Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Sajak-sajak Artistik tentang Sang Nabi

Sajak-sajak Artistik tentang Sang Nabi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Screenshot_051713_082845_AMJudul Buku: Cahaya Purnama Kekasih Tuhan dan Muhammad adalah Utusan Allah

Penulis: Annemarie Schimmel

Penerbit: Mizan

Cetakan: 1, 2012

Tebal: 474 halaman

ISBN: 978-979-433-507-9

dakwatuna.com Bagaimana sih cara mencintai Rasulullah? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para pecinta Nabi Muhammad SAW. Nabi umat Muslim yang namanya tercatat sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.

Lebih dari empat belas abad yang lalu, umat Muslim meluapkan rasa cinta kepada junjungannya itu dalam berbagai bentuk. Satu hal yang menonjol dari peradaban Arab saat itu adalah kepiawaian dalam sastra. Entah berapa syair pujian yang tercipta bagi junjungannya tersebut. Begitu pula kitab yang membahas biografi Nabi Muhammad SAW dari permulaan peradaban Islam hingga zaman modern. Semua karya tersebut dirangkai dalam sajak artistik kepada sang kekasih.

Dalam buku ini, Annemarie Schimmel mengeksplorasi perwujudan penghormatan dan rasa cinta umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW. Uraian buku ini dimulai dari sketsa ringkas kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafat.

Berbagai peristiwa dalam kelahiran beliau ditafsirkan sebagai mukjizat yang menunjukkan hal ihwal kedatangan Nabi Muhammad SAW di dunia ini. Seperti dalam penuturan Muslim, sepasukan asing dikabarkan tengah mengepung Makkah pada tahun kelahirannya. Tiba-tiba pasukan tersebut tercerai-berai. Begitu pula riwayat yang mencaritakan bahwa Muhammad muda pernah hilang dari asuhan Halimah. Semua itu oleh para penyair sufi kemudian diyakini sebagai bukti mukjizat tentang perannya di masa mendatang (hal. 23).

Bagi umat Muslim semua ihwal tentang beliau dijadikan contoh yang mengikat. Seperti pada tahun 632 M, Nabi Muhammad SAW kembali berhaji ke Makkah yang kemudian tindakan ini menjadi dasar dalam pelaksanaan haji umat Muslim seluruh dunia (hal. 33). Begitu pula penghormatan umat Muslim yang luar biasa kepada keluarga beliau. Seperti dalam kaum Syi’ah yang berpandangan bahwa ‘Ali sajalah khalifah yang sah. Hal ini menunjukkan kedudukan keluarga Nabi Muhammad SAW yang amat penting di mata umat Muslim, khususnya Syi’ah.

Bagi umat Muslim, kedudukan sentral Nabi Muhammad SAW yang dijadikan panutan kehidupan diamati sedemikian detil hingga hal-hal kecil dari perilaku dan pribadinya. Para juru dakwah suka menggambarkan beliau dalam warna-warna yang indah. Seperti, Nabi dikatakan hanya memiliki tujuh belas uban di jenggotnya. Lukisan-lukisan ketampanan fisik Nabi banyak ditemukan dalam tradisi-trsdisi awal. Seperti dikatakan, Tubuh Nabi Muhammad berukuran sedang, tidak gemuk, wajahnya berkulit putih, matanya lebar dan hitam, bulu matanya panjang, rambutnya tidak lurus dan tidak pula keriting. Beliau memiliki tanda kenabian di antara kedua bahunya, bahunya besar. Wajahnya bersinar laksana bulan purnama. Beliau lebih tinggi dari rata-rata orang, tetapi lebih pendek dari orang yang jangkung (hal. 55).

Di antara keyakinan umat Muslim terhadap keajaiban yang disandarkan pada Nabinya terlihat dalam sebuah syair yang yang segera terkenal sebagai al-Burdah. Syair itu pun dipuji karena keberkahan dan daya-penyembuhnya yang mujarrab. Bukan hanya bagi penggubahnya, melainkan juga bagi mereka yang membaca atau menyalinnya. Demikian pula al-Burdah sering digunakan dalam azimat-azimat atau ditulis di dinding rumah dan bangunan keagamaan (hal. 263-264).

Bagi teologi modernis Muslim, akhlak Nabi dan prestasi-prestasi pribadinya dijadikan sebagai sentral keteladanan. Tak jarang keteladanan ini dilukukiskan dengan warna-warni dalam gaya anekdot dan kadang-kadang disebutkan saja satu per satu. Seperti Muhammad Iqbal (pemikir filosofis Muslim modern abad 18) yang mengembangkan satu gagasan penting: karena Nabi Muhammad adalah pemimpin dan penyempurna sederetan panjang rasul-rasul utusan Allah, bangsa yang diciptakan olehnya seharusnya juga menjadi pemimpin bangsa.

Yang menarik dari semua itu adalah cara umat Muslim menggambarkan keadaan sang Nabi dengan indah dalam sajak-sajak mereka. Anda akan menemukan sajak-sajak yang indah dalam buku ini. Membaca buku ini kita akan mengetahui keahlian para penyair filsuf muslim terdahulu dalam merangkai sajak yang artistik. Penulis memaparkan sisi-sisi yang sangat halus dari kebudayaan seligius Islam sehingga memberikan pemahaman yang baik bagi orang-orang yang ingin memahami Islam sebagaimana yang dihayati dan diamalkan umat Muslim.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kru LPM Zenith anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Aroma Badan Nabi Yusuf AS, Bounding Antara Ayah dan Anak