Home / Pemuda / Cerpen / Untukmu Pangeranku, Al-Itsar

Untukmu Pangeranku, Al-Itsar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Assalamu’alakum Itsar, bagaimana keadaanmu, Nak? Semoga kamu selalu dalam lindungan dan cahaya-Nya, kapanpun dan dimanapun dirimu berada.

Itsar, anakku..

Surat ini aku tuliskan jauh sebelum dirimu lahir, Nak. Jauh sebelum kita bertemu. Dan cintaku telah tumbuh sebelum pertemuan itu tiba. Bahkan saat aku menuliskan ini, rahimku belum merasakan apa-apa. Namun, aku yakin suatu hari nanti, sosok khalifah sepertimu akan lahir ke dunia ini, Nak. Insya’Allah. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku dulu, agar lebih akrab, kamu boleh memanggilku dengan sebutan ‘Ibu’. Insya’Allah aku lah kelak yang akan mendidikmu Nak, memperkenalkanmu dengan indahnya Islam, mengajarimu banyak hal, dan akan setia menemanimu hingga dirimu dewasa dan pandai memimpin dirimu sendiri.

Itsar, pangeranku..

Sungguh, aku tak ingin mendzalimi mu, Nak. Meski aku sekarang masih jadi calon ibu yang payah dan mungkin masih suka berlaku kurang adil, Insya’Allah hingga detik ini pun aku masih membina diriku untukmu. Bukan kah yang namanya belajar itu harus “long life” kan, Nak? Sejujurnya, aku masih harus banyak belajar, Nak. Semoga kamu mau menerima keadaanku yang serba kekurangan ini.

Itsar, Apakah kamu tahu arti namamu, Nak? Ibu yakin kamu pasti sudah paham ya tentang itu, namamu begitu indah Nak. Itsar, mendahulukan saudaranya dari dirinya sendiri. Akhlak yang mulia, puncak tertinggi dari ukhuwah Islamiyah. Itsar, sifat yang jika itu memang ada pada dirimu, maka kamu akan dicintai oleh semua manusia, terlebih lagi oleh Allah SWT. Itsar, tak banyak Nak yang bisa seperti itu. Maka dari itu, jadilah Itsar, jadilah bagian dari orang yang sedikit itu, Nak. Dahulukan saudaramu, dahulukan agamamu. Jadilah orang yang pertama, yang berjuang untuk agama ini Nak. Jadilah orang yang petama berkorban untuk agama ini.

Itsar, pangeranku..

Mungkin suatu hari nanti dirimu akan bertanya, ‘Mengapa aku harus sholat, Bu? Mengapa aku harus berpuasa? Mengapa aku harus sayang pada saudara seimanku? Mengapa kau harus sering bersedekah? Mengapa aku harus sholat di masjid, Bu? Mengapa aku dipaksa menghafal Al-Qur’an?’ Atau mungkin kamu akan bertanya ‘Bu, Mengapa mainan ku tak banyak? Waktu bermainku pun terbatas, Mengapa aku harus jadi pemberani? Mengapa aku harus berkata lemah lembut pada Ibu? Mengapa aku tidak boleh menonton televisi setelah Sholat Isya? Mengapa aku harus belajar sungguh-sungguh?’

Lalu, setelah dirimu semakin tumbuh, pertanyaanmu akan berganti menjadi ‘Bu, mengapa aku tidak boleh bermain games setelah pulang sekolah? Bu, mengapa aku tidak boleh berpacaran? Mengapa aku disuruh menjaga pandangan? Mengapa aku tidak boleh merokok? Bu, mengapa aku berbeda dengan teman-teman? Mengapa aku dibilang culun? Mengapa aku dibilang tidak gaul? Mengapa aku harus menahan diri, Bu?’

Maka, atas semua pertanyaanmu, Ibu hanya bisa menjawab, ‘Percayalah Nak, semua yang ibu larang itu dibenci oleh Tuhanmu dan semua yang ibu suruh, itulah yang dicintai oleh TuhanMu. Maka cinta apalagi Nak yang paling abadi selain cinta Tuhanmu, cinta Allah SWT. Janganlah dirimu malu nak, percuma malu pada dunia, malu lah pada Allah SWT. Janganlah dirimu haus pujian nak, pujian dunia itu melelahkan, harapkan lah ridho Allah SWT. Harapkan lah dirimu mulia dimata-Nya.’

Itsar, sangat banyak yang ingin aku bagi padamu. Mungkin aku akan banyak bercerita sebelum dirimu tidur. Kamu bebas menentukan topik cerita kita, mulai dari cerita tentang Allah, rasul dan nabi-Nya, tentang Rasulullah dan kehidupan beliau, tentang sahabat-sahabat Rasulullah, atau tentang saudara-saudara kita yang sedang berjihad di perbatasan sana, Nak. Bebas !

Terakhir dari ku, kita tidak tau apa-apa tentang takdir bukan? Bisa jadi, kita tidak pernah bertemu, bisa jadi surat ini hanya angan-anganku. Ya bisa jadi pertemuan kita tidak di dunia, Nak. Namun, bagaimanapun akhir kisah ini, percayalah, aku sangat menyayangimu, Nak.”

Wassalammu’alaikum

Ibu mu

***

Surat ini sudah saya baca puluhan kali. Setiap kali membacanya, saya selalu membayangkan wajah Ibu. “Ah Ibu romantis sekali, padahal sekalipun saya belum pernah melihat wajahmu langsung, Bu.” Pandangan saya sekarang tak lepas dari sebuah foto, foto ibu yang tersenyum cantik dengan pakaian sederhananya. Saya mulai berbicara lagi dalam hati, sambil menatap foto itu, “Bu, Insya’Allah besok saya akan menikahi seorang akhwat, mungkin ia tidak sehebatmu, Bu. Baru beberapa minggu lalu saya mengenalnya, walau demikian Insya’Allah ia sholih, Bu. Dan akan selalu belajar dan terus membina dirinya, seperti Ibu. Cita-citanya pun mirip seperti Ibu, menjadi dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, begitu ceritanya.”

Saya dekap foto Ibu, sembari dalam hati berdo’a untuk-Nya. Cinta ini unik, saya begitu mencintai Ibu, meski pertemuan yang kami dambakan tidak terjadi di dunia, Insya’Allah pertemuan abadi akan mempertemukan kami di Surga-Nya kelak, Aamiin.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.
  • Lailiyati

    Menjadi ibu yang baik itulah cita-cita bagi semua muslimah, seharusnya. Izin share ya adik Arnova.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November

Organization