Home / Pemuda / Essay / Tentang Cinta

Tentang Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

dakwatuna.com Awalnya aku ingin menulis tentang media, ingin mengulas persidangan Ahmad Fathanah kemarin dari perspektif sosio-politik dagang sapi antara pengusaha –broker- dan kepemilikan media dalam skema politisasi kebijakan.  Berbagai macam bacaan dan data sudah dikumpulkan. Namun apa daya, bahan bacaan dan data tersebut tertinggal di kamar teman yang terkunci dan ditinggal oleh pemiliknya untuk beberapa hari kedepan. Akhirnya, aku pun mengurungkan menulis hal tersebut hari ini, dan menggantikannya dengan menulis Tentang Cinta.

Ups.. Tentang Cinta..? Rasa-rasanya tema ini sudah terlalu sering aku tulis sejak masa-masa Aliyah dulu. Entahlah, apa yang selalu menghampiri pikiranku untuk tidak pernah bosan-bosannya membicarakan tentang cinta.

Cinta, sebuah kata yang selalu digadang-gadang oleh setiap insan. Cinta adalah anugerah yang luar biasa, mulai dari Fir’aun hingga manusia terjahat didunia ini sekali pun tidak pernah terlepas hidupnya dari cinta. Begitu pun kita manusia yang biasa-biasa saja, pasti akan selalu dibaluti dengan cinta. Oleh karena itu, banyak pujangga berkata, “manusia takkan bisa hidup tanpa cinta”. Mendengar ungkapan tersebut, aku hanya bisa tertawa sambil berkata, “ah.. masa iya sich..?”.

Tapi kali ini, sejenak kita membongkar segala macam konsepsi tentang cinta, ditinjau dari paradigma kita dalam mencinta, memaknai dan mengamalkan cinta itu sendiri sebagai sebuah perenungan kita dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Mari Kita Mendefinisikan Cinta!

Woow.. Cinta harus didefinisikan?  Bagaimana jadinya ya..? Hmm.. Maksudnya sich berbicara tentang bagaimana berbagai macam orang memaknai cinta,  bahasa kerennya adalah ‘epistimologi cinta’ yang berkaitan dengan falsafah hidup seseorang dalam mengarungi cinta. Keren kann…? :)

Jikalau orang sedang jatuh cinta pada lawan jenis, banyak orang yang menganggap hal tersebut sebagai segala-galanya cinta. Pemaknaan terhadap cinta disimplistiskan hanya tertuju pada seseorang dengan segala macam pengorbanannya. Banyak para musisi negeri kita yang membuat syair “karena cintaku hanya untukmu”, “aku takkan hidup tanpamu”, “cinta pertama dan terakhirku”, “aku ada hanya untukmu”, “dunia bagaikan milik kita berdua”, dan lain sebagainya.

Kalau aku mengistilahkan orang-orang yang mengkonsepsikan cinta seperti itu sebagai cinta yang pelit. Mengapa? Sebab d itengah hamparan alam semesta yang begitu luas, di tengah milyaran makhluk yang terbentang mengindahkan permata kehidupan, di tengah milyaran manusia dengan segala macam keindahannya, ia hanya mencintai seseorang. Sedangkan yang lain, hanyalah menjadi hiasan intuitif belaka.

Di saat yang bersamaan, ia juga layak dikategorikan sebagai cinta ½ sadar. Mengapa? Sebab buatku, orang seperti ini sudah menjadi manusia setengah tidak sadar. Antara cinta dan rasionalitas manusia tidaklah berimbang, antara ‘mana yang menghidupkan’ dan ‘mana yang mendampingi kehidupan’ tidak dapat dibedakan. Pasalnya, sudah jelas-jelas yang mengurusi mereka semenjak lahir bukanlah ‘pacar’ mereka. Orang tuanya yang selama ini membesarkan mereka, justru tidak dimuliakan. Karena cintanya hanya untuk si ‘dia’. Ingat, perkataan itu do’a lho..

Huuft.. Sebenarnya masih banyak lagi untuk mengkategorikan cinta orang-orang yang seperti ini. Namun, yang lebih parah lagi adalah orang-orang yang seperti ini patut untuk dicap sebagai kaum yang terkenasyndrome gilalova. Kali ini aku mendefinisikan syndrome gilalova sebagai penyakitnya orang-orang yang lebih mencintai ‘pacar’-nya dengan segala-galanya cinta dan pengorbanan, ketimbang ‘mencintai –yang Maha Menciptakan Cinta, yaitu Allah Swt- dengan segala-galanya cinta dan pengorbanan’. Ia lebih mencintai si ‘dia’ daripada mencintai ‘si pembuat cinta’ itu sendiri.  Aneh bukan?.

Lalu, yang terakhir adalah, biasanya cintanya orang-orang yang seperti ini akan selalu terjebak dalam pseudo-romantism alias romantisme semu.  Romantisme semu terjadi pada mereka yang menganggap bahwa romantisme dalam cinta itu diukur dengan intensitas seseorang dalam berpacaran,  jalan berduaan, bergandengan tangan, bermesraan, makan sepiring berdua, saling suap-suapan, mengarungi suka dan duka berduaan, dsb. Padahal semua itu adalah romantisme semu. Sebab semua itu hanyalah ilusi kebahagiaan yang tercipta atas dasar pemenuhan keinginan nafsu, bukan dari ketulusan cinta yang sesungguhnya.

Secercah Pengembaraan Cinta

Lalu, bagaimana seharusnya kita dalam mencinta? Sebelum beranjak lebih jauh, kita harus membicarakannya pada landasan cinta yang paling dasar, yaitu; cinta memiliki berbagai macam tingkatannya. Cinta yang paling utama haruslah kita tujukan untuk mencintai Allah sebagai Khaliq yang Maha menciptakan Cinta, yang Maha pemberi nikmat bagi seluruh umat manusia. Allah-lah yang telah menciptakan kita untuk merasakan nikmatnya hidup didunia ini, dan hanya Allah-lah Tuhan yang satu, yang memberikan segala macam nikmat kepada kita selaku makhluk-Nya.

Dengan mencintai Allah, maka kita meyakini keesaan-Nya yang telah menciptakan kehidupan ini. Keyakinan iman itulah yang harus dibuktikan melalui amal perbuatan dengan cara mengikuti segala macam perintah serta menjauhi segala macam larangan-Nya. Meyakini bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah adalah yang terbaik untuk kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Konsep teologi cinta dibangun dalam hal ini. Aspek yang bersifat hablun minallah pastilah akan berkorelasi positif dengan hablun minannas. Sebagaimana Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya di surat Al-Maa’un “Maka celakalah orang-orang yang sholat!” ketika ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, dsb. Dalam hal ini saja, kita bisa mengambil hikmahnya bahwa orang yang semakin baik sholatnya, maka ia juga akan semakin baik akhlaq dan budi pakertinya terhadap sesama dengan cara saling mengasihi, mencintai, dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Contoh lainnya adalah konsepsi tentang zakat, infaq, maupun shadaqah. Tiga hal tersebut merupakan ibadah yang ditujukan pada Allah dengan cara memberikan sebagian harta kita kepada orang-orang yang membutuhkan. Perilaku tolong menolong, saling berbagi terhadap sesama, saling berempati satu sama lain yang dilekatkan pada kecintaan dan pengaharapan ibadah kita pada Allah akan memberikan ketenangan hidup didunia maupun di akhirat.

Lalu bagaimana ketika hati ini tak kuasa menaruh cinta kepada seseorang yang kini menjadi pujaan hati?Huufftt,.. Rasanya ketika membicarakan si “dia” perasaan begitu berdebar, jantung pun mulai berdegup kencang tak kuasa menahan letupan-letupan cinta yang kian membahana didalam hati setiap insan.Kasmaran ooo.. kasmaran.. Hal yang seperti ini adalah sunnatullah, tinggal kitalah yang menentukan bagaimana cara memanajemen perasaan itu semua.

Yang pertama kali harus kita telaah adalah, faktor apa yang menyebabkan kecintaan kita pada si “dia”? Alangkah indahnya jika kita mengikuti apa yang Rasulullah ajarkan, sebagaimana Rasulullah pernah bersabda; “Seorang perempuan biasanya dinikahi karena empat perkara: Harta, nasab, kecantikan dan agamanya. Maka utamakan memilih wanita yang beragama, kamu akan merugi (bila tidak memilihnya).” (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadist ini, Allah memerintahkan kita untuk mengawali cinta kepada seseorang karena faktor agamanya. Kecintaan kita harus bisa membahagiakan kehidupan ini di dunia dan di akhirat yang berbekal pada keimanan dan ketaqwaan.

Ketika kita mengawali cinta dengan ketaqwaan, maka yang harus kita sandingkan dalam perjalanan cinta kita adalah keikhlasan. Ketika kita mencintai seseorang, yakinkanlah bahwa cinta itu hadir karena sebuah keimanan yang melandasinya, cinta itu hadir sebagai sebuah nikmat dari Allah yang patut kita syukuri sebagaimana mestinya.

Untuk mensyukuri nikmat itu, maka yang harus kita perhatikan adalah; ketika semakin besar cinta kita pada seseorang, semakin besar pula cinta kita pada Allah yang dibuktikan dengan semakin meningkatnya ketaqwaan dan keimanan. Semakin besar cinta kita pada seseorang, semakin besar pula cinta kita pada sesama yang dibuktikan dengan semakin meningkatnya kepedulian dan pengorbanan kita untuk menyelesaikan penderitaan mereka. Semakin besar cinta kita pada seseorang, bukan berarti harus semakin dekat antara kita dengannya, melainkan semakin dekat kita dengan Dzat yang Maha Menentukan Takdir, yaitu Allah Swt. Semakin besar cinta kita pada seseorang, semakin besar pula semangat kita untuk terus menelusuri ‘hakikat cinta’ yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan selalu berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan begitulah, cinta akan menjadi semakin indah, semakin mengilhami kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari Ridho Allah. Bukankah dengan begitu, kita akan memiliki pengalaman cinta yang berbeda, pengalaman cinta yang penuh dengan perjuangan dalam menggapainya, yang diilhami dengan nilai-nilai suci yang melandasinya.

Ketika cinta sudah melanda, tak usahlah kita umbar kesembarang manusia. Cukuplah Allah kita jadikan sebagai tempat curahan hati kita yang paling utama. Uraikanlah do’a kepada Sang Kholiq untuk memberikan yang terbaik bagi perjalanan cinta kita. Memohon perlindungan dari-Nya, untuk selalu diberikan petunjuk merangkai cinta yang dirahmati-Nya.

***

 Biarkanlah cinta itu mengarungi perjalanan hidup kita..

Ukirlah cinta dengan sebuah pengabdian dan pengorbanan, bukan berniat untuk dilihat si ‘dia’, melainkanuntuk ‘yang Maha Menciptakan dia’..

Ukirlah cinta itu dengan keikhlasan, maka ia akan memberikan ketenangan bagi kehidupan..

Tak usah kau gundah jika ‘dia’ bukan jodohmu. Yakinlah bahwa takdir Allah adalah baik, tinggalah kita lebih bersemangat untuk menjadi yang terbaik..

Cinta bukanlah suatu hal yang ‘tabu’ untuk diperbincangkan, melainkan harus ditelusuri segala macamhikmah yang terkandung didalamnya.. Agar kita pun tidak tersesat dalam memahami cinta..

Cinta akan menjadi semakin indah ketika dalam perjalanan mencarinya, kita dihalau dengan bertubi-tubihalang dan rintang, berpeluh kesah dengan pengabdian dan perjuangan, dengan begitulah jalan hidup cintaakan semakin indah..

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang