Home / Berita / Opini / Daya Tarik Deswita Sari

Daya Tarik Deswita Sari

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Deswita-Saridakwatuna.com – Sepanjang jalan menuju puncak Merapi Jogjakarta, di kawasan Cangkringan Umbul Harjo, kita akan menemui Deswita Sari. Ini bukan tentang nama seorang gadis, tapi Deswita Sari adalah singkatan dari Desa Wisata Sapi Merapi yang dikembangkan oleh Dompet Dhuafa (DD). Semula program ini di inisiasi sebagai program pasca bencana erupsi merapi beberapa tahun yang lalu. Program ini mengambil sasaran para petani peternak yang terkena dampak erupsi merapi. Kepada para peternak ini, DD memberikan modal rintisan sapi untuk diternakkan.

Kelompok petani peternak yang menjadi mitra pendampingan program ini bernama Ngudi Makmur yang beranggotakan 30 petani. Kelompok tani Ngudi  Makmur  yang diketuai oleh Bapak Santoso Widodo ini sekarang sudah memelihara lebih dari 100 ekor sapi perah, hasil mengembangbiakkan beberapa tahun terakhir ini. Beberapa sapi tersebut, ada yang sudah mencapai bobot lebih dari 300 kg dengan harga jual Rp 17 juta per ekor. Kawasan Merapi yang sekarang menghijau memberikan pasokan rumput yang cukup banyak sebagai pakan sapi.

Dari sapi-sapi yang dipelihara ini, setiap hari dihasilkan produk susu yang sudah memenuhi standar kebersihan atau hygienist menurut persyaratan pabrik-pabrik olahan susu nasional. Produk susu tersebut kemudian dipasarkan melalui koperasi susu setempat. Untuk selanjutnya koperasi susu menjual kepada perusahaan-perusahaan besar yang memerlukan susu sebagai bahan baku untuk pengolahan produknya. Aliran susu ini setiap hari telah menjadi sumber pendapatan bagi petani.

Dalam perkembangan selanjutnya, kawasan tempat kelompok petani peternak sapi ini oleh DD dikembangkan menjadi Desa Wisata Sapi Merapi (Deswita Sari). Di desa ini sekarang sedang dibangun Rumah Susu sebagai tempat penampungan susu hasil memerah dari sapi. Untuk selanjutnya dijual kepada koperasi. Di Rumah Susu ini pun masyarakat bisa langsung membeli susu murni yang segar. Rumah Susu juga akan diarahkan menjadi tempat edukasi bagi masyarakat tentang sapi dan beternak sapi, sehingga semakin banyak masyarakat yang nantinya bisa mempelajari proses beternak sapi yang baik, sekaligus mengenali produk susu.

Di desa ini juga sudah dikembangkan biogas dengan bahan baku kotoran sapi. Hasilnya ternyata sudah terbukti menghasilkan energi panas yang mampu digunakan untuk keperluan memasak di dapur, tanpa efek negatif atau tidak menyenangkan. Pengembangan biogas ini juga akan semakin  ditingkatkan, sehingga semakin banyak kegunaan untuk membantu kehidupan petani, dari pemanfaatan segala yang terkait dengan sapi.

Dalam perencanaan berikutnya, di tempat tersebut juga akan dijadikan wahana wisata sapi yang semakin luas dan beragam. Di tempat tersebut akan disediakan wahana untuk memberikan makan sapi, memerah sapi dan memandikan sapi. Ini akan menjadi tempat wisata yang menyenangkan kepada anak-anak, khususnya anak-anak sekolah. Masyarakat juga bisa mempelajari susu dan produk olahan susu turunan sehingga menambah pengetahuan masyarakat.

Tentu saja, sebagai tempat wisata, ke depannya harus disiapkan segala sarana yang memungkinkan masyarakat banyak mengunjungi kawasan tersebut dengan nyaman. Selain tersedianya toilet, mushalla dan kantin, juga perlu tersedia toko yang menjual pernak-pernik terkait sapi. Pernak-pernik terkait sapi tersebut misalnya permen susu, boneka sapi, asesoris bergambar sapi, termasuk juga kaos sapi. Apabila sapi di Deswita Sari ini semakin banyak dan berkembang, maka setiap hari, suara dari Deswita Sari akan semakin keras dengan bunyi : Moo….. (ajc/sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Menjadi Trainer di berbagai perusahaan nasional dan internasional sejak tahun 1999 untuk bidang kepemimpinan, manajemen organisasi, perencanaan strategis, motivasi berprestasi, kreativitas dan inovasi, kewirausahaan, pemberdayaan, manajemen zakat, manajemen organisasi nirlaba, social entrepreneurship, CSR dan Community Development.

Lihat Juga

Parsel Pendidikan Untuk Anak Perbatasan