Home / Pemuda / Essay / Gaul Boleh, Sholeh Harus

Gaul Boleh, Sholeh Harus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Muda Mudi As Usual - Cowok Gaul kartunBeni&Mice majalah Jakartadakwatuna.com Remaja, salah satu fase masa tumbuh kembang manusia untuk berusaha mencari jati dirinya. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun[1]. Jika dilihat dari pengertian yang dikutip dari Wikipedia tersebut, masa remaja dimulai ketika seorang anak masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada masa remaja ini tentunya sahabat sudah tahu perkembangan fisiknya, bukan? Tingkah laku anak remaja juga mulai berubah, meski sifat kekanak-kanakannya masih ada. Wajar saja remaja mempunyai sifat kekanak-kanakan karena belum masuk ke fase dewasa dan baru saja melewati fase kanak-kanak.

Shahibul Muslimin, coba deh kita ingat-ingat kembali masa-masa awal remaja kita dulu. Kita mulai suka berhias, memakai pakaian yang modis, dan sebagainya. Pergaulan kita pun bertambah luas, teman bertambah banyak, komunitas atau organisasi di sekolah kita ikuti, dan masih banyak lagi. Bahkan, lagu-lagu “galau” pada saat itu mulai kita nyanyikan, bahkan dihafalkan, betul tidak?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dewasa ini pergaulan semakin bebas saja rasanya. Lagu-lagu bergenre metal, rock dan pop sudah marak tersimpan di ponsel-ponsel anak remaja. Tahu tidak? Bahkan saat ini ada salah satu grup musik anak-anak yang menyanyikan lagu cinta yang seharusnya untuk dewasa. Berbeda ketika dulu, lagu anak-anak masih sering dinyanyikan sehingga masa kanak-kanak sungguh terasa asyiknya.

Hati sering merasa “ilfeel” ketika melihat para remaja sering nongkrong di pinggir jalan dengan sebatang rokok di antara jari tengah dan telunjuknya. Perlahan-lahan dihisap rokok itu sampai habis, dan sisanya dibuang sembarangan. Ada juga remaja yang nongkrong di pinggir jalan (bukan jalan raya saja) bernyanyi dengan keras sambil memainkan gitarnya sehingga mengganggu warga yang sedang melepas lelah setelah seharian bekerja. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah mereka tidak ada pekerjaan lain selain nongkrong di pinggir jalan seperti itu? Untungnya nongkrong di pinggir jalan, bukan di tengah jalan, hehehe….

Gaul memang menjadi salah satu kebutuhan remaja dalam berekspresi dan berinteraksi, tetapi harus diketahui juga bahwa gaul yang berlebihan itu tidak baik. Bahkan, jauh lebih buruk lagi jika gaul itu menimbulkan fanatisme yang berlebih sehingga melupakan apa yang seharusnya dikerjakan sebagai remaja. Gaul untuk mengikuti perkembangan zaman pun tidak ada salahnya, asalkan tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan oleh Islam, rahmatan lil ‘alamin, iya kan? Contohnya saja Almarhum Uje (semoga Allah merahmati beliau). Beliau adalah da’i gaul yang mengikuti perkembangan zaman, tidak keluar dari jalur Allah yang lurus. Beliau menggunakan sarana perkembangan zaman untuk mengajak manusia kembali kepada Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Pemuda adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Jika para pemudanya rusak, bagaimana nasib bangsa ini? Akan jadi apa bangsa ini jika para pemuda tidak tahu, bahkan buta terhadap agamanya sendiri (Islam)? Maka dari itu, pentingnya pemuda untuk menjadi hamba Allah yang saleh ini adalah sebuah kebenaran yang patut kita perjuangkan. Pemuda adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Bagaimana jadinya jika ujung tombak ini tumpul dan tidak bisa mengalahkan musuh karena kurang, bahkan tidak memegang teguh agamanya padahal dia seorang muslim?

Islam dalam jiwa pemuda penting untuk ditanamkan kuat-kuat agar dia bisa menjadi ujung tombak yang runcing, dengan itu dia bisa mengalahkan “musuh” dengan cepat. Selain itu, pemuda tidak akan mudah terpengaruh dengan nafsu yang selalu mengajak manusia untuk berbuat munkar.

Gaul boleh, saleh harus. Ini kataku, apa katamu?

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj [22]: 77).

Allahu A’lam.

 

Catatan :

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja

Bisa juga dilihat di www.umatmuhammad.com

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fadil Ibnu Ahmad
Penulis buku "Dakwah Online", pendidik, webmaster, aktivis. Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro UPI 2011. Kepala Divisi Teknologi dan Informasi UKM KI Al-Qolam UPI. Pimpinan Redaksi UmatMuhammad.com

Lihat Juga

Ironis Sekali, Pergaulan Bebas dan Life Style Kalahkan Budaya Ketimuran