Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aktivis Kampus dan Budaya Literasi

Aktivis Kampus dan Budaya Literasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(ist)
(ist)

dakwatuna.com Dalam suatu diskusi santai, penulis dengan seorang senior di kampus berdiskusi mengenai budaya literasi mahasiswa. dia berpendapat “apa yang mau di diskusikan jika mahasiswanya sendiri jarang baca.” Kalimat singkat yang sangat menohok bagi penulis, terutama bagi para aktivis mahasiswa yang sering me’label’i dirinya sebagai “agen perubahan”. Pertanyaan dasar yang selalu menjadi pikiran penulis adalah “perubahan apa yang akan kita perjuangkan?” jika para pejuangnya tidak memiliki ilmu untuk menentukan arah. Kebinasaankah? atau kesejahteraan?

Kita bisa lihat hari ini berapa banyak mahasiswa  yang hobi membaca? Tentu tidak banyak. Kegiatan anak muda hari ini lebih banyak disibukkan dengan kegiatan yang sifatnya hura-hura belaka. Keadaan seperti ini membutuhkan sosok aktivis yang dapat memberikan perubahan terhadap lingkungan kampus.

Namun yang menjadi permasalahan hari ini adalah ketika para dokter (Aktivis Kampus) yang seharusnya mengobati masyarakat kampus justru terjangkit penyakit malas menuntut ilmu (membaca). Sehingga para aktivis ini kebingungan menentukan langkah, lemah pengorbanannya dan miskin kreatifitas. Keadaan seperti ini harus diobati dengan membangun budaya literasi.

Orang sering kali salah langkah dalam membangun budaya belajar. Yang terjadi hari ini adalah pemaksaan belajar, bukannya pemahaman belajar, atau bahkan salah paham dalam belajar. Coba kita renungkan berapa banyak pendidikan di Indonesia yang mengawali masa – masa pendidikanya dengan materi “keutaman ilmu , kedudukan ilmu , hakikat ilmu , tujuan berilmu , dst.“ tentu sangat jarang kita temukan, dan bahkan tidak terdapat di kurikulum pendidikan formal.

Justru yang di ajarkan sekolah – sekolah adalah matematika, IPA , IPS , dst. anak – anak Indonesia sering kali dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan dasar yang terlintas di kepalanya “ngapain sih berhitung rumit seperti ini ? apa gunanya bagi saya ?” menuntut ilmu tanpa pemahaman keutamaan ilmu akan membuat seseorang tidak memiliki semangat belajar atau bahkan berhenti untuk belajar.

Permasalahan lain yang dihadapi oleh kita adalah salah paham dalam belajar. Mungkin tidak sedikit di antara kita yang mendapatkan pertanyaan dari orang tua ketika memilih jurusan di Universitas “Kalau masuk jurusan ini nanti kerjanya dimana?“ padahal yang seharusnya ditanyakan adalah “kalau masuk jurusan ini nanti mendapatkan ilmu apa saja.” Kesalahpahaman dapat terjadi karena kita tidak pernah dididik bahwa ilmu itu tidak sekedar mengejar materi dunia namun juga ketinggian akhirat.

Jika materi yang menjadi tolak ukur kita dalam menuntut ilmu. pasti yang terjadi adalah berhentinya seseorang untuk belajar. Ketika pekerjaan yang dia tuju telah tercapai , dapat dipastikan orang tersebut akan berhenti untuk belajar.

Oleh karenanya langkah awal yang harus dilakukan seorang Aktivis Kampus dalam membangun budaya literasi adalah mempelajari tentang keutamaan Ilmu.

Langkah awal: Memahami keutamaan ilmu

Keutamaan – keutamaan ilmu banyak sekali tercantum di dalam Al-Qur’an & Sunnah Rasul

“Adakah sama orang – orang yang mengetahui dengan orang – orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

“Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (H.R Muslim)

Kita harus sadari bahwa menuntut ilmu tidak hanya terjadi di ruang – ruang kelas. Membacapun adalah bagian dari menuntut ilmu. ilmu inilah yang nanti akan membentuk cara berpikir kita dalam menghadapi suatu masalah, dan cara berpikirlah yang akan membuat keputusan – keputusan kita dalam melakukan tindakan demi tindakan.

Ali R.A pernah ditanya oleh sahabatnya, manakah yang lebih mulia, ilmu atau harta? Ali.R.A berkata “Lebih mulia ilmu, ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. ilmu bila kamu berikan akan bertambah, harta akan berkurang. llmu warisan para nabi, harta warisan Firaun dan Qarun. ilmu menjadikan kamu bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah dan seterusnya”.

Benarlah apa yang dikatakan Imam Ali, bahwa ilmu akan menjagamu dari keputusan – keputusan bodoh. Ilmu sangat wajib dimiliki oleh para mahasiswa yang mengaku sebagai aktivis kampus. Karena seorang Aktivis sering kali memberikan respon, Kritik, dan Saran perihal permasalah-permasalahan kenegaran yang memerlukan pemahaman lebih. Oleh sebab itu para aktivis kampus mesti membangun budaya literasi mulai dari diri sendiri dan tularkanlah kepada orang lain.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi - Selamat Idul Fitri, Taqabbalallahu minna waminkum. (wallpaperhd.pk / modifikasi: dakwatuna.com)

Selamat Idul Fitri 1437 H

Figure
Organization