Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hadiah untuk Sang Pemenang

Hadiah untuk Sang Pemenang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (profimedia.cz)
Ilustrasi. (profimedia.cz)

dakwatuna.com Berbicara tentang amanah adalah berbicara tentang “sesuatu” yang sangat melekat pada diri seorang manusia, bahkan sejak pertama kali ia keluar dari rahim ibunya. Bagaimana tidak? Seorang bayi yang tak berdaya tersebut lahir ke dunia sudah pasti mengemban minimal 2 amanah dalam hidupnya, yaitu sebagai seorang hamba dan sebagai seorang khalifah. Setelah ia bertumbuh, maka amanah sekunder lain pun berdatangan, mulai dari amanahnya sebagai seorang anak, sebagai seorang pelajar, sebagai seorang pemimpin di kelompoknya, hingga kelak mengemban amanah sebagai pemimpin keluarga dan pemimpin Negerinya. Lalu, apa itu amanah?

Amanah adalah menjaga hak orang lain yang Allah perintahkan kita untuk menjaganya. Ada beberapa kata kunci yang saya cerna dalam satu definisi tersebut. Yang pertama, Amanah melibatkan kepentingan orang lain, Amanah sejatinya diberikan oleh Allah, dan Ada “pertanggungjawaban” kita terhadap amanah.

Amanah dan Keterlibatan Orang Lain

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda :“Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya :‘Ambil lah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas’. Si Pemilik tanah berkata kepadanya: ‘Saya menjual tanah kepadamu berikut isinya’. Akhirnya, keduanya menemuai seseorang untuk menjadi hakim….” –kutipan H.R Bukhari dan Muslim

Sesederhana itu lah aplikasi dari “amanah”. Dari cerita tersebut, pembeli menyadari bahwa emas di dalam tanah tersebut adalah hak orang lain, maka sudah serharusnya ia memberi tahu tentang emas tersebut kepada penjualnya. Sebaliknya, Penjual tanah pun menganggap emas tersebut sudah menjadi hak pembeli, sehingga ia tidak perlu mempermasalahkannya.

Amanah adalah Hadiah

Seperti yang diulas pada paragraf awal bahwa kita terlahir disertai amanah. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari amanah. Amanah tidak terus-terusan menyangkut urusan materil, jabatan dan hal-hal berbau fisik. Setiap kata yang diucapkan adalah amanah, memenuhi hari-hari kita dengan belajar dan beribadah adalah amanah, memperlakukan saudara dan teman-teman dengan baik adalah amanah, bahkan berisitirahat pun amanah. Akan tetapi, satu yang perlu dipahami, bahwaAmanah itu tidak pernah salah memilih siapa yang akan memikulnya. Meski dirasa manusia yang lemah ini tidak siap atau semua amanah itu terasa sangat berat, Insya’Allah manusia yang paham bahwa amanah adalah itu hadiah, titipan dan tanda kasih sayang Tuhannya kepadanya, tidak lah mustahil bahwa ia bisa memenangkan dirinya atas amanah tersebut.

Amanah dan Kebermanfaatan Besar

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Pro bono publico, yang artinya “for the public good”, yaitu setiap amanah dilaksanakan untuk kepentingan besar. Ada misi kebermanfaatan besar. Dimana efek manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemikul amanah tersebut, namun sistemik, menyebar ke ruang lingkup yang lebih besar. Contoh simpelnya, seorang aktivis tidak hanya beroganisasi untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, ada misi besar berupa keteladanan yang hendak ia sebarkan untuk orang-orang disekitarnya.

Amanah dan Pengorbanan

Efek yang besar tentu perlu pengorbanan besar. Ya, kebermanfaatan besar lahir dari pengorbanan yang besar. Pengorbanan untuk mengesampingkan ego pribadi dan untuk lebih mendahulukan kepentingan orang lain. Sebagai manusia, multiple agent, kita dituntut tidak hanya oleh 1 amanah bukan? Begitu banyak. Tentu saja tidak ada toleransi untuk mendzalimi amanah satu dengan yang lain. Lalu bagaimana cara untuk menyelaraskan semua amanah tersebut? Berkorban lah, berkorban untuk memperbesar kapasitas diri.

Akhir dari Amanah

Terkesan menyeramkan, akhir dari amanah adalah pertanggungjawaban. Ya, pertanggungjawaban kita kepada pihak-pihak terkait (orang lain), pertanggungjawaban kita pada diri sendiri, dan yang paling utama adalah pertanggungjawaban kita pada Pemberi amanah tersebut, Allah SWT. Sekecil apapun amanah, sekecil apapun kontribusi terhadapnya, ada beban pertanggungjawaban terhadapanya. Mau menjadi pemenang atas amanah ini, mau jadi pemikul amanah yang biasa-biasa saja, mau yang jadi “hanya sekedar menjalankan” atau bahkan mau menjadi “yang lalai?” Kita sendiri yang memutuskan! Suka atau tidak, energi yang digunakan untuk menjalankan amanah akan tetap sama, rasa lelah nya sama, rasa jenuhnya sama, waktu yang dihabiskan pun sama, lalu kenapa tidak dijalankan dengan sebaik-baiknya saja? :D

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.

Lihat Juga

Terima Kasih untuk Hadiah Ini