Home / Berita / Opini / Membaca Kelemahan Ummat dalam Era Perang Pemikiran

Membaca Kelemahan Ummat dalam Era Perang Pemikiran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

siluet-orang-tanda-tanya1dakwatuna.com Dalam dunia Islam kekinian, tak jarang kita medengar istilah ghawzul fikr atau perang pemikiran. Perang pemikiran merupakan sebuah bentuk perang modern yang dijiadikan sebagai metode terbaru untuk melemahkan Islam dari dalam.

Latar belakang munculnya ghowzul fikri ini tentunya adalah ketakutan yang sudah memuncak dari pihak-pihak yang manganggap Islam sebagai musuh. Mereka yang sudah sejak lama ingin melemahkan Islam merasa bahwa perang secara fisik dengan menggunakan senjata sudah tak efektif lagi. Semua cara dan peralatan yang selama ini mereka gunakan dari masa ke masa sama sekali tak mampu membumihanguskan Islam dari muka bumi ini. Bagi mereka, ummat Islam adalah ummat yang siap mati dan rela berkorban apapun demi idealismenya. Oleh sebab itu, sekuat apapun mereka menghancurkan pasukan Muslim, akan muncul pasukan-pasukan baru yang selalu siap menghadapi mereka. Atas dasar itulah mereka melancarkan sebuah model peperangan modern yang bisa menghancurkan ummat dari dalam dirinya. Dan model peperangan modern itu adalah perang permikiran.

Model perang pemikiran inilah yang sekarang kita kenal sebagai ghowzul fikri. Dalam model ghowzul fikri ini, sasaran utama yang akan mereka hancurkan bukan lagi kuantitsa fisik ummat Islam, melainkan pola pemikiran, gaya hidup, dan aqidah ummat Islam itu sendiri. Dengan menyerang sisi-sisi tersbut ummat Islam akan hancur dengan sendirinya, hancur dari dalam dirinya sendiri. Salah satu bentuk penterangan tehadap pola pemikiran ummat yang mereka lakukan adalah melalui jalur kebudayaan. Dengan menyerang budaya dan membudayakan kehidupann yang jauh dari nilai-nilai Islam, mereka dapat menanamkan pemikiran baru yang jauh dari ajaran yang seharusnya. Salah satu contoh yang dapat diambil antara lain tentang ilmu pengetahuan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, mereka mengotak-ngotakannya sehingga seolah-olah ilmu itu terpisah jauh dari nilai-nilai agama. Mereka mendoktrinasi pemahaman bahwa Ilmu pengetahun adan ilmu agama adalah dua hal yang berbeda dan tidak dapat dipersatukan. Padahal sebenarnya, agama dan ilmu itu turun dari stau sumber yang sama, yaitu Allah swt.

Sayangnya, dengan kondisi penyerangan pemikiran seperti itu, banyak ummat Islam yang mungkin belum sadar sehingga mereka terbawa arus dan seolah tak terjadi apa-apa pada diri mereka. Keadaan ini diperburuk dengan adanya beberapa faktor internal ummat yang semakin melemahkan. Beberapa faktor internal tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Semakin menjauhnya ummat Islam dari Al-Qur’an dan As-sunnah. Salah satu tanda menjauhnya ummat Islam dari Al-Qur’an adalah menjauhnya mereka dari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Banyak yang lebih memilih mempelajari bahasa lain karena menganggap bahwa bahasa Araba sangat sulit untuk dipelajari.
  2. Ketidakpercayaan ummat Islam terhadap Islam itu sendiri. Salah satu contohnya dengan tidak meyakini keadilan beebagi harta waris yang sudah diatur dalam ilmu waris.
  3. Kebiasan taqlid, atau dalam bahasa Indonesia kita memahaminya sebagai kebiasaan ikut-ikutan (immaah). Kebiasaan ini timbul saat seseorang tidak lagi memiliki paradigm dan konsep hidup yang jelas.
  4. Tafriqoh, terjadinya perpecahan dalam tubuh ummat.

Dari kondisi semacam ini, seharusnya ummat Islam harus mulai menyadari semua ini. Sudah saatnya ummat ini bangkit dan beranjak dari posisi “korban” peperangan modern ini.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi. (Pa Moyo)

Membaca Peta Perang Turki di Suriah