Home / Berita / Opini / Kunci Rahasia Cinta Erdogan VS Protestor

Kunci Rahasia Cinta Erdogan VS Protestor

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Beraber yürüdük biz bu yollarda, beraber ıslandık yağan yağmurda, bana her şey sizi hatırlatıyor. Yaradılanı seviyoruz yaratandan ötürü”

(Penggalan isi pidato Erdogan)

Oleh sebab Apakah Erdogan Mencintai negeri dan bangsanya?

Pendukung Attaturk (dok. Ema)
Pendukung Attaturk (dok. Ema)

dakwatuna.com – Angkara. Aku baru saja merampungkan beberapa PR Bahasa Turkey ketika tiba-tiba handphoneku bergetar berulang kali. Berusaha mengabaikan dan mengerahkan konsentrasi pada butir-butir soal di buku latihan. Tapi hendphone dengan warna pembe itu tak berhenti bergetar.

“Orang rame banget cuy, kayaknya pendukung Erdogan, jam enam di mulai.” Suara dari seberang telepon. Aku terhentak dari PR ku, melihat jam. Pukul 15:00 waktu Turki. Mengingat tanggal dan hari, Minggu 16 Juni 2013. Segera aku ingat dua hari yang lalu isu tentang aksi damai counter attack dari Erdogan dengan jumlah masa sebesar 1 Juta orang akan digelar. Isu itu aku baca dari beberapa akun twitter. Dan aku tidak sabar menunggu hari minggu. Masih ada waktu dua jam hingga pukul 18:00 menjelang aksi dukungan kepada Basbakan Erdogan digelar.

Serampung mengerjakan PR aku segera meninggalkan asrama. Menyusuri jalan menanti otobus. Lama menunggu. Sayang sekali tak ada bus. “Benar, pasti di Kizilay acaranya, dan jalan macet.” Gumamku. Sore itu aku bermaksud bergabung rawe-rawe dalam rombongan pendukung Erdogan. Sekedar untuk menjadi penonton dan pendengar yang baik.

Aku memutuskan menyusuri jalan mencapai metro bawah tanah. Sebelum akhirnya menemukan sebuah otobus yang lewat. Jalan-jalan tampak sepi dan lengang, seperti tak akan ada kejadian sejarah penting Turkey apa pun. “Ini aneh.” Gumamku. Hingga akhirnya pada persimpangan jalan kondektur memberikan kode bahwa jalan menuju kizilay di tutup. Ada yang ganjil. Aku terpaksa turun di sebuah tempat yang aku sendiri tidak tahu daerah apa. Menyusuri jalan dan bertanya pada orang sekitar bagaimana mencapai Kizilay dengan jalan kaki. Ternyata aku hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai di pusat kizilay. Akan tetapi sepanjang jalan menuju Kizilay sangat sepi.

“Mengapa tak ada rombongan pendukung Erdogan di sini. Mengapa tak ada gemuruh suara takbir seperti suara telepon di seberang di kota Istanbul sana?” Begitu batinku bertanya. Sementara tangan kiriku memegang hp dan mendengarkan suara telepon dari temanku yang tengah berada di antara masa Erdogan Istanbul. Suara gemuruh takbir terdengar jelas. Sementara jalanan menuju Kizilay di Ankara sepi. Hingga akhirnya pada suatu titik aku tahu, ketika mataku melihat asap menyembul di tengah-tengah keriuhan suara pukulan persis suara pukulan “tencere [panci]” pada malam demo beberapa pekan yang lalu. Mendapati Jalan-jalan terlihat kotor dan rusuh. Papan reklame kembali terlihat pecahannya, padahal baru sehari lalu aku di tempat itu. Yap, aku yakin bahwa di pusat Kizilay para protestor Gezy Park Taksim kembali digelar. Meski ragu aku memutuskan bergabung bersama beberapa rombongan protestor.

Tidak banyak masa yang melakukan demo sore kemarin, jalanan masih tampak terkondisikan, mobil-mobil masih berjalan dengan normal. Hanya beberapa jalur yang terpaksa harus di tutup. Nyaris 1 jam aku berdiri dan menyaksikan kejadian, merekam dan mengambil foto, bertanya dengan pertanyaan yang sama pada beberapa orang yang ikut bergabung dalam rombongan demo. Mereka menjawab dengan hal yang sama “Kami melakukan protes ini untuk Erdogan, untuk Gezy Park Taksim.” Kata salah satu bapak berusia sekitar 48 tahun.

Gemuruh suara tiang listrik di pukul-pukul menggaung di langit-langit kota Ankara. Puluhan tentara berjaga di seberang jalan. Sementara protestor berkumpul di sisi seberang Pusat gedung perbelanjaan Kizilay dengan meneriaki tentara yang tengah berjaga-jaga. Di langit sebuah helikopter berputar-putar dan di tengah jalan sekitar 4 buah mobil tank [yang biasa aku lihat pada filem perang] berjejer di tengah jalan.

Kondisi demo yang digelar kemarin sore di Kizilay sekitar pukul 14:30 waktu Turki tidak banyak protestor yang terlibat. Meski toko-toko di sekitar demo digelar terpaksa harus tutup demi menghindari aksi yang tidak di inginkan. Para protestor masih meneriakkan yel-yel yang sama “Kemal Pasha Askerleriyiz” [kami pasukan kemal Pasha] dengan memegang bendera-bendera Kemal Atarturk berwarna merah menyala itu.

Lama aku menunggu apa yang akan dilakukan oleh para protestor yang berteriak tidak menentu itu sebelum akhirnya ikut serta berlari-lari saat rombongan protestor tiba-tiba berlari ke berbagai arah. Karena tidak tahu apa yang tengah terjadi akhirnya aku pun ikut berlari bersama masa lainnya. Tapi tampaknya protestor berlari menghindari para polisi yang berusaha menangkap para provokator. Masa bersembunyi di balik gedung dan beberapa masuk ke gedung parkir umum, sementara aku memutuskan berlari mencari jalan lurus ke arah metro. Tidak ada yang aku pikirkan selain mungkin sebaiknya aku pulang. Sebelum akhirnya seorang berdiri di depanku dan memperingatkanku jangan coba-coba berani mengambil foto, ketika tahu bahwa aku seorang mahasiswa asing.

Yah, sore itu kukira aksi 1 juta dukungan untuk Erdgoan yang isunya telah kutangkap beberapa hari lalu pun akan di gelar di pusat ibu kota Ankara. Ternyata dugaanku salah, yang kudapati kemarin sore adalah para Protestor yang kembali turun seolah ingin memperlihatkan bahwa mereka layak mempertahankan kemauan mereka akan isu Gezy Park Taksim. Mereka akan bertahan. Katanya.

Meski sesampai di asrama aku menonton siaran langsung Erdogan di tengah sejuta masa di Istanbul ketika akhirnya ia mengatakan bahwa “Tiada yang dapat menghentikan kita kecuali Allah, bersama sebagai bangsa dan tidak akan ada yang dapat memecah belah.”

Yah, Kota Turkey di bawah pimpinan Erdogan, aku menyaksikan baru 8 bulan hidup di Turkey jalan-jalan di bangun dalam hitungan minggu, taman kota di bangun dalam hitungan hari, perencanaan pembangunan danau dan 6000 ribu pohon yang akan terwujud di tahun 2015 terpampang dengan gagah di jalan-jalan utama Kota Ankara. Maka wajar jika kekuatan ini menjadi sumber yang menakutkan bagi negara-negara Eropa lainnya. Khususnya yang tidak menginginkan Turki menjadi sumber negara berkekuatan besar di dunia, Eropa khususnya. Yah inilah kota Erdogan, negeri Konstantinopel.

“Beraber yürüdük biz bu yollarda, beraber ıslandık yağan yağmurda, bana her şey sizi hatırlatıyor. Yaradılanı seviyoruz yaratandan ötürü”

Bersama kita tapaki jalan ini, bersama kita basah pada turunnya hujan. Aku akan mengingat apapun tentang kalian. Kecintaaku pada kalian, karena Allah yang telah menciptakan kalian.”

Begitulah salah satu kutipan isi pidato Erdogan sore itu.

Catatan, Ankara 17 Juni 2013. Pada sebuah musim.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Departemen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jambi. Menekuni bidang konseling, parenting dan education khususnya psychology anak dan remaja. Founder bidang pemberdayaan masyarakat dan entrepreneurship Suku Anak Dalam Jambi. Menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, belajar, musik, photography, bahasa dan travelling. Saat ini tercatat sebagai pengurus pusat MITI Mahasiswa [Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia] Hubungan Luar Negeri dan pengurus Hubungan Masyarakat Lembaga Kajian Masyarakat Indonesia Turki. Inisiator dari FLP Turkey ini juga tercatat sebagai sekretaris umum FLP wilayah Turki yang saat ini tercatat sebagai Master Student Education of Psychology Ankara Universitesi, Turkey.

Lihat Juga

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris