Home / Pemuda / Cerpen / Cinta Suci Fatimah

Cinta Suci Fatimah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Rindini Maharani. Silakan masuk!”

Ya, itulah namaku. Nama pemberian orangtuaku 25 tahun yang lalu.

“Keluhan yang dirasakan apa?” Tanya seseorang berjas putih

“Emm.. demam. Beberapa hari ini juga lambungnya perih” Terangku

“Oh. Baiklah saya periksa dulu. Silakan berbaring di pembaringan itu” Perintah berbadan tegap yang usianya sekitar 60an tapi masih terlihat muda menurutku. Sambil menunjuk ke arah pembaringan tempat pemeriksaan,

tak lama, sosok itu kembali duduk dan aku pun mengikutinya.

“Bagaimana?” Tanyaku penasaran

Lawan bicaraku hanya tersenyum dan berkata “Kurangi stress ya”

Seketika, aku pun hanya membalas dengan anggukan.

“Anda maag. Makannya yang teratur dan dijaga. Kurangi beban fikiran karena itu juga bisa menyebabkan meningkatnya asam lambung.” Sambungnya.

Kegalauan yang singgah dihati ternyata berdampak pada fisikku. Perasaanku pada orang yang kusuka dan kuharapkan dan hanya ku pendam itu mengganggu fikiranku akhir-akhir ini. Ya, hanya ku pendam karena aku mendambakan menjadi sosok Fatimah yang mengungkapkan pada orang yang disukainya ketika laki-laki itu telah halal baginya. Dialah Ali bin Abi Thalib. Sekalipun awalnya Ali merasa cemburu karena Fatimah mengatakan menyukai seorang pemuda, tapi setelah di jelaskannya bahwa pemuda itu adalah Ali, seketika Ali langsung tersenyum. Aku pun ingin merasakan begitu. Menyimpan perasaan hingga tibanya nanti dan mengungkapkan di waktu yang tepat. Tapi kenyataanya, orang yang kusuka dan kuharapkan itu telah menikah dengan wanita pilihannya. Sesak di dada ketika mendengar kabar itu darinya langsung, hingga akhirnya ku tak mampu menguasai fikiran dan fisikku, dan sekarang sampailah aku harus silaturahim ke dokter umum di Rumah Sakit daerah.

“Rani, jangan melamun! Itu kasian dokternya lagi ngomong!”

“Iya baik, Dok!” Dengan gelagap aku menjawab

Saat menebus obatpun tidak tahu kenapa rasanya tubuh ini gontai. Aku hanya bisa duduk lemas di pojok apotek sambil menunggu panggilan penebusan obat.

Tekanan dari keluarga pun menambah beban fikiranku. Memintaku untuk segera menikah, terlebih usiaku sudah seperempat abad dan sering dibanding-bandingkan dengan ibuku yang di usia sepertiku sudah memiliki 2 orang anak. Tapi sampai saat ini aku masih meyakini, cinta suci ini akan terungkap jika saatnya nanti dan entah pada siapa cinta ini akan terlabuhkan. Bukan berarti aku pasrah dan tidak berusaha, tapi usahaku pun masih belum membuahkan hasil dengan meminta dicarikan kepada orang yang kuanggap amanah dan terpercaya, hingga akhirnya aku hanya bisa berdoa dan memendam perasaan pada orang yang kini sudah tidak bisa lagi aku harapkan.

“Rindini. Rindini Maharani!” Panggilan petugas apotek

“Rin, dipanggil tuh. Jangan melamun terus dong!

“Rindini, ini obatnya!” Sambung petugas apotek

“Oh, iya!” Jawabku lemah

Tak kusia-siakan waktu. Setelah mengambil obat, segera ku panggil abang becak yang biasa mangkal depan Rumah Sakit. Sore ini kurasakan kesejukan. Angin yang mengibas kerudungku membuatku bersyukur akan nikmat hidup yang masih kunikmati. Dengan santainya abang becak mengayuh seolah merasakan kesejukan yang kurasakan. Hiruk pikuk sore hari pun tak kuhiraukan. Aku masih saja asyik bermain-main dengan fikiranku.

Di atas kendaraan yang berlalu lalang, kulihat spanduk yang terpasang bertuliskan ucapan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, tapi entah kenapa sekilas kulihat tulisan itu menjadi “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Lucu memang, hingga aku pun tersenyum geli.

“Makanya Ran, jangan melamun. Ingat, dia tidak tahu apa yang kamu alami sekarang. Hidupmu pun masih panjang, jangan kamu sia-siakan hanya karena masalah seperti ini. Sudah sebulan kamu begini, Ran.”

“Dia memang tidak tahu, tapi inilah memang konsekuensi yang harus aku tanggung karena menyimpan perasaan ini.”

“Iya, tapi disertai berfikir positif ya. Insya Allah kamu akan mendapatkan yang lebih baik. Orang yang lebih pantas untuk mendapatkan cinta suci mu itu.”

“Iya betul. Aku pun masih akan tetap menjaga perasaan ini untuk orang yang tepat, karena untuk saat ini aku belum bisa menerima hati dan nantinya kembali memendam perasaan. Semoga aku bisa menjadi Fatimah yang mendapatkan sosok Ali dan akan kuungkapkan cinta suci ini hanya padanya seorang. Tidak salah, kan?”

“Tentu tidak. Insya Allah kau akan mendapatkannya. Berdoalah selalu.”

Terima kasih hati, kau sudah menemaniku berdialog akan kegalauan yang kurasakan ini…

***

 “Ada banyak hal yang tak pernah kita minta tapi Allah tiada alpa menyediakannya untuk kita seperti nafas sejuk, air segar, hangat mentari, dan kicauan burung yang mendamai hati. Jika demikian, atas doa-doa yang kita panjatkan bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan.”

 

–Dalam Dekapan Ukhuwah– (Salim A. Fillah)-

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lastri Azzahra
Pengajar di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 4.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization