Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Dirimu Dalam Penjara

Jika Dirimu Dalam Penjara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

penjaradakwatuna.com – Hal pertama terlintas di benak tentang penjara adalah suatu ruang terbatas dengan kemerdekaan yang terampas. Berbagai sebab tentunya, ketika ruang penjara atau kurungan menjadi bagian bagi seseorang di masa hidupnya, mulai dari akibat kejahatan kelas kakap hingga kesalahan tangkap. Itulah penjara dalam arti sebenarnya.

Selanjutnya, mari kita melintasi penjara dalam dimensi yang berbeda. Ketika jasad berada dalam alam bebas, namun hati dalam penjara, hati yang jauh dari rasa nyaman dan aman. Hati terpenjara adalah saat  kemalangan demi kemalangan menimpa, musibah datang silih berganti atau bertubi-tubi, seolah enggan pergi, berbagai kondisi dan situasi yang menekan, mengekang dan menghimpit. Lalu, seperti terpasung, terkungkung dalam ruang sempit, pengap dan paling hina. Memang, setiap individu memiliki respon yang berbeda terhadap kejadian apapun yang menimpa, namun seragam kiranya akan muncul suatu respon nyeri dan apabila dapat diukur dengan suatu skala nyeri, skor nyeri tentu bervariasi setiap individu.

Terjadi korelasi antara nyeri dan hati terpenjara, segera atasi segala nyeri agar hati terpenjara tak berkepanjangan. Siapapun memerlukan berbagai cara atau jalur untuk mengatasi rasa nyeri tersebut. Antara lain, jalur menuju sentral atau berupa garis vertikal, yaitu Allah sebagai tujuan dan sandaran. Bukankah kita selalu mengingat bahwa Allah tak akan membebani seseorang melainkan sebatas kemampuannya? Pasti akan muncul cahaya dari balik jeruji hati, segera rengkuhlah sebagai energi dalam bentuk pertobatan, dan memohon pada Allah si penggenggam hati agar memperoleh keluasan dan kebesaran hati atas segala yang terjadi. Jalur lain yaitu secara horizontal, antara lain memperbaiki hubungan dengan orang lain. Tumbuhkan akhlak yang baik penuh cinta, tanpa kebencian terhadap sesama, kepada orangtua, anak-anak, kerabat dan seluruh lapisan masyarakat, agar diri tak merasa sendiri.

Apabila hati masih terpenjara dan nyeri. Ingat saja, bahwa… “sesungguhnya dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR.Muslim). Bagi mereka yang ingkar, dunia adalah kesenangan semata. Bagi  seorang mukmin, selama kesempatan hidup masih diberi, tentu akan berusaha selalu menggali kebaikan di dalamnya, mengumpulkan amal-amal sebagai bekalan, mengembangkan kemampuan diri, menghimpun segenap kekuatan, tak akan larut terpuruk dalam kesengsaraan, giat berusaha mencari solusi, mencari keadilan, bermuhasabah atas perbuatan yang telah dilakukan karena yakin suatu saat kelak akan bertemu pengadilan, yaitu pengadilan Allah SWT dan selanjutnya akan merasakan “kebebasan” nyata. Maka, mutlak kiranya tetap berada dalam koridor-Nya, agar mendapat akhir dan tempat  indah disisi-Nya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nina Mariana

Lihat Juga

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia