Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Syukur Nikmat Vs Kufur Nikmat

Syukur Nikmat Vs Kufur Nikmat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

bersyukur-1dakwatuna.com Sebagian orang mengira bahwa cara bersyukur itu bermacam-macam. Ada yang mengira bahwa dengan berfoya-foya setelah diberi harta yang bergelimang adalah salah satu cara bersyukur. Ada yang mengira dengan mempersembahkan sesajen setelah diberi panen yang berlimpah adalah cara bersyukur. Ada yang menganggap bahwa dengan menyalahgunakan kekuasaan sekehendak pribadi adalah cara bersyukur setelah diberi kepemimpinan. Ada yang berpikir dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya setelah naik jabatan adalah cara bersyukur. Ada yang mengira bahwa jalan-jalan ke luar negeri tanpa kepentingan yang mendasar setelah berhasil mencapai karir adalah cara bersyukur. Ada yang mengira bahwa dengan membubazirkan makanan setelah diberi kelapangan adalah cara bersyukur. Ada yang mengira dengan menghabiskan uang (pemborosan) setelah berusaha keras adalah cara bersyukur. Ada yang mengira bahwa dengan menikmati barang haram setelah bergulat dengan permasalahan kehidupan adalah cara bersyukur dan menikmati hidup. Ada pula yang menganggap dengan tetap berleha-leha ketika mengalami kemiskinan juga dianggap bentuk syukur atas nasib.

Ada yang mengira bahwa cara bersyukur setelah diberi lisan (mulut) adalah banyak bicara sekehendaknya. Dengan cuci mata dianggap cara bersyukur karena telah diberi indera penglihatan. Alih-alih ketika ada perempuan yang belum mengerti perintah menutup aurat dan mengumbar auratnya dianggap menjadi pemandangan yang perlu disyukuri. Mendengarkan hal-hal yang tidak ada faedahnya dianggap sebagai cara bersyukur karena telah diberi pendengaran. Dengan memikat dan mempermainkan lawan jenis setelah diberi kecantikan/ketampanan dianggap sebagai cara bersyukur.

Semua perilaku itu tidak bisa dibenarkan karena termasuk perilaku kufur nikmat. Perilaku kufur nikmat tidak bisa disamakan dengan perilaku bersyukur, karena telah jelas bahwa keduanya sangat jauh berbeda. Kufur nikmat berawal dari ketidaksadaran atau sengaja menghilangkan kesadaran dalam diri. Sebaliknya, syukur diawali dari kesadaran penuh bahwa Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat yang berlimpah. Orang yang kufur nikmat lebih sering menganggap bahwa nikmat yang telah diberikan kepadanya selalu kurang atau nikmat yang selama ini dirasakannya adalah hasil usahanya.

Syukur hanyalah kepada Allah semata yang telah memberi nikmat yang berlimpah. Disadari atau tidak disadari bahwa nikmat dan karunia Allah jauh lebih berlimpah daripada ungkapan/ucapan terima kasih dari penerima nikmat. Bila hati saja belum bisa bersyukur kepada Allah, bagaimana mungkin dengan lisan dan perbuatan bisa mensyukuri nikmat-Nya. Ketika penerima nikmat mampu bersyukur belum tentu bisa mewakili nikmat-nikmat Allah yang sangat berlimpah.

Mari renungkan, sudahkah negeri yang besar ini bersyukur. Bukankah Allah telah menganugrahkan kekayaan alam yang berlimpah pada negeri ini, lalu kenapa kesenjangan antara kaya dan miskin begitu jauh. Bukankah Allah telah jadikan mayoritas penduduk negeri ini muslim, tetapi mengapa masih banyak yang belum mengetahui hakikat diri sebagai muslim. Bukankah Allah telah menciptakan keragaman individu dari suku yang berpotensial, lalu kenapa masih ada diskriminasi. Bukankah Allah telah memberikan nikmat yang berlimpah untuk negeri ini, tetapi kenapa kita malah terlena dengan nikmat itu. Bukankah hakikat nikmat adalah untuk mengingat dan mendekat kepada Allah yang maha memberi nikmat.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7)

Meskipun Allah tidak membutuhkan rasa syukur atau ibadah kita, tapi tidak malukah kita sebagai makhluk-Nya yang telah diberi nikmat berlimpah. Atau malah jangan-jangan rasa syukur itu tidak ditujukan pada Allah yang Memberi nikmat. Atau mungkin kita bisanya hanya meminta, meminta dan meminta dengan penuh keinginan yang belum tentu baik (meskipun Allah suka hamba-Nya banyak meminta hanya pada-Nya).

Bukankah Allah telah memberi gambaran dalam Al-Quran tentang negeri-negeri yang dibinasakan karena penduduknya tidak bersyukur. Bila direnungkan bagaimana kesudahan penduduk negeri-negeri yang tidak bersyukur, sungguh kesudahan yang tragis dan mengerikan.

Mari belajar bersyukur dengan hati karena bermula dari itu ketenangan hati mudah didapat. Mari belajar bersyukur dengan lisan karena lisan yang bersyukur senantiasa memberi manfaat. Mari belajar bersyukur dengan perbuatan karena dengan itu keberkahan selalu mengiringi. Bersyukur akan mendekatkan seorang hamba pada Rabb nya. Dengan bersyukur Allah akan menambah nikmat-Nya pada hamba-Nya. Dengan bersyukur mudah sekali bagi Allah untuk mengeluarkan hamba-Nya dari permasalahan meskipun dengan jalan yang tiada disangka-sangka.

Sebaliknya, kufur nikmat hanya menambah dosa bagi yang diberi nikmat. Azab telah disediakan bagi orang-orang yang kufur nikmat. Permasalahan dan beban yang bertubi-tubi juga dihadirkan bagi orang-orang yang kufur nikmat. Jangankan keberkahan, ketenangan hati pun tak akan mampu didapat bagi orang yang kufur nikmat.

Nb: Hanya mengajak untuk belajar bersyukur (tidak bermaksud menggurui) karena nyatanya masih banyak nikmat Allah yang belum disadari dan disyukuri. Semoga kita mampu belajar bersyukur dan dihindari dari perbuatan kufur nikmat.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,09 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Bergembira di Dalam Rahmat