Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tabi’at Waktu dan Cara Memanfaatkannya

Tabi’at Waktu dan Cara Memanfaatkannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia. Di antara nikmat itu adalah menetapnya Iman di dalam hati yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan di antara nikmat adalah kehidupan dan kematian yang Allah jadikan sebagai ujian untuk manusia. Kehidupan menjadi wadah kegiatan dan amal perbuatan manusia. Sedangkan kematian menjadi kontrol agar manusia bersiap menghadapinya untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Kehidupan dan kematian ini dijembatani oleh umur. Umur adalah rangkaian waktu dari setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, dan setiap tahun yang dilalui manusia sejak dia lahir (hidup) sampai mati. Rasulullah saw. pernah menyampaikan bahwa manusia tidak akan beranjak kakinya pada hari kiamat sehingga ia ditanya 4 hal, salah satunya umurnya dia habiskan untuk apa? Hal ini berarti manusia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan seumur hidupnya. Semakin panjang umurnya, maka makin banyak yang harus dia pertanggungjawabkan.

Dengan demikian berarti waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan waktu itu nantinya akan bersaksi atas amal perbuatan manusia. Mereka yang taat semasa hidupnya akan berbahagia. Sedangkan mereka yang ingkar dan banyak berbuat maksiat akan merugi yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut al-akhsarina a’mala (yang paling rugi amalannya).

Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai seorang muslim untuk memperhatikan masalah waktu. Dan supaya tidak tertipu oleh waktu, maka kita perlu mengetahui tabi’at waktu. DR. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan ada 3 tabi’at waktu, yaitu waktu cepat berlalu, waktu yang berlalu tidak dapat dikembalikan dan waktu adalah aset yang amat berharga.

Pertama, bahwa waktu yang kita jalani sangat cepat berlalu. Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun begitu cepat berlalu. Hal ini dapat dirasakan dengan melihat umur kita. Banyak dari kita suatu waktu terhenyak dan baru tersadar ternyata umurnya telah mencapai 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun dan seterusnya padahal amal kebaikan belum banyak.

Ini pula yang dirasakan oleh Ashabul Kahfi. Mereka telah tidur selama 309 tahun, namun mereka merasakan seolah baru setengah atau satu hari saja (Al-Kahfi: 19 dan 25). Demkian pula yang dirasakan oleh seorang yang bertanya bagaimana Allah menghidupkan negeri yang mati? Lalu Allah matikan (tidurkan) dia selama 100 tahun. Ketika ia dibangunkan dan ditanya tentang berapa lama ia tidur? Dia menjawab hanya setengah atau satu hari saja (Al-Baqarah: 259).

Kedua, bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi. Hasan Al-Bashri berkata: “Tidak ada waktu yang menampakkan fajarnya kecuali ia berkata: ‘Wahai anak Adam, aku adalah harimu yang baru yang akan menjadi saksi atas amal perbuatanmu. Maka carilah bekal dariku sebanyak-banyaknya, karena jika aku telah berlalu maka aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.'”

Waktu dalam kehidupan kita bagaikan kereta, ia datang dan pergi sesuai jadwal. Dan ketika telah berlalu maka ia tidak akan kembali lagi. Al-Qur’an menceritakan tentang penghuni neraka yang memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia supaya dapat memperbaiki amal perbuatan mereka, namun Allah menolak.

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. ( As-Sajdah: 12)

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Fathir: 37).

Ketiga, bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga. Waktu menjadi berharga karena padanyalah terekam seluruh aktivitas kehidupan kita. Segala perbuatan, yang baik maupun yang buruk tercatat di dalamnya. Maka waktu menjadi penting untuk kita perhatikan karena ia akan membeberkan semua perbuatan kita di dunia, bahkan sesuatu yang dahulu kita sembunyikan dari orang lain.

Hasan Al-Bashri berkata: “Saya mendapati orang-orang yang memberikan perhatian lebih terhadap waktu daripada terhadap dinar dan dirham.” Karena waktu adalah harta yang tak ternilai, ia tak dapat dibeli oleh apapun. Maka ketika seseorang memiliki waktu hendaknya ia pergunakan sebaik-baiknya. Karena selamat atau celaka dirinya bergantung bagaimana ia memanfaatkan waktunya.

Inilah tiga tabi’at waktu yang harus diperhatikan seorang muslim. Karena muslim yang baik adalah yang dapat memanfaatkan waktunya untuk memperbanyak amal kebaikan. Lalu bagaimana cara memanfaatkan waktu? Setidaknya ada tiga hal dapat dilakukan.

Pertama, melakukan hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak bermanfaat. Rasulullah saw. bersabda: “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” Maksud “manfaat” di sini mencakup kebaikan dunia dan akhirat.

Kedua, memanfaatkan waktu luang. Rasulullah saw. bersabda: “Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Karena manusia jika tidak sibuk dengan kebaikan, maka ia akan sibuk dengan kemaksiatan. Sering seseorang merasa bingung memanfaatkan waktu luang, lalu setan membisikkan kepadanya untuk berbuat sesuatu yang tidak ada manfaatnya bahkan kemaksiatan. Padahal mereka juga sering mengeluh karena kesibukan yang mereka jalani dan tidak punya banyak waktu untuk beribadah.

Ketiga, memanfaatkan waktu untuk menjalankan kewajiban dan memenuhi hak dengan seimbang.

Rasulullah saw. pernah menasehati seorang sahabatnya yang gemar puasa sepanjang hari dan qiyamul lail sepanjang malam. Beliau bersabda: “Jangan begitu, puasalah dan berbukalah sholatlah dan tidurlah. Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu, dan tetanggamu memiliki hak atasmu.”

Dengan mengetahui tabi’at waktu dan memahami cara memanfaatkannya seorang muslim diharapkan dapat memaksimalkan umurnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dia harus waspada agar jangan sampai terkena tipu daya setan yang menjadikan usianya berlalu dengan sia-sia.

Wallahu a’lam bish shawab.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anak kelima dari 7 bersaudara. Sekarang sedang mengikuti program pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fakultas Pemikiran Islam konsentrasi Fiqih dan Ushul Fiqih. Aktivitas lain mengisi taklim di beberapa masjid di Depok dan Bogor dengan materi Fiqih dan Hadits, dan mengisi Khutbah Jumat. Bergabung dengan IKADI Kabupaten Bogor sejak Januari 2012 sampai sekarang.

Lihat Juga

Karena…