Home / Berita / Nasional / Surahman: Jilbab Dan Sholat Lima Waktu Hukumnya Wajib Bagi Muslimah

Surahman: Jilbab Dan Sholat Lima Waktu Hukumnya Wajib Bagi Muslimah

Anggota Komisi X DPR RI, Surahman Hidayat. (inet)
Anggota Komisi X DPR RI, Surahman Hidayat. (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Polemik pelarangan jilbab bagi polwan di institusi kepolisian, membuat banyak tanggapan dari para tokoh, ulama dan politisi.  Termasuk Surahman Hidayat, anggota komisi X dan ketua BKSAP DPR RI, sekaligus ketua DSP DPP PKS, menyayangkan pelarangan tersebut.

Surahman, ketika di temui di gedung DPR, kamis, 13 Juni 2013, menjelaskan, saya menyayangkan pelarangan tersebut,  bahwa jilbab dan shalat lima waktu Hukumnya wajib bagi Muslimah, seharusnya di institusi Kepolisian tidak ada pemisahan kebijakan pada dua kewajiban tersebut.

Pelarangan jilbab adalah bentuk pelanggaran UU dan melawan semangat ke Bhineka Tunggal Ika, selain itu melanggar Hak Asasi Manusia. Institusi kepolisian seharusnya memberikan contoh bagaimana memberikan kebebasan beragama yang merupakan hak setiap warga negara Indonesia.

Saya, jelas Surahman berharap institusi kepolisian tidak phobia terhadap pemakaian jilbab bagi polwan, apalagi dengan alasan anggaran belanja,  karena sesungguhnya  jilbab tidak akan menganggu profesionalisme kepolisian dalam menjalankan tugasnya, justru dengan memakai jilbab polwan muslimah akan terlihat anggun, dan semakin menunjukkan eksistensinya dalam bekerja.

Indonesia adalah negara mayoritas beragama Islam, jangan sampai kita tertinggal dengan beberapa negara barat dalam memberikan apresiasi kepada polisi wanita muslimah untuk memakai jilbab dalam menjalankan tugas kesehariannya. Tutup Surahman. (sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • bibik dumn

    Menurut pandangan masyarakat Islam pada umumnya, rambut perempuan merupakan anggota tubuh yang tidak boleh diperlihatkan di depan umum. Perdebatan pada umumnya mengacu ke surat An Nuur ayat 31 dan Hadis Nabi. Dua teks itu membawa kesimpulan yang umumnya dianut iaitu perempuan dewasa wajib bertudung (khimar) menutupi rambutnya di depan umum.

    Pertanyaannya adalah, bagaimana bila kedua teks itu tidak dimaksudkan demikian? Bagaimana bila dikatakan rambut perempuan itu boleh diperlihatkan di depan umum?

    Surat An-Nuur 31

    “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, supaya mereka menundukkan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka, dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak daripadanya;

    Dan hendaklah mereka meletakkan penudung mereka pada dada mereka, dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa suami mereka, atau anak lelaki mereka, atau anak lelaki suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau perempuan mereka, atau apa yang tangan kanan mereka memiliki (hamba daripada rampasan perang),

    Atau lelaki yang melayan mereka yang tanpa mempunyai keinginan seks, atau kanak-kanak kecil yang belum mengerti aurat (bahagian-bahagian sulit) perempuan”

    Ayat surah Annur:31 ini menyebutkan bahwa perempuan haruslah (i) menjaga kehormatan dalam cara berpakaian, (ii) tidak memperlihatkan perhiasan kepada selain muhrimnya, anak-anak yang belum dewasa, dan laki-laki kasim; kecuali yang biasa terlihat, (iii) menutupi dadanya (dengan menggunakan khumur (penutup).

    Kata ‘kehormatan” itu sebenarnya tafsiran dari kata asalnya yang tertulis, yaitu saw’atihima, yang ertinya organ seksual (anggota aib). Bila melihat kata asalnya, jelas bahgian mana yang disebut dengan organ seksual, rambut tidak termasuk kedalamnya. Sementara kata kehormatan memang lebih luas maknanya, mencakup aspek perilaku dan keperibadian.

    Pengertian perhiasan memang luas dan Al Qur’an tidak secara spesifik menunjuk kepada satu hal mengenai apa yang dimaksud dengan perhiasan. Boleh bermaksud perhiasan dalam erti gelang, cincin, kalung, anting, dan sebagainya. Boleh juga dandanan / hiasan perempuan (termasuk aksesori tadi). Boleh juga termasuk bahagian tubuh tertentu (dalam hal ini ada yang menafsirkan termasuk juga rambut). Namun bila yang dimaksud adalah bahagian tubuh tertentu, ayat ini secara spesifik sudah menetapkan kemaluan dan bahagian dada. Apabila rambut atau bahagian tubuh lainnya juga harus ditutup, mengapa tidak disebutkan secara spesifik? Sementara, kemaluan dan dada disebutkan secara tegas. penyataan “kecuali yang biasa terlihat” seakan menegaskan bahwa selain organ genital dan sekitar dada, maka pengertian bagian tubuh dan perhiasan dapat diserahkan kepada kebiasaan lokal.

    Penyataan “hendaknya meraka menutupkan kain tudungnya ke dadanya jelas sekali adalah perintah menutupi dada; bukan menutupi rambut, ataupun menggunakan tudung. Mengapa harus menggunakan tudung untuk menutupi dada? Menurut Muhammad Said al-Asymawi (seorang juris, pakar perbandingan hukum Islam dan hukum konvensional, mantan Kepala Pengadilan Tinggi Kairo, Mesir), pada zaman Nabi dahulu, perempuan Arab memang sudah memakai tudung sebelum turunnya Surah Annur ayat 31 namun pemakaiannya menjuntai ke belakang, sementara dadanya dibiarkan terbuka (Muhammad Said al-Asymawi, Kritik Atas Jilbab, 2003). Jadi, daripada tudung itu menjuntai ke belakang, lebih baik julurkan ke depan untuk menutupi dada. Tuhan hanya membetulkan cara pakaian mereka sahaja dan bukannya mewajibkan tudung.

    Namun Ulama sekarang mengubah “keatas dada mereka”(ala juyubihinna) menjadi “sehingga dada mereka” (ila juyubihinna). Sedangkan maksud ala( ke atas) dan ila (sehingga) itu amat berbeza.

    Tidaklah boleh kita menyangkakan Al-Quran itu tersirat dengan pelbagai makna mendalam yang sukar kerana Al-Quran tidak begitu. Ia mudah difahami oleh semua orang dengan jelasnya.

    “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al Qamar: 17)

    Ibnu Qayyim mengatakan:

    “Barang siapa yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Al Qur’an memiliki takwilan yang tidak kita pahami dan tidak kita ketahui, kita hanya membaca lafadz-lafadznya sebagai bentuk ta’abbudi (beribadah saja)’, maka sungguh dalam hatinya terdapat penyimpangan.”

    Ulasan terhadap hadis:

    HR Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma putri Abu Bakar suatu hari berkunjung ke rumah Nabi, lantas Nabi bersabda menegurnya: “Wahai Asma! Bila seorang gadis telah haid, tidak boleh (lam yasluh) terlihat bagian organ tubuhnya kecuali bagian ini (Nabi menunjuk muka dan kedua telapak tangannya).”

    Hadis lainnya, Aisyah meriwayatkan, bahwa Nabi pernah bersabda: “Tidak halal (la yahill) bagi seorang perempuan yang telah baligh, sementara dia beriman kepada Allah dan hari akhir, terlihat bagian organ tubuhnya, kecuali muka dan kedua tangannya, sampai batas ini (Nabi menggenggam setengah lengannya).”

    Hadith ini tidak boleh digunakan dalam mentahqiq hukum secara qat’i (putus) mahupun Dzanni (sangkaan) kerana kesahihan hadith tertolak kerana:

    Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitabnya Sunan Abu Daud, jld 4, ms 521, no: 3945. Berkata Abu Daud: Hadis ini mursal, Khalid bin Duraik belum pernah menemui A’isyah radiallahu ‘anha. Dalamnya juga terdapat Sa‘id bin Basyir Abu Aburrahaman al-Bashari, tamu Damsyik, maula Bani Nashr, tidak seorang yang membincangkannya.

    Dalam hadis terdapat dua kelemahan, pertama kerana salah seorang perawinya (orang yang mendengar hadith) iaitu Khalid bin Duraik ternyata tidak pernah menemui A’isyah radiallahu ‘anha. Kedua Sa‘id bin Basyir adalah seorang perawi yang daif.[3] Hadis ini juga dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Syu‘aib al-Iman, jld 6, ms 165, no: 7796 dan Sunan al-Kubra, jld 7, ms 138, no 13496 melalui jalan yang sama.

    Kedaifan hadis ini sebagaimana terang Abu Daud menyebabkan sesetengah pihak, terutamanya di kalangan modernis menolak kewajipan memakai tudung bagi wanita Islam.

    Akan tetapi semakan lanjut mendapati hadis ini memiliki beberapa penguat yang lain. Pertama, hadis yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, no: 13497, al-Thabarani dalam Mu’jam al-Ausath, jld 6, ms 169, no: 8394 dan Mu’jam al-Kabir, jld 24, ms 142, no: 378 melalui jalan isnad yang lain dengan maksud yang sedikit berbeza, iaitu ketika menunjuk ke tangannya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menarik lengan baju sehingga tidak ternampak kecuali jari-jari tangan.

    Berkata al-Baihaqi selepas mengemukakan riwayat kedua ini: Isnadnya daif. Kedaifan isnad tersebut disebabkan oleh dua perawi, sebagaimana yang diterangkan oleh Mahmud Hasan Ismail, penyemak Mu’jam al-Ausath, iaitu:

    [1] Ibn Luhai‘ah: Dia jujur tetapi terdapat campur aduk dalam riwayat yang disampaikannya.

    [2] ‘Iyadh bin ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahim: Dia longgar, yakni tidak mantap dalam meriwayatkan hadis.

    Tanpa menafikkan bahwa ada kemungkinan memang Nabi telah bersabda seperti tersebut di atas, fakta bahwa Nabi tidak mengumumkan secara luas mengenai aturan berpakaian menunjukkan bahwa Nabi memang tidak ingin mengatur. Bila Nabi berketetapan untuk menerapkan peraturan berpakaian seperti dalam hadis di atas sebagai “peraturan awam” yang mengikat, mengapa beliau tidak mengumumkannya, seperti ketika beliau mencontohkan solat dengan begitu terperinci?

    Namun ada ulama yang menggunakan dalil berikut untuk menyokong kewajipan bertudung:

    Dicerikan oleh Aishah r.a, bahawa apabila para isteri nabi hendak buang air pada malam hari, mereka pergi ke tanah lapang. “Umar (Bin Khatab) mengusulkan kepada Nabi supaya menyuruh para isteri beliau memakai hijab, tetapi Rasullullah tidak berbuat apa-apa. Pada suatu malam isteri nabi Zam’a keluar waktu Isha’ dan dia adalah seorang yang tinggi perawakannya, lalu Umar menyapanya “Hai kami mengenal engkau, hai Saudah. Dia menyapa kerana sangat mengharapkan supaya turun ayat (perintah hijab) memang sesudah itu turun ayat hijab” Sahih Bukhari No 105 Jilid 1, ms 77.

    Adakah ayat hijab (Annur 31) menyokong umar atau menjawab umar? Ini adalah satu persoalannya. Jelas dalam hadith di atas bahawa Nabi sendiri tidak berbuat apa-apa selepas Umar mengusul untuk isteri nabi berhijab (tudung). Kemuadian kelihatan Umar tidak berpuas hati lalu mengintip (seperti mengekori) isteri nabi dan sangat mengharapkan ayat hijab turun selepas itu.

    Jika Ulama mengatakan ayat hijab untuk menyokong umar, adakah Umar begitu tinggi tarafnya berbanding Nabi sehingga menyedari tentang hijab lebih awal berbanding Nabi? Apakah kelebihan Umar di sini?

    Sedangkan dalam suatu peristiwa yang lain jelas bahawa Umar kadangkala melakukan sesuatu yang melebihi had hukum. (Semoga Allah merahmati Umar Ibn Al khattab):

    Al-Imam al-Ghazali menyebut:

    “Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah tanpa perlu melakukan intipan. Sesiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita mengintipnya. Allah Ta‘ala telah melarang hal ini. Kisah ‘Umar dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf mengenai perkara ini sangat masyhur. Kami telah menyebutnya dalam kitab Adab al-Suhbah (Adab-Adab Persahabatan). Begitu juga apa yang diriwayatkan bahawa ‘Umar r.a. telah memanjat rumah seorang lelaki dan mendapatinya dalam keadaan yang tidak wajar. Lelaki tersebut telah membantah ‘Umar dan berkata: “Jika aku menderhakai Allah pada satu perkara, sesungguhnya engkau telah menderhakai-Nya pada tiga perkara. ‘Umar bertanya: “Apa dia?”. Dia berkata: Allah Taala telah berfirman (maksudnya: Jangan kamu mengintip mencari kesalahan orang lain). Sesungguhnya engkau telah melakukan.

    Maka sudah dapat kita fahami bahawa di suatu sudut yang lain surah Annur 31 diturunkan untuk menjawab Umar bahawa tudung kepala tidak di syariatkan bahkan disuruh menutup bahagian aib seperti belahan dada. Tidak mungkin umar mendapat petunjuk lebih awal dari Rasulullah. Sememangnya Saidina Umar R.A diiktiraf kealimannya dan waraknya. Namun tidaklah satu manusia biasa bebas dari kesilapan.

    CUBA KITA AMATI AYAT BERIKUT:

    Wahai orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah Nabi, kecuali kamu diizin untuk menghadiri jamuan, bukan dengan menunggu masa sajiannya; tetapi apabila kamu dijemput maka masuklah; kemudian setelah kamu makan maka hendaklah kamu bersurai dan janganlah dengan berbual-bual. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi sehingga ia merasa malu kepada kamu, sedang Allah tidak malu daripada menyatakan kebenaran. Dan apabila kamu meminta sesuatu yang harus diminta dari isteri-isteri Nabi maka mintalah kepada mereka dari sebalik tabir. (Al-Ahzab:53)

    Ayat ini diguna pakai oleh sesetengah ulama ‘extreme’ untuk mewajibkan purdah/niqab. Tabir yang dikatakan dalam ayat dengan mudah dikatakan purdah atau niqab. Ini amat berlebih-lebih dalam menafsir disamping pemikiran si penafsir dirasuk budaya arab. Pada permulaan ayat jelas menerangkan ayat ini mengkhususkan keadaan isteri nabi di dalam rumah. Sudah tentulah tabir itu bermaksud tingkap atau langsir dan bukannya purdah. Amat mudah mereka menokok tambah maksud ayat hanya kerana ingin mempromosi budaya purdah (budaya arab).

    Sesetengah ulama (lebih longgar) yang lain pula menafsir tabir itu sebagai hijab/jilbab atau lebih dikenali sebagai tudung kepala. Jika inilah yang dimaksudkan oleh ulama itu, sudah tentulah sudah tertera dengan jelas di dalam Al-Ahzab:53 bahawa perintang hijab/jilbab/tudung itu hanya khas untuk isteri nabi.

    Pasti ulama akan jawab bahawa hukum kepada isteri nabi dan wanita biasa tidak berbeza. Menurut kajian penulis, hukum kepada isteri nabi dan wanita biasa adalah berbeza dalam beberapa hal.

    Buktinya dalam ayat berikut:

    Ertinya : Wahai isteri-isteri Nabi, barangsiapa di antaramu yang melakukan maksiat dengan jelas, maka di gandakan azab buatmu dua kali ganda” (Al-Ahzab:59)

    Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti perempuan yang lain kalau kamu bertakwa. Maka janganlah kamu berbicara dengan lembut manja kerana boleh menimbulkan keinginan orang yang di dalam hatinya ada penyakit; dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik, sesuai dan sopan.(Al-Ahzab:32)

    Wahai orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah Nabi, kecuali kamu diizin untuk menghadiri jamuan, bukan dengan menunggu masa sajiannya; tetapi apabila kamu dijemput maka masuklah; kemudian setelah kamu makan maka hendaklah kamu bersurai dan janganlah dengan berbual-bual. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi sehingga ia merasa malu kepada kamu, sedang Allah tidak malu daripada menyatakan kebenaran. Dan apabila kamu meminta sesuatu yang harus diminta dari isteri-isteri Nabi maka mintalah kepada mereka dari sebalik takbir. Cara yang demikian lebih suci bagi hati kamu dan hati mereka. Dan kamu tidak boleh sama sekali menyakiti Rasul Allah, dan tidak boleh bahawa kamu berkahwin dengan isteri-isterinya sesudah ia wafat, selama-lamanya. Sesungguhnya segala yang tersebut itu adalah amat besar dosanya di sisi Allah. (Al-Ahzab:53)

    Ayat-ayat di atas terbukti berbeza kiraan dosa antara isteri nabi dan wanita biasa. Jika kita meneliti dan berfikir mengapa isteri nabi dilarang berkahwin lagi lepas kewafatan nabi, pasti tiada jawapannya kerana kita lihat wanita biasa boleh berkahwin lagi selepas tamah iddah. Ini hukum yang jelas berbeza namun kita terimanya sebagai hukum Allah. Tidak boleh dipertikai lagi.

    Jika didebat sekalipun maksud tabir itu hijab, jilbab, purdah, atau tudung, ia tidak lagi bermakna kerana semua isteri-isteri nabi sudah pun wafat. Maka tidak lah menjadi kewajipan kepada wanita sekarang untuk bertudung atau berpurdah.

    Jika kita hanyamendengar percakapan umum untuk menentukan kebenaran, maka maka nescaya kesesatan itu benar.

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am, 6:116)

    Daripada Abdullah Bin Mas’ud, Diriwayatkan oleh Al-Imam Darimin dalam musnad Ad -Darimin:

    “Apa akan terjadi kepada kamu nanti (nasib kamu), apabila fitnah (bid’ah) itu menyelubungi kamu, sehingga orang-orang yang tua telah tua dalam keadaan fitnah itu, dan anak-anak kecil membesar dalam keadaan fitnah itu, dan orang ramai menganggap fitnah itu adalah sunnah (sesuatu yang dilakukan dan diajarkan oleh nabi) sehingga apabila ditinggalkan sesuatu dari amalan fitnah itu, mereka mengatakan “engkau telah meninggalkan sunnah”

    “Diperlihatkan kepadaku umat-umat manusia. Maka aku dapati ada nabi yang mempunyai seorang pengikut. Ada pula nabi yang mempunyai dua orang pengikut. Ada pula yang mempunyai beberapa orang pengikut. Ada juga nabi yang tidak mempunyai seorang pengikut pun…” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

    Oleh itu kebenaran bukanlah berdasar kepada majoriti atau kata-kata orang sebaliknya kebenaran dihakimi oleh Al-Quran dan Sunnah serta pembuktian kesahihan dalil.

    Jangan juga kerana ia nampak baik maka dengan mudah kita katakan ia adalah perkara yang benar.

    “Katakanlah: “Mahukah Kami khabarkan kepada kamu akan mereka yang paling rugi amalannya? (Iaitu) mereka yang telah sia-sia kerja buatnya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka (dengan akal sendiri) bahawa mereka melakukan amalan yang baik”. (Surah al-KahfI: 103-104).

    Pendapat

    Berbeza dengan pandangan pada umumnya, saya peribadi berpendapat bahwa rambut perempuan tidak harus ditutup. Lebih jauh lagi, pakaian bukanlah suatu syariah atau kewajiban agama; itu lebih kepada etika, kepantasan, dan cita rasa yang disesuaikan dengan budaya kesopanan setempat. Pedoman umum agama dalam hal berpakaian adalah untuk menjaga kesopanan dan kehormatan.

    Pakaian dapat digunakan untuk menunjukkan identiti, misalnya perempuan Muslim dapat menggunakan tudung untuk menunjukkan kemuslimannya. Namun ini tidak bererti tudung dapat digunakan sebagai “indikator” (pengukur) keimanan atau kesolehan seseorang. Seseorang yang sudah memakai tudung misalnya, dia semestinya dapat saja secara bebas melepaskan dan menggunakannya kembali, tanpa harus takut dinilai “kurang beriman” atau level keimanannya “turun”.

    Tudung, sebagaimana pakaian umumnya, adalah pilihan bebas setiap orang, sepanjang dengan berpakaian itu kesopanan dan kehormatannya terjaga. Kerana itu, tidak seorang pun atau pihak manapun yang dapat memaksakan apakah seseorang itu harus memakai atau tidak boleh memakai tudung.

    Ini juga sependapat dengan Ibn Ashur iaitu pangasas kitab Maqassid Assyariah yang digunapakai di seluruh fakulti shariah di dunia.

    • Angga Aditya S

      SUMBER DARI MANA INI<<ANDA MUSLIM ATAU BUKAN??PENJELASAN YG ANDA UTARAKAN SEPERTI MEMUTAR BALIKAN FAKTA YG BUKAN SEBENARNYA,,,,DI AL-QURAN SUDAH DIJELASKAN BERJILBAB ATAU MENUTUP AURAT BAGI PEREMPUAN HUKUMNYA WAJIB,

Lihat Juga

Anggota Komisi I DPR RI, DR. Sukamta. (fraksipks.or.id)

Pemerintah Diminta Tegas Soal Aturan Penempatan Data Center di Indonesia