Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Generasi Dakwah Berkualitas

Generasi Dakwah Berkualitas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Dakwah memang menyeru kepada kebaikan. Sering kita tidak menyadari bahwa dalam hidup kita sehari-hari sudah banyak aktivitas dakwah yang kita lakukan. Tapi, Tanpa kita menyadari juga kadang kita sering sekali mengeluh karena kebaikan yang kita sampaikan tidak ditoleh oleh orang. Kita berkata” kenapa mereka tidak mau mengikuti saya padahal saya mengajaknya dalam hal kebaikan lho”. Padahal dalam hadis jelas tertulis yaitu  “sampaikalah walaupun satu ayat”. Perlu kita ketahui bahwa dakwah itu tulus, pelan, lembut,dsb. Proses menjadi hal yang mengharuskan dalam kehidupan. Tidak akan hidup suatu kehidupan jika didalam kehidupan itu tidak ada proses. Begitupula dengan berdakwah. Dakwah tidak akan berada langsung pada puncak kejayaannya jika tidak melewati hambatan. Karena hambatan itu merupakan proses penguatan. Hambatan tidak akan membuat kita berhenti berusaha, akan tetapi hambatan membuat kita mampu menunjukkan potensi dalam diri kita yang terpendam. Mengeluh dan berhenti di persimpangan jalan justru akan membuat kita semakin bingung akan berjalan kemana selanjutnya. Bergerak lah dan berlari untuk tetap berdakwah. Perkara ada yang menoleh atau tidak, itu hanyalah proses dari dakwah itu sendiri. Namun dakwah itu ibarat kereta yang terus melaju. Maka kita perlu berhenti sejenak untuk mengecek kondisi dakwah ini.

Teringat dengan buku karya M Anis Matta yang berjudul “Menikmati Demokrasi” yang berisi “Mari kita berhenti sejenak disini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak yang sudah kita lihat dan kita raih. Tapi, banyak juga yang masih kita keluhkan : rintangan yang menghambat laju kereta, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu di gerbong kereta ini, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandanagan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret, juga banyak kursi kosong dalam kereta dakwah  ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat muat. Dan masih banyak lagi! Jadi mari kita berhenti sejenak disini! Kita memerlukan saat-saat itu; saat dimana kita melepaskan kepenatan yang mengurangi ketajaman hati, saat kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual, saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita. Kita memerlukan saat seperti itu karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan dakwah kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita raih; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah”.

Nah, mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah kita lakukan untuk dakwah ini. Banyak orang yang berpotensi menjadi pemimpin tapi mereka tidak terlalu berambisi untuk meraih kepemimpinan itu. Sebaliknya banyak orang yang sangat berambisi menjadi pemimpin, akan tetapi mereka tidak berkualitas untuk menjadi seorang pemimpin. Inikah yang terjadi di negara kita? Ooooh tentu tidak kita inginkan. Banyaknya gerakan yang ada dalam dakwah membuat dakwah mempunyai bumbu yang beragam. Karena bumbu yang beragam pula, menjadikan dakwah itu hidup dan bergerak maju di seluruh belahan bumi. Apapun gerakan yang menaungi kita, yang terpenting tujuan kita adalah satu yaitu untuk mencapai ridha illahi. Adapun jalan yang kita tempuh belum tentu benar, maka kita harus berusaha dan bertawakkal lebih banyak lagi agar mendapatkan petunjuk dari-Nya. Lantas apa yang terbaik yang harus kita lakukan untuk dakwah ini? Yang terpenting adalah komitmen kita dalam berdakwah harus tetap terpatri dalam jiwa kita agar kita tidak mudah tergoyah dengan hambatan-hambatan yang ada yang akan tentu kita hadapi. Mencetak generasi yang berkualias dan siap pakai dimanapun dibutuhkan adalah mimpiku untuk dakwah ini. Walaupun tidak banyak yang kita pernah lakukan untuk dakwah ini, akan tetapi jika kita dalam membina generasi dakwah haruslah serius karena menjadikan generasi yang berkualitas dan siap pakai dimanapun akan sangat membantu mengepakkan sayap dakwah selebar-lebarnya. Mencetak generasi berkualitas jauh lebih berharga dari apapun.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNRAM. Aktif sebagai pengurus MT.AL-KAHFI FKIP UNRAM sebagai Ketua periode 2013- 2014; staff komisi B Puskomda Nusa Tenggara FSLDK Indonesia periode 2013-2015.

Lihat Juga

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia