah, bersama sepuluh ribu orang lengkap dengan senjata mereka hendak menunaikan ibadah umrah. Dahulu mereka keluar dari kota ini penuh hina dan ketakutan, kini mereka kembali dengan penuh izzah dan kekuatan. Dengan kekuatan tersebut mereka mampu membalas seluruh kejahatan yang dilakukan kaum kuffar. Mereka bisa menghabisi musuh-musuh dakwah atau mengambil kembali harta benda dan tempat tinggal yang mereka rampas, Namun bukan itu yang dilakukan Rasul dan kaum Muslimin yang mulia.

Ikrimah bin Abu Jahal termasuk orang yang memendam kebencian kepada Rasulullah dan kaum Muslimin. Hal ini diwarisi dari bapaknya, Abu Jahal, Firaun umat ini. Dan bersama 20 orang tentara berkuda ia menghadang kafilah kaum Muslimin yang hendak memasuki kota Mekah, hingga empat orang dari mereka terbunuh. Ikrimah sendiri berlari menuju arah Yaman. Begitu sengit kebencian dan permusuhannya kepada kaum Muslimin sampai Rasulullah memerintahkan untuk membunuhnya bersama 3 orang lainnya di manapun mereka diketemukan, walaupun sedang bergelayut pada kain penutup Ka’bah. Padahal pada saat itu beliau memberi jaminan keamanan kepada semua orang.

Ummu Hakim, istri Ikrimah bin Abu Jahal, bersama sepuluh wanita, yang di antaranya Hindun binti Utbah, yang pada perang Uhud mengunyang-ngunyah hati Hamzah bin Abu Thalib, paman Rasulullah. Mereka menghadap beliau untuk menyatakan diri masuk Islam. Setelah itu Ummu Hakim berkata, “Ya Rasulullah, Ikrimah melarikan diri darimu sampai ke Yaman. Dia ketakutan karena engkau akan membunuhnya. Oleh karena itu berilah dia jaminan keamanan.” Beliau menjawab, “Dia aman.”  Diriwayatkan bahwa Ummu Hakim bertanya kepada beliau, “Apa bukti keamanan itu ya Rasulullah?” kemudian beliau memberikan surbannya sebagai bukti atas jaminan keamanan yang diberikan kepada Ikrimah.

Kemudian ia berangkat mencari suaminya. Ketika bertemu dan mereka singgah di sebuah rumah. Ikrimah ingin hanya berduaan dengan istrinya namun ditolaknya, “Aku seorang Muslimah dan kamu musyrik.” Sungguh sikap yang mengherankan bagi seorang suami yang menghendaki istrinya namun ditolaknya mentah-mentah. “Tentu ada masalah besar hingga kau membatasi diri denganku.” Kemudian Ikrimah kembali ke Mekkah dan sesampainya di tanah kelahirannya itu Rasulullah berkata kepada Sahabat, “Ikrimah bin Abu Jahal akan datang kepada kalian menjadi muslim dan muhajir. Oleh karena itu janganlah kalian mencaci bapaknya. Sebab mencaci orang yang sudah meninggal menyakiti hati orang yang hidup.”

Sungguh, hati yang besar, jiwa yang besar dari orang besar. Yang menyeru manusia kepada Allah tanpa ada kepentingan dunia sebiji dzarrah pun, yang pada hatinya tidak ada kebencian dan kedengkian atas nama pribadinya. Yang langsung lunak demi seseorang menyatakan keislamannya meski sepanjang hidupnya memusuhinya dan mengerahkan segala upaya untuk menghentikan dakwahnya. Bahkan berupaya membunuhnya! Dan Ikrimah bin Abu Jahal pun masuk Islam. Tidak ada yang meluluhkan keras hatinya selain kelembutan hati Rasulullah, yang membawa rahmat dengan dakwahnya kepada alam semesta.

Hati yang luas, seluas samudera. Yang memaafkan seberapa besar pun kesalahan dan permusuhan seseorang kepadanya karena Allah. Dan dengan tangannya yang lembut penuh cinta beliau bimbing bekas musuh bebuyutan ini meniti jalan menuju Rabbnya. Dengan nasihat yang tulus beliau arahkan dia untuk mengeksplorasi seluruh potensinya demi berkontribusi kepada Islam, seperti dahulu, dengan kekafirannya, ia kerahkan semua upaya untuk membenci dan melampiaskan dendam kepada Islam.

Saudaraku…

Demikianlah akhlaq Rasulullah. Dengan hatinya ia sampaikan seruan dan ajakannya. Maka seruan itu sampai pula ke hati. Tidak ada sekat dan hijab yang dapat menghalangi kuatnya kata-kata yang disampaikan dari hati. Meski seluruh kekuatan dunia, jin dan manusia bersatu untuk menghentikannya. Karena dia dihubungkan oleh kekuatan yang melebihi hebatnya kekuatan jin dan manusia. Dialah Dzat yang di jari jemarinya terdapat hati para hamba. Yang menautkan jiwa tanpa ada yang bisa merenggangkannya. Jiwa-jiwa yang terbimbing fitrah dan tersibghah oleh kesuciannya. Yang tidak pernah berganti atau berubah.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)

Dengan kebersihan hati dan kejernihan tujuan Rasul. Maka beliau membalas setiap keburukan dengan kebaikan. Menasihati orang dengan kelembutan kata-kata dan jauh dari kata-kata kasar yang melukai hati dan perasaan, yang menjauhkan bukan mendekatkan. Maka beliau memaafkan orang yang hendak membunuhnya, memakinya, memperlakukannya dengan kasar. Dengan keluasan hati beliau orang yang jauh menjadi dekat, yang dekat kian merapat menjadi pembela setia.

Dan dengan hati pula para sahabat menyeru manusia kepada Allah, meniti jalan Rasul yang mulia. Maka Abu Bakar memerdekakan Bilan bin Rabah. Dan mantan budak itu kemudian menjadi manusia terhormat dengan Islam, sejajar dengan para sahabat lain. Dengan hati pula Khalid bin Walid menyelamatkan seratus yang dipaksa masuk Kristen dan ditawan di penjara Irak. Mereka dibebaskan lalu dikembalikan kepada fitrahnya. Dan dari mereka muncul Musa An-Nushairi yang menakhlukkan Afrika Barat dan Spanyol. Dan mendidik dengan hati akan lahir manusia-manusia besar.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Asfuri Bahri, Lc
Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pengajar. Aktif di beberapa organisasi, antara lain LSM FOCUS, dan IKADI DKI Jakarta. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkannya, antara lain "Rambu-Rambu Tarbiyah" (terjemahan, CIP Solo), "Anekdot Orang-Orang Tobat" (Darul Falah), "Galaksi Dosa" (Darul Falah), dan "Kereta Dakwah" (terjemahan, Robbani Press). Moto hidupnya adalah "Pada debur ombak, daun jatuh, hembus angin, ada tarbiyah".

Lihat Juga

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir