Home / Pemuda / Kisah / Guru Nunik Yang Melangit dengan Kesederhanaan

Guru Nunik Yang Melangit dengan Kesederhanaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com Buk Nunik, itulah panggilan akrab dari guru ini. Dia berasal dari Dusun Rejang, Kampung Tanjung Kurung, Kecamatan Kasui, Provinsi Lampung. Berprofesi sebagai guru di SDN 3 Tanjung Kurung membuatnya lebih memkanai hidup. Daerah yang tergolong jauh dari kota, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Way Kanan.

Buk Nunik berasal dari keluarga yang sangat sederhana, memiliki seorang anak dan suami yang selalu mendukung setiap apa yang ia lakukan. Ia adalah seorang guru yang sangat banyak memberikan teladan buat anak muridnya, walaupun hanya lulusan D1 Farmasi, namun kegigihan, semangat belajar untuk lebih baik dalam mengajar, dan kerja keras inilah yang membuatnya memiliki nilai lebih dibanding guru-guru yang lain.  Sekarang beliau sedang menyelesaikan S1 PGSDnya di Universitas Terbuka di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.

Buk Nunik, perempuan yang masih muda berumur 29 tahun. Lahir pada tahun 1984, Buk Nunik kelahiran asli Lampung tetapi berasal dari suku Jawa. Sejak kecil sambil bersekolah Buk Nunik sudah ikut membantu orang tuanya. Beliau hidup mandiri, tidak tergantung pada orang tua. Rumah beliau cukup besar dan sederhana, terdapat pekarangan yang luas di depan dan belakang rumahnya. Pekaranganya dimanfaatkan untuk menanam berbagai sayuran, singkong, cabai, bayam, dan singkong. Ketika memasak, beliau tidak lagi kerepotan dalam mencari apa yang mau dimasak, beliau tinggal petik di hamalan rumahnya.

Menjadi seorang guru hanya tamanan D1 Farmasi di pedalaman provinsi Lampung tidak membuatnya gentar, menurut beliau semua mempunyai hak untuk sukses dan menjadi bermanfaat buat orang lain. Dengan menjadi guru inilah setidaknya beliau bisa merasakan nikmatnya berbagi dan bermanfaat buat orang lain. Walaupun dengan pendapatan per bulan hanya Rp. 250.000,00 beliau terlihat sangat menyukurinya. Bekerja setiap pagi hingga siang bahkan malam hari, bukan masalah buatnya.

Hari-hari buk Nunik diwarnai dengan kerja keras yang tinggi, subuh hari beliau memeriksa kebutuhan rumah tangga dan kemudian mengajar.  Sepulang mengajar beliau ternyata tidak langsung pulau sebagaimana guru-guru yang lain, namun ia masih punya kerjaan sampingan yaitu mengurusi kebun karet miliknya. Dengan menganyuh sepeda motornya melalui jalan bebatuan, dan bukit yang tinggi, jika hujan turun maka, jalanan akan sangat licin. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mengambil getah karet (deres) hingga sore hari. Ketika menjelang sore barulah ia pulang karena harus mengajar kembali di PAUD yang ia bina sendiri sampai menjelang Maghrib. Setelah Shalat Maghrib, beliau melakukan aktifitas sebagai mana ibu rumah tangga biasanya, namun satu hal yang berbeda ia lakukan adalah, ia dekat dengan masyarakat sekitar kampungnya, bersosialisasi dengan masyarakat, baik di masjid atau dirumah-rumah penduduk. Belaiu dikenal tidak hanya di lingkungan sekolah saja, namun di lingkungan tempat tinggalnya pun beliau dikenal sebagai orang yang tekun, rajin, bertanggung jawab, penyayang, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Tak jarang tetangga, dan masyarakat lainnya meminta nasihat dan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.

Selain mengajar di sekolah, buk Nunik juga sebagai pengelola PAUD dan TPA di tempat tinggalnya sendiri. PAUD  dan TPA tersebut didirikan dengan jerih payah beliau bersama suami tercinta, banyak dari masyarakat yang menitipkan anak-anaknya untuk belajar di PAUD dan TPA tersebut, sekarang Buk Nunik sudah memiliki murid di TPA sebanyak 50 orang. Beliau begitu kelelahan dan mengurusi TPAnya, hanya ada  satu orang guru yang masih bertahan sampai sekarang. Dulunya Buk Nunik memiliki 3 orang tenaga guru di PAUD dan TPA. PAUD dan TPA inilah satu-satunya tempat menimba ilmu di daerah tempat tinggal beliau, sehingga apresiasi dan dukungan dari masyarakat sangat besar kepada Buk Nunik. Melihat kesibukkan dari Buk Nunik yang begitu padat ini, aku menjadi banyak mendapat pelajaran dari beliau.

Berbeda halnya dengan Suami beliau. Suami beliau seorang tukang yang setiap pagi hari harus keluar dan kemudian pulang sore harinya. Keluarga ini memang harmonis, mereka mempunyai kesibukkan masing-masing, namun tetap punya waktu untuk anak-anak mereka.

Di sekolah keberadaan Buk Nunik juga sangat berpengaruh. bagaimana tidak,? Buk Nunik menjadi tempat untuk bercerita dan pemberi solusi dari permasalahan-permsalahan guru. Untuk sampai ke sekolahnya, dia harus menganyuh sepeda motornya melalui jalan bebatuan, dan bukit yang tinggi, jika hujan turun maka, jalanan yang sangat licin harus ia lalui untuk sampai ke sekolah tempat mengajarnya.

Pagi itu saya menerima pesan singkat dari buk Nunik, dia mengatakan bahwa hari ini tidak  masuk sekolah, karena harus kerumah sakit. Hal yang berbeda saya rasakan ketika buk Nunik tidak ada. Sekolah terasa sepi, bagaimana tidak. Guru dengan kebiasaan mengontrol anak-anak setiap pagi, dan memeriksa kedisiplanan mereka, itu hilang sama sekali.

Anak-anak SDN 3 Tanjung Kurung memang kurang didikan dari para gurunya, guru hanya memberikan ilmu sebatas kurikulum di sekolah, tidak ada didikan moral yang mereka berikan kepada anak didik. Ini terlihat ketika aku dan beberapa guru ketika sampai di sekolah ini, anak begitu ramai menunggu kedatangan guru baru, dan ketika itu tidak ada diantara mereka yang bersalaman dan bahkan cuek saja. Namun hal ini terlihat berbeda dengan apa yang di ajarkan oleh buk Nunik, dia selalu mendidik dengan kesabaran, kelembutan, ketegasan, dan tanggang jawab yang di tanamkan kepada anak didiknya.

Melihat cara mendidiknya, patutlah guru ini dijadikan teladan buat guru dan anak anak. sikap, dan tanggung jawabnya patut kita contoh sebagai pendidik yang akan memberikan suri tauladan buat anak anak kita.

Buk Nunik, sosok sederhana walaupun hanya lulusan D1 Farmasi, tetapi memiliki semangat belajar dalam meperbaiki cara mengajarnya. Rasa takut pada Tuhan yang membuatnya selalu berusaha bermanfaat untuk orang lain. Kita dapat belajar dari sosok guru yang sederhana, orang mungkin mengatkan pendidikan guru ini rendah namun seorang guru yang bermutu, benar-benar ditiru dari beliau. Bangsa ini sangat membutuhkan orang-orang seperti Buk Nunik yang selalu belajar, selalu ingin tahu, dan selalu ingin menjadi lebih baik dalam memberikan pengajaran kepada anak didiknya. Tidak hanya sekedar mengajar, beliau mendidik murid-muridnya dengan penuh tanggung jawab, dan memberikan teladan buat siswa dan guru yang lain.

Buk Nunik pun menuai harap agar anak- anaknya senantiasa di lindungi Allah SWT, menjadi orang besar, menjadi pintar, tidak rendah diri dan malu akan keadaan mereka. “Mereka harus lebih banyak bersyukur atas apa yg Allah berikan karena kata ustadz di sebuah pangajian, yang bersyukur itu akan ditambahkan nikmatnya”.

Buk Nunik, sekelumit inspirasi untukku, karena dari merekalah kita menjadi seperti ini. Ibuk  kita mungkin memang tak persis separti buk Nunik seorang guru lulusan D1 Farmasi, Ibuk kita jauh lebih beruntung, namun setiap  Ibuk selalu hebat dengan setiap wujud perjuangannya. Tiada lain hanya untuk anaknya. Menjadi anak bukan pilihan namun ia sebuah takdir, kemudian berbaktipun bukan pilihan tapi ia kewajiban.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guru Bantu di SDN 3 Tanjung Kurung, Kecamatan Kasui, dari Yayasan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Menjadi Guru yang Dirindukan