Home / Pemuda / Essay / Menjadi Generasi Fana, Autis, dan Pikun

Menjadi Generasi Fana, Autis, dan Pikun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

tabdakwatuna.com Angkot adalah keseharian saya. Bermacam-macam orang saya temui di angkot. Namun kejadian yang satu ini paling menarik untuk dikoreksi dan menjadi bahan introspeksi untuk diri kita masing-masing…

Suatu hari sehabis pulang bimbel, seperti biasa kendaraan saya adalah angkot. Hari itu saya lemas sekali, jadi sangat malas untuk memerhatikan apapun di sekeliling dan asyik dengan pikiran saya sendiri.

Satu-satu penumpang naik. Mulai dari orang tua hingga anak sekolah. Penumpang terakhir adalah seorang ibu-ibu paruh baya. Saya taksir usianya sekitar 32 atau 33 tahun. Karena sudah sangat lemas, saya tidak memerhatikan wajah para penumpang angkot lainnya.

Penumpang mulai berkurang. Kini tinggal saya, seorang ibu yang habis pulang kerja, bapak tua dan cucunya, dan ibu yang tadi menjadi penumpang terakhir. Kebetulan jalan raya dua arah yang dilalui sedang mengalami perbaikan dan menyebabkan macet panjang. Akhirnya supir angkot tersebut bertanya “Emh, ini ada yang mau ke Angris nggak? Soalnya saya mau muter lewat jalan belakang. Macetnya parah,” kami para penumpang menjawab tidak, kecuali ibu paruh baya tersebut. “Bener ya nggak ada?” Tanya supir angkot lagi. Tak ada jawaban.

Sekarang saya baru perhatikan, bahwa dari tadi ibu tersebut asyik dengan BB-nya. BBM-an mungkin, pikir saya. Angkot pun melaju lewat jalan alternatif. Tiba-tiba ibu paruh baya tersebut tertawa disertai gumaman agak keras manggunakan bahasa Inggris dengan mata masih terpaku pada handphone-nya. Entah apa yang diucapnya. Berselang beberapa menit kemudian ibu paruh baya tersebut tertawa lagi, juga disertai dengan gumaman bahasa Inggris. Penumpang lain agak heran melihatnya. Beberapa menit kemudian terjadi hal yang sama. Malah terkadang cekikikan dengan mata masih terpaku pada handphone-nya.

Sudah dua puluh menit angkot melaju di jalur alternatif dan akhirnya masuk lewat jalan biasa kembali. Ibu paruh baya itu masih terus asyik dengan kegiatannya tadi. Kemudian salah satu penumpang turun dan membayar. Ibu paruh baya itu seperti tersadar sesuatu dan melihat sekeliling, “Ini kan Medang pak? Lho kok nggak lewat Angris?” tanyanya penuh heran. Rasanya ingin tertawa keras mendengar pertanyaan itu. Ibu yang baru pulang kerja pun tertawa licik dan berkata “Yaah bu, kemane aje?”.

Akhirnya ibu paruh baya tersebut turun dengan muka sedikit malu. Kemudian ibu yang baru pulang kerja bergumam “Kemane aje emang? Capek deh gue,” . Lucu rasanya. Saya hanya tertawa kecil. Meski rasanya ingin terbahak-bahak mengingat kegiatan ibu paruh baya tersebut selama angkot melaju di jalan alternatif.

Pikiran saya teringat lagi pada teman-teman atau orang yang saya temui di angkot setiap harinya. Mereka sering menunduk, terus menunduk sambil sesekali tertawa atau  bergumam dengan mata masih terpaku pada handphone. Entah chatting, main game, BBM, atau membuka situs social network.

Waktu saya pernah mengunjungi Singapura, saya juga terheran-heran. Semua penumpang MRT-nya hanya menatap handphone mereka masing-masing. Menonton film, video, apapun terpaku pada gadget masing-masing.

Seperti amfibi, hidup di dua dunia. Malah yang fana jauh terlihat lebih “nyata” dibanding yang sudah jelas nyata. Yang nyata terlihat maya, tak menyenangkan, masalah dimana-mana. Sedangkan di “dunia maya”, beragam kesenangan tersedia.

Yang fana terlihat nyata. Yang nyata terlihat fana. Akhirnya tanpa disadari semuanya fana. Karna mempernyata yang fana, yang nyata dianggap fana dan menyusahkan.

Lebih terpaku pada layar gadget, hingga rasanya sana-sini tak ada. Asik dengan “dunia maya”-nya. Kita tahu anak yang mengalami autisme tidak bisa diajak berpikir bersama atau bicara serius.

Asik dengan dunianya. Tak mengerti dunia luar, dunia luar pun sulit masuk dan berinteraksi – sama dengan Autisme

Tak lagi ingat sekeliling. Lupa ibadah, lupa baca Qur’an, lupa ingat yang memberi napas. Pokonya lupa deh, kan ada yang lebih nyata dan menyenangkan — walau sebenarnya fana.

Kejadian ini sangat sering dan mudah terbaca di keseharian kita saat ini. Dari anak muda hingga orang dewasa. Dampak dari teknologi dan komunikasi.

Nggak salah sih, pake BB atau gadget keren yang bisa social media, chatting, nonton Youtube. Tapi jangan jadi follower aja ya. Nggak ada bedanya sama kebanyakan orang yang megang gadget keren hari ini, jalannya nunduk, di angkot nunduk, naik ojek nunduk. Padahal kan sebelum ada gadget-gadget keren ini, cuma binatang babi yang jalannya nunduk. Kita kan manusia yang dimuliakan, diberi akal, sempurna lagi.

Be different! Pakailah gadget-gadget keren tersebut dengan bijak, tidak menjadi autis terhadap sekeliling, tidak merusak ukhuwah, tidak merusak ibadah, juga tidak membuat lupa bahwa masih ada kehidupan yang jauh lebih menyenangkan daripada “dunia maya” penuh nikmat itu.

Be different! Karena Rasulullah sudah ingatkan:

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Tapi jangan pula mengasingkan diri. Be Wise!

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Khairunnisa Rahadatul ‘Aisy Sodikin
Pelajar kelas XII IPA SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School. Bercita-cita menjadi seorang dokter. Suka menulis essay, dan cerpen. Senang merangkai kata. Ingin menjadi penghafal Quran dan pendakwah. Not nine nor ten, not the greatest, but having a great willing to be a doctor".

Lihat Juga

Ilustrasi. (reproduksi-remaja.blogspot.com)

Save Generasi Muda (SGM)