Home / Berita / Nasional / Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah, Semua Bujang dan Gadis Hanya Bayar 2 Juta

Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah, Semua Bujang dan Gadis Hanya Bayar 2 Juta

Silatnas Hidayatullah 2013
Silatnas Hidayatullah 2013

dakwatuna.com –  Sebanyak  49 santri Hidayatullah mengikuti prosesi acara Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah (PMNH) yang diselenggarakan Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Ahad (16/062013).

Helatan pernikahan massal ini merupakan rangkaian acara menyongsong Silaturahim Nasional (Silatnas) yang bertepatan dengan usia ke-40 tahun lembaga yang concern di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial keumatan ini.

Kegiatan yang telah menjadi tradisi Hidayatullah ini diikuti oleh peserta putra dan putri dari perwakilan dari seluruh nusantara.

Ketua panitia pelaksana acara, Abdul Ghofar Hadi, mengatakan peserta di antaranya ada yang dari Kabupaten Nabire (Papua) Medan (Sumatera Utara), Bali, Sulawesi, Kupang, Jawa Timur, Provinsi Jambi, Manado, Jawa Barat, dan lainnya.

Adapun usia peserta laki-laki, kata Ghofar, yang paling muda adalah 22 tahun, sementara peserta putri 18 tahun.

“Usai pernikahan, selanjutnya akan ada program Peluncuran Dai Nusantara saat Silatnas Hidayatullah yang diikuti oleh para pengantin,” kata Abdul Ghofar Hadi.

Ghofar Hadi menambahkan seluruh peserta pernikahan Mubarak ini, sebagaimana gelaran serupa yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, semua masih berstatus bujang dan gadis.

Jika umumnya menikah harus mengeluarkan biaya jumbo baik untuk mahar, resepsi acara, dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai. Ini berbeda dengan yang menjadi tradisi di Hidayatullah. Kata Ghofar, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.

“Peserta menyerahkan dua juta rupiah. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke KUA, dan konsumsi pembinaan pra nikah peserta selama 15 hari,” jelas Ghofar Hadi.

Kemarin acara ini dihadiri ribuan undangan. Termasuk di antaranya keluarga peserta mempelai pengantin.

Hadir pula Walikota Balikpapan Rizal Effendi, anggota DPRD Kaltim Sofjan Alex dan Darlis Pattolongi.

Anggota Dewan Pengarah, Ustadz H Abdul Qadir Jailani, mengatakan tugas memasangkan puluhan calon mempelai jelas bukanlah pekerjaan ringan. Itulah mengapa, kata dia, tim SC yang ditunjuk merupakan orang-orang berpengalaman yang juga mayoritas kader pendahulu Hidayatullah.

“Ada penelusuran peserta dari aspek pemahaman keislaman, kehidayahtullahan, pernikahan, dan kepribadian. Semua peserta harus melawati proses ini. Ada 2 tim yang menangani ini,” jelas Abdul Qadir.

Tujuan penelusuran, lanjutnya, semata-mata untuk mengetahui kafaah, kesiapan dan persiapan peserta sebagai imam di rumah kelak, serta sebagai ajang seleksi peserta.

Hidayatullah yang berdiri 3 Maret 1976 ini memang tak bisa dilepaskan dari tradisi pernikahan massal. Bahkan, budaya pernikahan massal Islami tanpa pacaran di Indonesia sejatinya dipopulerkan pertama kali oleh Hidayatullah.

Menurut catatan resmi, awal kali pernikahan massal mubarak Hidayatullah digelar pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah. Kala itu, karena keterbatasan biaya, jamuan resepsi yang dihidangkan sangat sederhana berupa nasi dan sayur gambas.

Setelah yang pertama, tradisi itu terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Puncaknya adalah saat Hidayatullah menggelar pernikahan serupa sebanyak 100 pasang santri tahun 1997 yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.

Walikota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, kegiatan tersebut layak menjadi kritik bagi masyarakat modern yang justru kerap mengalami masalah krusial kerumahtanggaan.

“Ini menjadi oto kritik bagi pagelaran pernikahan kita yang selama ini katanya modern, ternyata juga banyak masalah-masalah yang dihadapi,” kata Rizal Effendi ditemui saat menghadiri acara Pernikahan Mubarak Hidayatullah di Balikpapan, Ahad kemarin.
Rizal memandang tradisi Pernikahan Mubarak sebagai sesuatu yang sangat luar biasa dan menjadi teladan bagi kita semua.

“Ini sesuatu yang sakral, dan mulia,” ungkapnya. (sbb/hdt/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Musibah kebakaran Asrama Putri Hidayatullah Bontang, Rabu (26/8/2015). (ist)

Asrama Putri Hidayatullah Bontang Terbakar, 150 Santri Butuh Pakaian dan Perlengkapan Belajar