21:56 - Rabu, 27 Agustus 2014

Prahara Kenaikan BBM

Rubrik: Opini | Kontributor: Safri Haliding - 05/06/13 | 08:05 | 26 Rajab 1434 H

Demo-demo Kenaikan BBM (inet)

Demo-demo Kenaikan BBM (inet)

dakwatuna.com - Rencana pemerintah yang hendak menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sekitar Rp 1500 menjadi Rp 6.000 atau naik sekitar 33 persen dan diikuti dengan melakukan pembatasan pembelian BBM subsidi akan sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat yang menyebabkan perubahan perekonomian secara drastis bahkan mampu mengakibatkan chaos apabila pemerintah tidak mampu mengelola dengan maksimal karena  BBM saat ini sudah menjadi bagian utama dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat sehari-hari sehingga isu yang terkait dengan BBM akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat.

Inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa tidak dapat dihindari apabila BBM naik  sehingga mampu mempersulit masyarakat golongan menengah ke bawah terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil dan tetap akan sangat merasakan dampak inflasi tersebut.

Inflasi yang meroket membuat kalangan industri menjadi tidak optimal karena biaya operasional dan distribusi yang tinggi menjadikan harga barang ikut meroket ujung-ujungnya akan berdampak pada kesejahteraan yang menurun demikian juga iklim investasi akan terganggu serta kemungkinan kredit macet bias berimbas dan kembali meningkat. Paling parah bisa terjadi PHK atau pemecatan besar-besaran terhadap buruh dan karyawan sehingga lapangan kerja akan semakin sulit karena industri menghadapi beban operasional yang tidak seimbang. Kenaikan BBM memiliki dampak positif dan negatif ada yang diuntungkan ada yang dirugikan, masyarakat yang hartanya disimpan dalam bentuk uang akan dirugikan karena inflasi sementara kaum spekulan akan tersenyum.

Dilema Subsidi

Bila mengacu pada laporan Bank Dunia, bahwa tekanan subsidi BBM berpotensi mengamputasi pertumbuhan ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi menurun hingga menjadi 6% di tahun 2013 atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya yakni 6,5%. Laporan Bank Dunia menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai hingga tujuh persen atau lebih, apabila pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar.

Kenaikan harga BBM memang suatu kebijakan yang dilematis karena BBM mengambil porsi besar dalam subsidi pemerintah total subsidi pemerintah terhadap rakyat mencapai Rp 317.2 triliun sementara jatah subsidi BBM mencapai Rp 193. 8 triliun dengan proyeksi APBN 2013 sebesar Rp 1. 657 triliun untuk itu pemerintah berencana mengurangi subsidi karena dianggap subsidi BBM tidak produktif dan membebani anggaran subsidi lebih banyak dinikmati oleh kalangan tidak pantas mendapatkannya sehingga pemerintah berkeyakinan subsidi harus dikurangi.

Ironi Kenaikan BBM

Penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya kesannya dipaksakan, publik menduga bahwa sepertinya ada nada niat lain dibalik naiknya BBM karena dalam menetapkan harga BBM subsidi, pemerintah dan Pertamina menggunakan acuan harga BBM yang kualitasnya lebih tinggi (Ron 92). Padahal kualitas BBM subsidi adalah Ron 88 yang harga pokoknya otomatis lebih rendah. Selama ini penetapan harga BBM subsidi menggunakan acuan Mid Oil Plats Singapore (MOPS) ditambah dengan alpha sebagai profit margin bagi Pertamina. Pada tahun 2010 misalnya, saat harga crude oil dunia pada level US$ 80 per barel, harga bensin menurut MOPS adalah Rp. 5617 per liter, yaitu bensin dengan kualitas RON 92, kadar benzene maksimal 2,5%, kadar aromatic maksimal 40%, kadar olefin maksimal 20% dan kadar belerang maksimal 500 ppm. Penetapan acuan saat ini sangat dipaksakan dan kesannya ada manipulatif dan tidak adil.

Menaikkan BBM bisa kontra-produktif, reaksi masyarakat kecil akan meningkat menjadi kemarahan massal sehingga mengakibatkan ketidakstabilan dalam masyarakat sehingga resiko sosialnya sangat tinggi. Pada tahun 1998, kenaikan harga BBM telah memicu demonstrasi mahasiswa yang akhirnya menjatuhkan Soeharto yang telah 32 tahun berkuasa.  Di Malaysia, pencabutan subsidi tahun 2008 lalu harus dibayar mahal penguasa. Rezim yang berkuasa terpaksa menurunkan pasukan anti huru hara dan membubarkan demonstrasi massa dengan cara tidak manusiawi. Dampaknya, partai yang berkuasa, akhirnya kehilangan sepertiga kursi di parlemen dan harus rela melepaskan lima negara bagian, yang berhasil direbut kelompok oposisi.

Kenaikan BBM ini bisa menjadi bola panas untuk pemerintah. Namun bisa juga menjadi program untuk menarik simpati rakyat karena pemerintah sedang mempersiapkan program balasan atas naiknya BBM seperti Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), beras untuk rakyat miskin (Raskin), Beasiswa miskin (BSM) dalam bentuk tunai, dan Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) atau yang dulu dikenal dengan sebutan BLT bersyarat untuk keluarga yang sangat miskin. Namun, apabila melirik pengalaman pemerintah sebelumnya dalam menjalankan program bantuan sosial lebih banyak yang tidak professional dalam pengelolaan, kebocoran, kolusi  dan tidak tepat sasaran sering terjadi ujung-ujungnya hanya kalangan tertentu yang menikmati.

Sepertinya program ini hanya program pencitraan pemerintah untuk menarik simpati rakyat melalui dengan sengaja memaksakan menaikkan BBM agar program pencitraan tersebut dapat disetujui oleh DPR mengingat pemilu sudah dekat dan partai demokrat sedang berjuang merebut kembali simpati rakyat karena kadernya banyak yang terjerat korupsi.

Apabila pemerintah serius mau mengurangi ketergantungan dengan BBM maka pemerintah seharusnya serius terhadap program energi alternatif pengganti BBM sehingga ketergantungan dapat dikurangi dan secara otomatis mengurangi anggaran konsumsi BBM pemerintah. Energi alternatif seperti melirik bahan bakar gas (BBG) yang lebih ramah lingkungan, BBM alternatif dari Kelapa Sawit atau sumber tumbuh-tumbuhan lainnya yang diproduksi dari sumber tumbuh-tumbuhan seperti yang paling terkenal saat ini adalah dengan menggunakan kelapa sawit alias Crude Palm Oil (CPO), Bahan bakar listrik (BBL) dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi seperti baterai yang lebih efisien dan tanpa ada pembakaran atau polusi yang dikeluarkan.

Bukan hal yang sulit apabila pemerintah serius menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia merupakan negara yang kaya dengan Sumber Daya Alam dan yang lebih penting lagi akan muncul juga berbagai kendaraan alternatif yang tidak menggunakan BBM seperti mobil listrik, mobil gas dan kendaraan lainnya sehingga masyarakat memiliki pilihan yang beragam dan lebih murah.

Tentang Safri Haliding

Penulis saat ini menjadi asisten dosen dan peneliti di department accounting International Islamic University Malaysia (IIUM), di luar aktivitas akademik aktif sebagai pengurus Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Chapter Malaysia… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin

Topik:

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
74 queries in 3,344 seconds.