Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Mengenal dan Mengenang Ahli Falak

Mengenal dan Mengenang Ahli Falak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ahJudul buku: Ahli Falak dari Pesantren
Pengarang: M. Solahudin
Penerbit: Nous Pustaka Utama, Kediri
Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: viii + 112 Halaman
ISBN: 978-602-98720-3-3
Peresensi: M. Ihtirozun Ni’am*

dakwatuna.com Banyaknya problematika mengenai jatuhnya awal bulan qamariyyah, arah kiblat sebuah masjid yang melenceng menjadikan ilmu falak muncul lagi di permukaan dan banyak diminati oleh para pelajar. Bahkan, di IAIN Walisongo Semarang disediakan program studi khusus untuk bidang keilmuan ini, baik di tingkat S1 maupun S2. Tidak aneh bila akhir-akhir ini ilmu falak berkembang cukup signifikan, dari yang mulanya hanya mengenal sistem hisab haqiqi taqribi atau haqiqi tahqiqi untuk menentukan awal bulan qamariyyah, kini sudah ada sistem hisab kontemporer. Dari yang mulanya hanya memakai kitab-kitab salaf semisal khulashatul wafiyyah, badi’atul mitsal, nurul anwar dalam hisab(perhhitugan)nya, kini turut juga memperhatikan sistem perhitungan new comb, almanak nautika, jean meaus, dan lain sebagainya. Dan dari yang semula dalam perhitungan hanya memakai sistem manual, kini sudah dikenalkan berbagai macam software dan program terkait hal itu, seperti win hisab milik Kemenag RI, dsb. Itu semua mungkin sudah bisa dikatakan sebagai representasi tidak stagnannya ilmu falak di era ini.

Namun perkembangan tersebut, tentulah bukan tanpa awal. Ilmu falak konon telah muncul pada masa Nabi Idris. Hal ini dinyatakan oleh Zubair Umar Al-Jaelani dalam kitabnya “Al-khulashoh Al-Wafiyah”. Jadi, jauh sebelum datangnya Islam, umat manusia telah mengenal ilmu falak. Pada massa kejayaan Islam, era dinasti Abasiyyah, khususnya masa al-Rasyid dan al-Makmun, di samping ilmu falak berkembang pula berbagai macam ilmu seperti kedokteran, matematika, dan lain-lain. Namun, seiring dengan kemunduran Islam, ilmu-ilmu ini mundur alias hilang. Ibnu Sina yang seorang dokter atau al-Khawarizmi yang seorang matematikawan seakan-akan ‘tidak pernah lahir kembali’ dalam rahim wanita Muslimah. Namun kondisi tersebut tidak dialami oleh ilmu falak. Hingga detik ini banyak umat Islam yang mempelajarinya.

Tak ketinggalan dunia pesantren pun turut mengembangkan ilmu falak. Ilmu ini diajarkan di sejumlah pesantren. Para santri juga diajarkan bagaimana cara merukyah, dan seterusnya. Maka, secara umum, kaum pesantren tidak kekurangan stok ahli falak, meskipun tidak semua santri suka dengan hitung-menghitung.

“Al-Fadhlu  li al-mubtadi wa in ahsana al-muqtadi” (Keutamaan itu bagi pemulanya meskipn lebih baik orang setelahnya). Ungkapan inilah yang menyadarkan Ibnu Malik untuk bersikap tawadhu’ terhadap guru dan generasi sebelumnya, yakni Ibnu Mu’thi, hingga setelahnya dalam pembukaan nadhom al-fiyyahnya beliau mengatakan “wa huwa bisabqin haaizun tafdhiila, mustaujibun tsana’iyya al-jamiila” (Dan Ia (Ibnu Mu’thi) memperoleh keutamaan sebab mendahului, dan berhak atas berbagai macam pujian).

Maka, sudah saatnyalah kita mengenang dan mengenal ahli-ahli falak sebelum generasi kita. Di sini, M. Solahudin dalam bukunya memperkenalkan ahli falak pada abad pertengahan, ahli falak dari luar negeri, ahli falak dalam negeri, dan 7 ahli falak di Indonsia yang berlatar belakang pesantren. Mulai dari KH. Tubagus Muhammad Falak, Syeikh Thahir Jalaluddin al-Azhari, KH. Ma’shum Ali, KH. Mahfudz Anwar, KH. Turaihan Adjhuri, KH. Muhamad Wardan, sampai KH. Noor Ahmad SS. Tidak seperti tokoh falak lainnya, ke-7 tokoh falak ini dijelaskan secara gamblang oleh penulis, mulai dari latar belakang keluarganya, saat menuntut ilmunya, kiprahnya di masyarakat, karya tulis dan pemikirannya. Penulis juga menyebutkan ahli falak yang masih hidup di era ini seperti Thomas Djamaluddin, Susiknan Azhari, Muhyiddin Khazin dan Ahmad Izzudin.

Buku ini sangat cocok bagi pengkaji ilmu falak untuk mengetahui perkembangan ilmu falak dari masa ke masa dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di dalamnya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ihtirozun Ni'am
Mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi Kementrian Agama RI.

Lihat Juga

Ilustrasi (Klinik Fotografi Kompas)

Juraij

Organization