Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Bulan Sya’ban (Bagian Ketiga: Hadits-hadits Seputar Nishfu Sya’ban)

Bulan Sya’ban (Bagian Ketiga: Hadits-hadits Seputar Nishfu Sya’ban)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Berikut ini adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang amalan seputas nushfu Sya’ban.

Hadits Pertama:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah kalian pada malam harinya, dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada saat terbenamnya matahari, dan berkata: tidaklah orang yang minta ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni dia, tidaklah orang yang meminta rezki maka Aku akan berikan dia rezki, tidaklah orang yang mendapat musibah maka Aku akan memberinya pertolongan, dan tidaklah ini dan itu, hingga terbitnya matahari.” (HR. Ibnu Majah No. 1388. Al-Bahiaqi, Syu’abul Iman, No. 3664)

Dalam sanad hadits ini terdapat Abu Bakar Ibnu Abi Sabrah.

Imam Al-Haitsami menyebutnya sebagai matruk (haditsnya ditinggalkan). (Majma’ Az-Zawaid, 1/213), dan kadzab (pendusta). (Ibid, 6/268)

Pentahqiq Tahdzibul Kamal, yakni Dr. Basyar ‘Awad Ma’ruf mengatakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in menyebut Ibnu Abi Sabrah sebagai pemalsu hadits.

Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal berkata: “Bapakku berkata kepadaku bahwa Ibnu Abi Sabrah adalah pemalsu hadits.” (Al-Jarh wat Ta’dil, 7/ 306)

Imam Zainuddin Al-‘Iraqi mengatakan dalam Takhrijul Ihya’, bahwa hadits ini bathil dan sanadnya dha’if. (Takhrij Ahadits Al-Ihya’ No. 630)

Imam Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menyatakan bahwa hadits ini dha’if, dan Imam Al-Mundziri mengisyaratkan kedha’ifan hadits ini dalam At-Targhib. (As-Silsilah Adh-Dhaifah No. 2132)

Hadits 2: dari Utsman bin Muhammad bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas, beliau berkata:

تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان

“Ajal manusia ditetapkan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban yang lain.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3681)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini mursal. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 7/246. Hadits mursal adalah hadits yang sanadnya gugur di thabaqat (generasi/lapisan) akhirnya setelah tabi’in (tabi’in adalah generasi setelah sahabat nabi). Maksudnya, hadits tersebut diriwayatkan dari seorang tabi’in langsung ke Rasulullah tanpa melalui seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Contoh seorang generasi tabi’in berkata: Rasulullah bersabda …., inilah mursal, sedangkan hadits yang biasa kita dengar adalah dari seorang sahabat Nabi: Rasulullah bersabda ….., mayoritas ahli hadits dan fuqaha menyatakan bahwa hadits mursal adalah dhaif, demikian juga pendapat Imam Asy-Syafi’i. Sedangkan menurut Malik, Abu Hanifah dan segolongan ulama, hadits mursal adalah shahih. Lihat hal ini dalam karya Imam An Nawawi, At-Taqrib wat Taisir …, Hal. 3)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama dan kalangan Asy-Syafi’iyah, hadits mursal adalah salah satu hadits dha’if . Hadits mursal adalah hadits yang rawinya pada tingkatan setelah tabi’in tidak disebutkan (digugurkan). Sehingga tidak bisa dipastikan apakah tabi’in tersebut mendengar langsung atau tidak.

Jadi, validitas hadits-hadits ini sangat diragukan, seandai pun shahih atau hasan, toh hadits ini sama sekali tidak menyebutkan tentang ritual khusus pada nishfu Sya’ban, hanya menyebut keutamaannya saja.

Ada pun hadits yang berbunyi:

“Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ” Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu ke langit .”

Rasulullah bertanya, ” Malam apa ini Jibril?”

Jibril menjawab. ” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak,…. Hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3837. Imam Al-Baihaqi sendiri berkata: wa haadza isnaad dhaif –isnad hadits ini dhaif. (Lihat Syu’abul Iman No. 3837)

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan adanya cacat pada hadits ini. (Imam Az-Zaila’i, Takhrij Al-Kasysyaf, 3/265)

Alasan lemah dan cacatnya hadits ini telah disebutkan oleh Imam Abul Hasan Al-Kinani, dia berkata:

وفيه محمد بن حازم مجهول وعنه إبراهيم بن عبد الله البصري وعن هذا حامد بن محمود الهمداني لم أعرفهما والله تعالى أعلم

Dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin Hazim, seorang yang majhul (tidak dikenal), telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Abdullah Al-Bashri, dan dari dia telah meriwayatkan Hamid bin Mahmud Al-Hamdani, saya tidak mengetahui keduanya. Wallahu Taala A’lam. (Imam Abul Hasan Al-Kinani, At-Tanzih, 2/150)

Demikianlah kedhaifan hadits-hadits tentang nishfu Sya’ban. (bersambung)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan