Home / Berita / Internasional / Asia / Efektivitas Perlawanan

Efektivitas Perlawanan

Dr. Isham Udwan

perlawanandakwatuna.com – Dunia Islam masih dijajah akibat tidak adanya gerakan nyata dari kaum muslimin dan akibat efektivitasnya kolonialisme. Seperti anak kecil yang menuntut seorang kakek-kakek yang sudah tidak ada kemauan dan efektivitasnya. Jangan salahkan anak itu, tapi tanyakanlah kenapa kakek itu kenapa sampai tak punya kemauan sehingga dapat berbuat bersama anak kecil itu semestinya.

Sebagaimana disebutkan pemikir Islam, Malik bin Nabi, efektivitas adalah dorongan hati atau semangat pikiran bimbingan, gerakan tangan dan anggota tubuh lainnya. Dan ketika Anda kehilangan individu atau masyarakat dari ketegangan ini adalah tanda hilangnya aktivitas pembenaran atas hilangnya energi sosial yang positif. Gagasan Islam telah nonaktif. Ketika Al-Qur’an diturunkan pada generasi pertama Muslim, maka kaum muslimin memperoleh energi vital atau efektivitas yang membentuk mereka menjadi generasi terbaru. Mereka bangkit membentuk peradaban yang unik dalam waktu singkat. Ben Nabi mengatakan: “pemikiran keagamaan telah membuat perubahan sehingga terjadi manifestasi individu dan tampak perubahan seiring dengan perubahan dirinya.

Sesungguhnya perlawanan Palestina takkan mempunyai efektivitas dan berpengaruh secara signifikan kecuali bila komitmen dengan pemikiran Islam yang telah membangun peradaban mereka, jika memang kita seorang muslim. Namun ketika kita tidak komitmen dengan Islam dan pengajaran-pengajarannya maka pastilah kita akan kehilangan kemampuan untuk melakukan perubahan dan kondisi ini menjadikan kita sia-sia alias tidak efektif.

Jika pun seseorang bersemangat untuk mengobati kekurangan kaum muslimin hari ini, maka pastilah ia yang efektif, selama ia komitmen penuh dengan ajaran Islam. Diantaranya yang terpenting adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Karena hal ini kewajiban baginya, dimulai dengan niat dalam jiwa dan berakhir dengan jihad di jalan-Nya.

Ketika kita menyodorkan tentang kondisi umat Islam saat ini, dengan mudah kita bisa merasakan bahwa kondisinya sedang tidak efektif. Apa yang terjadi di Suriah, contoh kongkret betapa kaum muslimin tak efektif. Tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk menyingkirkan kerusakan dari dirinya sendiri.

Dari sinilah kita bisa melihat, perlawanan Islam di Palestina telah hidup dan efektif pada beberapa aspek. Dimulai dari kemampuannya mengusir penjajah Zionis dari Gaza, kemudian mampu mengendalikan kekacauan keamanan yang terjadi di sana, serta mampu memberikan perlawanan atas serangan agresi Zionis ke Gaza. Tapi tentu kondisi ini perlu semangat dan kerja nyata untuk bisa membendung kesulitan-kesulitan yang selama ini terjadi. Semisal blokade Gaza, krisis listrik, perlintasan Rafah yang selalu tertutup kecuali beberapa waktu terbatas. Selain menghadapi isu-isu yang mengancam Palestina, Gaza dan gerakan perlawanan.

Perlawanan Islam di Gaza menyerukan kerja nyata yang lebih besar dari sebelumnya untuk menghadapi berbagai tantangan terbaru. Di antaranya,

–     Membuat solusi kongkret bagi kesulitan listrik di Gaza
–     Membuka perlintasan Rafah secara permanen bagi orang maupun barang
–     Wajib menindak para penyebar isu yang bertujuan meracuni suasana kerja perlawanan, di antaranya dengan menyerang situs-situs elektronik musuh hingga televisi dan radio nya untuk membendung media asing
–     Tidak boleh menyerah terhadap blokade laut yang diterapkan Zionis terhadap Gaza. Perlawanan dalam hal ini hampir-hampir terlupakan

Inilah sebagian contoh tantangan yang sedang dihadapi perlawanan, hingga efektif selaras dengan nama Islam yang agung yang telah membentuk perlawanan. (asy/infopalestina)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

PBB: 132.000 Etnis Rohingya Dibiarkan Mati Kelaparan Oleh Rezim Myanmar