Home / Berita / Silaturahim / Kiprah Mahasiswa Indonesia: Konferensi Tahunan dan Ilmuwan Indonesia di Taiwan

Kiprah Mahasiswa Indonesia: Konferensi Tahunan dan Ilmuwan Indonesia di Taiwan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

aisct2013dakwatuna.com Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT), bekerjasama dengan Indonesian Committee of Transfer Technology in Taiwan (IC3T) untuk pertama kalinya mengadakan konferensi tingkat internasional di Taiwan.

Tema yang diambil AISC-Taiwan 2013 adalah Fostering Growth in Knowledge-Based Economy through Techno-preneurship: Building a Platform for a Smooth Transformation of Innovative Technology to Business. Acara yang berlangsung pada 27 – 29 April 2013 di Asia University, Taichung, Taiwan ini diikuti oleh 140 peserta dan pembicara dari berbagai Negara, seperti Indonesia, Taiwan, Jepang, Malaysia, Vietnam, dan beberapa Negara Asia lainnya. Sebelumnya, sebanyak 270 paper yang digolongkan dalam 9 kluster masuk ke panitia dan direview oleh para reviewer dari berbagai bidang ilmu dari berbagai Negara.

Acara AISC Taiwan 2013 dibuka oleh Prof. Chung Lin Huang, Dean of International College Asia University, dan wakil Ketua Kantor Dagang Ekonomi Indonesia Harsono Aris Yuwono, dan Chief Secretary of Small Medium and Enterprise Administration-Ministry of Economic Affair, Republic of China.

Di hari pertama konferensi, peserta rangkaian kuliah umum dan cerita sukses dari tokoh technopreunership dari Taiwan dan Indonesia, antara lain; Chun-Yen Chang, Ph.D. (President Emeritus and National-Endowed-Chair Professor (Emeritus) National Chiao Tung University, Hsinchu, Taiwan), Johnson Sher (Vice President of Industrial Technology Research Institution or ITRI Taiwan), Tad Sekineh (Global Operations- Executive Director OESF Global L.L.C. Taiwan), Chang-Ming Yang, M.D., Ph.D. (Founder of Ming-Young Biochemical Corp., Taiwan), serta Prof. Dr. Warsito Purwo Taruno (Executive Director of CTECH Labs Edwar Technology: Penemu 4D Brain Activity Scanner dan Electro Capacitive Cancer Treatment).

Secara umum para pembicara memaparkan tentang kewirausahaan dan teknologi yang secara simultan dan sinergis dapat menjadi nilai tambah dalam pembangunan ekonomi. Johnson Sher dalam kuliahnya menyampaikan terkait bagaimana mengembangkan produksi, SDM, keuangan dan marketing. Dan pesan inti kepada para peserta adalah, “No matter the greatest of technology, it has to contribute to the effects of economy”.

Johnson Sher yang  menyampaikan aspek ‘Commercialization and New Venture’ ini menyebutkan bahwa sebaik apa pun inovasi penelitian atau penemuan, hasilnya harus memberikan kontribusi yang memberikan efek terhadap ekonomi untuk lebih memberikan kemanfaatan dari inovasi dan temuan tersebut. Sher juga menyampaikan tentang keunikan dan kekuatan ITRI, institusi yang dipimpinya. Keunikan dan kekuatan ITRI terletak pada upaya melakukan evolusi industri di Taiwan, pemanfaatan teknologi lintas disiplin, berfokus pada komersialisasi, koneksi 30 tahun lebih, kolaborasi dan kepercayaan bersama industri, pemerintah dan akademisi.

Profesor Chun-Yen Chang pada sesi pertama menyampaikan tentang ‘The Past and the Post of Information Age’ menyampaikan tentang tantangan dan pergeseran dalam perkembangan yang cepat dalam bidang teknologi informasi. Menurutnya saat ini Window dan Intel (WinTelEmpire) menghadapi tantangan sebagaimana mulai terlihat dalam persaingan produk Android vs Windows atau Arms vs Intel. ‘Mobile is flying’ demikianlah istilah dalam menyebut persaingan yang begitu cepat dalam dunia teknologi informasi, khususnya dalam bidang teknologi mobile seperti telepon seluler dan sejenisnya.

Pembicara Chang-Ming Yang, Ph.D menyampaikan tentang pengalamannya dalam mengembangkan produk-produk inovatif dalam bidang biomedik. Menurutnya terjadinya persaingan lanjut (competitive advantage) dalam melakukan ekspansi bisnis menuntut adanya inovasi produk. Oleh karena itu, menurutnya, pengembangan produk baru perlu memperhatikan riset pasar, rekayasa desain, rekayasa produk dan mengetahui respons dari pengguna dengan kata lain disampaikannya pula bahwa pengembangan produk baru dimulai dai ide tentang produk hingga melakukan produksi masal. Satu kata kunci menarik disampaikan Dr Yang berkaitan dengan melakukan inovasi produk. “Jika orang lain sudah memproduksi, maka jangan lakukan hal yang sama,” imbuhnya.

 

Konferensi keempat

Kegiatan ilmiah tahunan ini merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya. Sebelumnya kegiatan ilmiah yang disebut the Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan sudah terselenggara pada tahun 2010, 2011, dan 2012. Menurut Burniadi Mobala, Ketua Organizing Comittee AISC-Taiwan 2013, kesempatan tahunan ini merupakan pertukaran ide dan pengetahuan antara Indonesia dan Taiwan.

Sejak tahun 2012 agenda ilmiah ini tidak saja diikuti peserta dari Indonesia dan Taiwan, tetapi juga diikuti para akademisi dari negara-negara lainnya. Sehingga kemudian kegiatan ini berubah menjadi kegiatan ilmiah yang bersifat internasional.

Pada tahun ini sebanyak 140 paper (kajian ilmiah) dipresentasikan dan terbagi ke dalam sembilan rumpun kelompok kajian: 1) Kajian budaya dan perubahan sosial, 2) Ekonomi, bisnis dan manajemen, 3) Elektronik, pengontrolan otomatis, ilmu komputer dan teknologi informasi, 4) Material dan perusahaan, 5) Infrastruktur dan energi terbarukan, 6) Perubahan iklim dan manajemen kebencanaan, 7) Lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, 8) Pertanian, bioteknologi, teknologi makanan dan omics, dan 9) Kesehatan dan Farmasi.

Kegiatan ini mendapatkan sponsor dan dukungan penuh dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan (KDEI), Asia University (AU), Garuda Indonesia Airline (GIA) dan sponsor-sponsor lainnya.

Burniadi Moballa, ketua panitia konferensi ini, menyampaikan maksud dan tujuan dari diadakannya AISC Taiwan 2013. “Harapannya, AISC Taiwan 2013 dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan keefektifan percepatan dan memperluas peluang techno-preneurship di kalangan mahasiswa dan akademisi. Selain itu, dengan melakukan forum ilmiah di Taiwan dapat menciptakan kesempatan bagi para peserta untuk belajar techno-preneurship di Taiwan secara langsung.”

Ziyad Taufik, peserta dari Universitas Gadjah Mada, menyampaikan kesan pesannya mengikuti konferensi di Taiwan, “Ini adalah kali kedua saya mengikuti AISCT. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya mendapatkan pengalaman yang lebih internasional dan mendapatkan jaringan yang lebih luas, tidak hanya mahasiswa Indonesia yang ada di Taiwan, tetapi juga dengan peserta dari Negara lainnya. Tema acara ini sesuai dengan minat saya di bidang techno-preneurship yang sekarang ini sedang saya tekuni.” Dalam acara penutupan konferensi, dari masing-masing kluster dipilih paper terbaik dan kemudian peserta mengikuti kunjungan lapangan ke kantor JohnFord serta wisata ke Sun Moon Lake.

The First AISC Taiwan 2013 (Annual International Scholars Conference in Taiwan) diadakan di Asia University, Taichung, Taiwan pada tanggal 27-29 April 2013. Kegiatan ini diorganisir oleh Indonesian Committee for Science and Technology Transfer in Taiwan (IC3T) dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT). Konferensi ini telah diadakan selama tiga kali sejak tahun 2010. Namun pada tahun 2013, AISC-Taiwan yang sebelumnya khusus untuk pelajar Indonesia, saat ini jangkauannya diperluas untuk pelajar, ilmuwan dan akademisi di berbagai negara. Rangkaian kegiatan AISC-Taiwan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu seminar, presentasi paper dan kunjungan lapangan. Peserta sesi presentasi paper per kluster, dibagi menjadi common speaker dan invited speaker (IS). Selain IS dari beberapa negara lain, Panitia AISC-Taiwan 2013 juga turut mengundang ilmuwan Indonesia agar pertukaran ilmu dapat berjalan lebih optimal dan luas.

 

The best paper

Penghargaan paper terbaik diberikan kepada beberapa presenter menurut aspek sebagaimana dirinci di atas, yaitu kebudayaan, informasi, manufaktur, lingkungan, dan kesehatan. Topik AISC-Taiwan 2013 diklasifikasikan (namun tidak dibatasi)  bidang-bidang berikut:

1. Budaya, Linguistik dan Studi Perubahan Sosial; Best paper diraih oleh: Sheau Tsuey Chong, dkk dengan judul paper: Safe Neighborhood Promotes Trust in Business Organizations via Neighborhood Social Capital.

2. Ekonomi, Manajemen dan Bisnis; Best paper diraih oleh: Donny Bagus Prasetya, dkk (Chinese Culture University, Taiwan), dengan judul paper: Tourism, Export, and Economic Growth: Granger Causality Analysis on Indonesia.

3. Elektronik, Kontrol Otomatisasi, Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi; Best paper diraih oleh: Muamar Sadrawi, dkk dengan judul paper: Self-Adaptive Neural Networks Applied to Brain Death Function Level Prediction.

4. Material dan Industri; Best paper diraih oleh: Triyono, dkk dengan judul paper: The Effects of Thickness Filler on the Physical and Mechanical Properties of the Dissimilar Metals Resistance Spot Welded Between Al 5083 and Ss 400.

5. Infrastruktur dan Energi Terbarukan; Best paper diraih oleh: Nizar Amir dan Chun Jen Tseng, dengan judul paper: IT Psofc-Gt Hybrid System Fueled by Methane Mixed Biofuel.

6. Perubahan Iklim dan Manajemen Bencana; Best paper diraih oleh: Le Phuoc Hoa dan Nguyen Dac Loc Guenter Engling, dengan judul paper: Characterization of Water Soluble Ionic Species, Carbonaceous Aerosol and Anhydrosugars in Aerosol in Da Nang City, Vietnam.

7. Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan; Best paper diraih oleh: Mujtahid Alfajri, dkk (Institut Pertanian Bogor), dengan judul paper: The Utilization of Methyl Ester Sulfonate Surfactant of Jatropha Curcas L as High Power Clean, Renewable and Biodegradable Detergent.

8. Pertanian dan Agribisnis; Best paper diraih oleh: Istiqomah, dkk dengan judul paper: Biological Control of Potato Soft Rot Disease (Erwinia carotovora) using Bacillus Subtilis and pseudomonas fluorescens.

9. Kesehatan dan Farmasi; Best paper diraih oleh: Ardaning Nuriliani, dkk dengan judul paper: Growth Inhibition, Apoptosis Induction, and Antiangiogenesis Activity of Ethanolic Extract of Dendrobium crumenatum Swartz.

 

Penemu Indonesia

Pembicara kunci terakhir pada hari pertama konfrens adalah Warsito P. Taruno, Ph.D, yang merupakan penemu dan pengajar di Universitas Indonesia dan sekaligus juga merupakan pengurus DPP PKS. Doktor Warsito yang menyampaikan ‘Innovation in Developing Country’ memberikan semangat kepada para audiens bahwa kita masih tetap bisa maju dan berkembang lebih baik di Indonesia meskipun dengan berbabagai keterbatasan sarana dan prasarana.

Bagi Dr Warsito hidup dan menjadi peneliti di Indonesia lebih menantang. “Saya mencoba mengatasi tantangan dengan keterbatasan tanpa Internet dan listrik di Indonesia. Tetapi, berkarya di Indonesia bagi saya lebih menantang,” tegasnya.

Kecintaannya pada Indonesia tidak berkurang sedikit pun walaupun sebagai peneliti sesungguhnya lebih punya kesempatan berkarya di negara lain seperti di Jepang dan Amerika Serikat dengan fasilitas yang melimpah. Pilihannya tetaplah berkarya dari Indonesia meskipun,”Indonesian is untolerate country for knowledge based country.” Indonesia masih merupakan negara yang belum kondusif menjadi negara berbasis pengetahuan.

Bagi Dr Warsito ilmu haruslah memberikan manfaat bagi masyarakat. Beliau tidak sepenuhnya sepakat dengan lisensi, tetapi lebih sepakat dengan teknologi terbuka (open technology) semisal google. Menurutnya,”Apa yang dilakukan google adalah juga yang ingin saya lakukan. Pengetahuan manusia adalah milik semua orang.”

Beberapa pesan Dr Warsito perlu untuk di catat di sini. Kepada peserta konferensi beliau berpesan, “Anda harus membangun jaringan, membangun sesuatu yang dapat bermanfaat suatu hari di Indonesia. Meskipun jika anda melakukannya di Indonesia anda harus menjadi Superwomen atau Superman.” Namun, yang terpenting dalam dunia riset adalah harus memiliki,”Free imagination (berimajinasi bebas), serendipity (serendipitas), dan berdisiplin.”

Sebagai catatan serendifitas menurut John Adair dalam ‘The Art of Creative Thinking’  berasal dari surat Horace Walpole kepada seorang temannya (28 Januari 1754) yang mengambilnya dari cerita rakyat berjudul The Three Princes of Serendip (nama kuno Sri Lanka) untuk permaisuri ‘yang selalu membuat penemuan dengan tidak sengaja, sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya’.

“Berdisiplin, memiliki mind set yang berbeda, akan mampu menghadirkan Indonesia yang berbeda,” pungkasnya Dr Warsito.

Ayo membangun Indonesia dengan kerja, cinta dan harmoni!!

Tainan City, Taiwan, 28 Mei 2013

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah mahasiswa National Cheng Kung University (NCKU), Tainan-Taiwan. Gemar menulis artikel-artikel lepas dan beberapa puisi. Menulis adalah perjalanan kata-kata (journey of the words) dalam menemukan cinta Ilahi.

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba