Home / Berita / Rilis Pers / Jangan Lupakan Peran Informal Leader untuk Pembangunan Bangsa

Jangan Lupakan Peran Informal Leader untuk Pembangunan Bangsa

Silatnas Hidayatullah 2013
Silatnas Hidayatullah 2013

dakwatuna.com – Dai adalah informal leader. Namun, selama ini dai atau pen-dakwah masih kerap dipandang sebelah mata. Padahal peran dai untuk pembangunan Indonesia sejatinya se level dengan profesi guru bahkan dosen di perguruan tinggi.

“Profesi dai adalah pilihan bergengsi. Mereka bahkan sering rela harus terjun ke wilayah-wilayah keras, terasing, minoritas, dan serba terbatas,” kata Ketua Organizing Committee Silatnas Hidayatullah 2013, Hamzah Akbar.

Dikatakan Hamzah, sejatinya para dai dan muballigh yang telah berjibaku di berbagai daerah dengan seabreg tantangannya, merupakan wujud resistensi peran dai untuk pembangunan bangsa.

“Dalam hal ini dai adalah informal leader yang perannya setara dengan peran pemerintah untuk mencerahkan masyarakat di bidang ilmu pengetahuan, pembangunan karakter, moralitas, serta kemandirian umat,” kata Hamzah.

Kata Hamzah, saat ini sebagian orang masih kerap memicingkan mata terhadap profesi dai. Untuk itu, peran dai di masa mendatang harus menjadi prioritas perhatian pemerintah sebagai pionir gerakan sosial terkait dengan pembangunan karakter bangsa.

“Tidak sedikit dai yang bertugas di pelosok-pelosok nusantara menjadi motor penggerak pendidikan masyarakat dan menjadi penggagas kreativitas mendorong kemandirian umat,” jelas Hamzah Akbar.

Hamzah menegaskan, selayaknya pemerintah dan semua elemen bangsa memberi perhatian terhadap para dai agar terus lahir informal leader berkualitas di tengah masyarakat.

Pola kepemimpinan bangsa saat ini, kata Hamzah, sedang mengalami masa transisi dalam format demokrasi langsung, yang memunculkan berbagai variasi cara memproses lahirnya pemimpin (formal). Kepemimpinan menjadi isu yang sangat cair, bahkan hampir-hampir minus ideologi, berubah menjadi semacam ritual jangka pendek, dengan segala konsekuensi positif maupun negatifnya.

Dalam situasi yang sedang berubah ini, jelas Hamzah, masyarakat memerlukan rujukan yang lebih permanen dan lebih mudah dipertanggungjawabkan. Maka, kualitas dari informal leaders akan menjadi penentu, sekaligus pengaman apabila hasil dari proses-proses pemilihan kepemimpinan formal itu ternyata mengecewakan.

“Oleh karena itu Hidayatullah mendorong upaya peningkatan kualitas local figures sebagai panutan umat yang lebih nyata,” imbuh Hamzah yang juga Ketua PW Hidayatullah Kalimantan Timur.

Indonesia yang memiliki lebih dari 18 ribu pulau dan lebih dari 72 ribu desa baik di pantai maupun di gunung, masih akan berkutat dengan persoalan kepelosokan hingga beberapa dekade ke depan.

Bila melihat begitu luasnya Indonesia dengan lebih dari 5.400 kecamatan di 489 kabupaten/kota, Hamzah memandang diperlukan kerja keras dari bukan hanya sembilan wali, tetapi bisa Wali Sembilan Ratus bahkan Wali Sembilan Ribu.

Dalam mengembangkan dakwah Islam di Indonesia yang dimulai sejak dekade 70-an, Hidayatullah menggunakan patron Wali Songo (Wali Sembilan) yang sukses mengembangkan Islam 4 abad lalu.

“Semangat Wali Songo yang layak ditiru adalah keberanian untuk berdakwah di tempat-tempat baru, di daerah pelosok yang minim fasilitas, dan menggunakan jargon-jargon lokal,” jelasnya.

Pada 20-24 Juni nanti, Hidayatullah akan menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) yang bertepatan dengan usia ke-40 tahun lembaga ini. Hamzah menjelaskan, domain Hidayatullah adalah berkarya di tengah masyarakat hingga tingkat grassroots dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial.

Hidayatullah eksis dalam bentuk pesantren, sekolah, yayasan-yayasan sosial, penerbitan, hingga unit-unit bisnis mikro-kecil-menengah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pelan namun pasti, kader-kader Hidayatullah telah tumbuh menjadi pemimpin umat dalam lingkup masing-masing, menjadi local figures yang menyatu dengan masyarakatnya.

“Pembangunan manusia Indonesia harus juga berbasis moral, di situlah Hidayatullah mengambil peran. Sebab, Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan tidak boleh hanya maju dari sisi fisik saja tapi juga harus religius,” ungkap Hamzah.

Hamzah menjelaskan, panitia akan menyiapkan tempat Istirahat peserta yakni dengan pemetaan Guest House untuk tamu khusus 50 orang, ruang laboratorium 50 orang, lantai bawah masjid 200 orang, gedung MI 200 orang, pendopo atau asrama santri dengan kapasitas 500 orang.

Juga disiapkan Rusunawa kapasitas 500 orang, Gedung Tsanawiyah 300 orang, Gedung Aliyah 300 orang, ada juga 10 unit tenda TNI untuk500 orang. Maka dengan demikian akomodasi tempat dapat menampung sebanyak peserta 2500 orang.

Adapun tempat acara shalat jamaah dan halaqah dipusatkan di Masjid Ar-Riyadh dengan kapasitas 2500 jamaah, sementara acara formal dipusatkan di lapangan dengan fasilitas tenda/kursi kapasitas 5000 orang yang terbuka untuk umum.

Hamzah Akbar menyebutkan, helatan nasional Hidayatullah tersebut akan dihadiri minimal 5000 orang peserta dari 32 provinsi di Indonesia. Pertemuan nasional ini digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. (sbb/dakwatuna)

Drs. Tasyrif Amin

Ketua Steering Committee Silatnas Hidayatullah 2013

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Alumni KAMMI Deklarasikan Organisasi, Bertekad Untuk Menyatukan Kekuatan Alumni