Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Taujih Nabawi Untuk Qiyadah

Taujih Nabawi Untuk Qiyadah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Halaman Masjid Nabawi saat payung terbuka (inet)
Halaman Masjid Nabawi saat payung terbuka (inet)

dakwatuna.com Maksud ‘qiyadah’ di sini tentu tidak terkait dengan person tertentu, nama tertentu, jabatan tertentu, tetapi siapa saja yang merasa dirinya bagian dari jajaran petinggi jamaah, yang ma’ruf disebut qiyadah oleh seluruh elemen jamaah. Karena itu, tak ada yang perlu dirisaukan, merasa diserang atau ditelanjangi kehormatannya, sebab pada hakikatnya nasihat ini adalah untuk semuanya.

Justru, ini merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada mereka, setelah sekian lamanya mereka dijadikan bahan olok-olokan, ejekan, dan bahkan laknat dari orang yang tidak jelas (saya katakan ‘orang tidak jelas’, sebab kader sejati yang masih memegang akhlak Islam tidak akan membiarkan lisan dan tulisannya keluar kata-kata kotor, betapa pun emosinya), dan akhirnya ditanggapi dengan cara yang sama pula oleh masing-masing pendukung.

Ini memprihatinkan, sebab aksi dan reaksi yang terjadi tidak berhenti pada ejekan, olok-olok, dan laknat, tetapi sudah pada sikap yang berlebihan dan tidak terukur. Satu pihak menuduh yang lain kemasukan intelijen, sementara yang lain menuduh balik sebagai agen zionis, yang atas memblacklist, yang bawah mengancam keluar jamaah, dan seterusnya. Hingga akhirnya, syaitan pun kegirangan, dan musuh-musuh dakwah pun bertepuk tangan dan tertawa. Maka, pandanglah ini sebagai nasihat ilallah (lebih tepatnya sharing) dari saudara sesama muslim, tidak lebih dan tidak kurang, walau bisa jadi tidak ada hal baru yang kami sampaikan, hanyalah nilai normatif yang sama-sama telah kita mengerti.

Sesuai dengan judul, maka taujih ini juga kami ambil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan para pemimpin dan kepemimpinan. Mudah-mudahan hadits-hadits ini bisa dijadikan renungan kita bersama, khususnya para qiyadah agar bisa menjadi qiyadah mukhlishah, dan membimbing kami menjadi jundiyah muthi’ah.

A. Kabar Gembira Untuk Qiyadah yang Adil

Banyak kabar gembira (busyra) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pemimpin yang adil. Kami akan sampaikan beberapa, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya, di hari tidak ada naungan selain naungan-Nya: (pertama) pemimpin yang adil …. dst.” (HR. Bukhari, 3/51/620. Muslim, 5/229/1712. Ahmad, 19/331/9288)

Ini adalah kabar gembira buat para qiyadah, berupa janji dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak mungkin dusta. Bergembiralah bahwa mereka akan menjadi manusia pertama yang akan mendapatkan zhillah (naungan/perlindungan) dari Allah Taala, sebelum enam golongan lainnya, dengan syarat berlaku adil.

Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan maksud zhillah di sini adalah ‘arsy (singgasana) sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits. Fungsinya adalah untuk melindungi pada hari kiamat nanti ketika manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam, didekatkan kepada mereka matahari hingga terasa panasnya. Maka tidak ada makna lain saat itu bagi Zhillah melainkan ‘Arsy. Ibnu Dinar mengatakan, maksud Zhillah di sini adalah kemuliaan, perisai, dan pencegah dari hal-hal yang keji saat itu. (Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 3/481)

Bukan hanya itu, memiliki kedudukan yang mulia dan paling dekat dengan Allah Taala. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat kedudukannya dengan Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil. Sedangkan manusia yang paling Allah murkai dan paling jauh kedudukannya dengan Allah adalah pemimpin yang zhalim.” (HR. At Tirmidzi, 5/164/1250. At-Tirmidzi mengatakan: hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Dalam sanadnya terdapat Ibnu Sa’ad bin Junadah Al-‘Aufi Al-Jadali Abul Hasan Al-Kufi, yang didhaifkan oleh Ats-Tsauri, Husyaim, dan Ibnu ‘Adi. Sementara At-Tirmidzi menyimpulkan untuk menghasankannya. Disebutkan dalam At-Taqrib: jujur tapi banyak melakukan kesalahan, dan dia seorang syiah dan mudallis (suka memanipulasi sanad). Dalam Al-Mizan disebutkan bahwa dia ini seorang yang hidup pada generasi tabi’in yang terkenal kedhaifannya. Abu Hatim mengatakan haditsnya di tulis tetapi dhaif. Yahya bin Ma’in mengatakan dia itu shalih (baik), sementara Ahmad mendhaifkannya. Sementara An Nasa’i dan jamaah mengatakan dia ini dhaif. Selesai. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 3/450)

Dalam riwaat lain, dari Abu Hurairah Radhaillahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak; yakni pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang dizhalimi.” (HR. At-Tirmidzi, 9/68/2449. Ibnu Majah, 5/294/1742. Ahmad, 16/241/7700. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, 3/345, lihat juga Syu’abul Iman, 15/134/6837. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 19/368/896. Ibnu Hibban, 14/356/3497. Al-Adzkar no. 534. An Nawawi berkata: berkata At-Tirmidzi: hasan)

Demikianlah berbagai keutamaan pemimpin yang adil; mendapatkan perlindungan di akhirat, paling Allah cintai dan dekat kedudukannya dengan Allah Taala, dan doanya tidak ditolak.

Lalu, apa maksud pemimpin yang adil? Adil yang bagaimana? Al-Qadhi ‘Iyadh juga mengatakan, mereka adalah para penguasa dan pemerintah, yang memperhatikan maslahat kaum muslimin, yang dengan keadilannya banyak memberikan manfaat dan maslahat bagi orang banyak. (Ibid). Sementara, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, tafsir paling baik tentang makna pemimpin adil adalah pemimpin yang mengikuti perintah Allah Taala dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa melampaui batas dan meremehkan, dan orang yang lebih mementingkan kepentingan yang lebih luas. (Fathul Bari, 2/485)

Jadi, paling tidak ada dua perilaku pemimpin yang adil, pertama, mengikuti perintah Allah Taala, kedua, meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu, mafhum mukhalafah (makna implisit)nya adalah jika pemimpin sudah tidak peduli dengan perintah Allah Taala, baik berupa Al-Wala wal Bara yang telah menipis bahkan luntur sama sekali, halal haram tidak peduli, juga melupakan perintah dan larangan, dan lain-lain, maka tanggal-lah predikat sebagai pemimpin yang adil bagi mereka.

Begitu pula ketika salah menempatkan permasalahan dan salah menempatkan manusia. Seperti menuduh khianat orang yang amanah, dan memberikan amanah kepada para pengkhianat, mempercayai para pendusta, dan mendustakan orang yang jujur dan setia. Maka, semakin jauh mereka dari nilai-nilai keadilan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur justru tidak dipercaya. Para pengkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah (tepercaya) justru dianggap pengkhianat. Saat itu ruwaibidhah pun angkat bicara.” Para sahabat bertanya: “Apakah ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: “Orang yang bodoh tapi berlagak membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah, 12/44/4026. Ahmad, 16/112/7571. Al-Hakim, Al-Mustadarak, 19/331/8571, katanya shahih tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. Syaikh Al-Albani juga menshahihkan dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 1887. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 12/437/14550. Juga dalam Al-Ausath-nya, 7/356/3386, dari jalur Anas bin Malik. Dalam riwayat Ath-Thabarani ini, terdapat Ibnu Ishaq, dia seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan juga Ibnu Luhai’ah serang yang layyin (lemah), lihat Majma’ az Zawaid, 7/284, tetapi Al-Hafzih Ibnu Hajar menyatakan hadits ini jayyid (baik), lihat Fathul Bari, 20/131)

B.  Sumur Hab Hab Bagi Para Diktator

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:

إن في جهنم واد ، في ذلك الوادي بئر يقال له هبهب ، حق على الله تعالى أن يسكنها كل جبار

“Sesungguhnya di neraka jahanam ada sebuah lembah, di lembah tersebut terdapat sumur yang dinamakan Hab Hab, yang Allah Taala tetapkan sebagai tempat tinggal bagi setiap diktator.” (HR. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, 8/193/3683. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘alash Shaihihain, 20/179/8918. Imam Al-Haitsami mengatakan sanadnya hasan. Majma’uz Zawaid, 5/197. Ini lafaz milik Al-Hakim)

Hadits yang mulia ini memberikan kabar, betapa selamat pemimpin yang mau mendengar dan memperhatikan keluh kesah umatnya (baca: kader), mau menerima masukan, bahkan siap dikoreksi dan kritik, tidak semena-mena, dan tidak menjadikan segala titahnya adalah ‘firman Tuhan’ dan ‘hadits nabi’ yang suci. Sehingga umatnya dibuat tidak kuasa bertanya ‘kenapa’, apalagi dengan lantang berkata ‘tidak’.

Sikap ini sangat penting agar tidak ada kabut komunikasi, hambatan informasi, hingga akhirnya umat menyimpulkan sendiri apa yang terjadi di atas, bukan dari apa yang mereka ketahui secara valid (ilmu yaqin), tetapi dari apa yang mereka rasa dan kira-kira (zhan). Maka, qiyadah yang bijak jangan justru memberikan syak wasangka balik, berupa anggapan terhadap umatnya seperti ‘adamu tsiqah (hilangnya kepercayaan), makar, konspirasi, dan menggembosi jamaah. Melainkan seharusnya bertanya, ‘Ada apa dengan saya? jika saya salah, di mana letak kesalahannya, lalu bagaimana jalan keluarnya?’

Dalam lafaz Ath-Thabarani disebutkan dengan lafaz Jabbarun ’anid, diktator yang keras kepala. Sulit menerima masukkan, cenderung memandang segala masukan, koreksi, dan kritikan adalah ancaman.

Ada hadits lain yang esensinya sama dengan di atas, dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَيَكُونُ أَئِمَّةٌ مِنْ بَعْدِي يَقُولُونُ وَلا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ، يَتَقَاحَمُونَ فِي النَّارِ كَمَا تَتَقَاحَمُ الْقِرَدَةُ

“Akan datang para pemimpin setelahku yang ucapan mereka tidak bisa dibantah, mereka akan masuk ke neraka berdesa-desakkan seperti kera yang berkerubungan.” (HR. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 14/322. Abu Ya’la, 15/188/7217. Alauddin Muttaqi Al-Hindi, Kanzul ‘Umal, 6/69/14884. Al-Haitsami mengatakan rijalnya tsiqat. Majma’ az Zawaid, 5/236. Syaikh Al-Albani menshahihkan, Shahih wa Dhaiful Jami’ Ash Shaghir, 13/300/5928)

Mari sejenak kita bercermin kepada sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika permulaan perang Badar. Saat itu beliau hendak membuat Base Camp, di salah satu sumur di padang Badar. Namun, seorang sahabat yang mulia, Hubab bin Al-Mundzir bertanya: “Ya Rasulullah, seandainya Allah telah mewahyukan kepadamu, maka kita akan mengikutimu dan tak akan maju atau mundur setapak pun. Tetapi, apakah ini sekedar pendapat atau strategi perang?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

بل هو الرأي والحرب والمكيدة

“Ini cuma pendapat dan strategi saja.”

Lalu Hubab bin Al-Mundzir memberikan masukan: “Rasulullah,” katanya, ”Nampaknya tidak tepat kita berhenti di sini. Sebaiknya kita mendekat ke mata air terdekat dari mereka, lalu sumur-sumur yang kering itu kita timbun. Kemudian kita membuat kolam dan kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Sehingga, kita mendapatkan air minum, mereka tidak , sampai Allah tetapkan hasilnya antara kita dengan mereka.” Maka Rasulullah memandang baik masukan ini, lalu beliau melakukannya. (HR. Imam Al-Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 3/4/874. ‘Uyunul Atsar, Hal. 332. Imam Ibnu Katsir, As-Sirah An Nabawiyah, 2/402. Imam Ibnu Hazm, Jawami’ As Sirah, Hal. 112. Syaikh Ash-Shalih Asy Syami, Subulul Huda war Rasyad, 4/30. Ar Raudhul Unuf, 3/62. Sirah Ibnu Hisyam, 1/620. Imam Al-Waqidi, Al-Maghazi, Hal. 52. Imam Ibnul Atsir, Usudul Ghabah, 1/231. Imam Ath-Thabari, Tarikhul Rusul wal Muluk, 1/444)

Di mata Rasulullah yang ma’shum, masukan dari Hubab bin Al-Mundzir ini, sama sekali tidak menodai kenabiannya, tidak pula merendahkan risalah yang dibawanya, apa lagi menggembosi rencana-rencana yang sudah ada. Justru, itu semakin memperkuat posisi, membuatnya dicintai oleh para sahabat dan umatnya, dan membuat dirinya tercatat sebagai manusia terbaik sepanjang sejarah.

Bukanlah aib, jika para qiyadah mau seperti Abu Bakar Ash Shiddqiq radhiallahu ‘anhu, seorang Khalifah mulia, ketika diangkat menjadi pemimpin, dia berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya saya diangkat untuk menjadi pemimpin kalian, padahal saya bukan yang terbaik di banding kalian. Jika aku benar maka bantulah, jika aku salah maka koreksilah. Sesungguhnya kejujuran adalah amanah, dan kedustaan adalah khianat. Orang lemah pada kalian adalah kuat bagiku hingga aku memberikan kepadanya haknya, Insya Allah. Orang kuat di antara kalian adalah lemah bagiku, hingga saya mengambil darinya hak orang lain, Insya Allah. Tidaklah sebuah kaum meninggalkan jihad melainkan Allah Taala akan berikan mereka kehinaan. Tidaklah diikutinya kekejian yang ada pada suatu kaum sedikit pun, melainkan Allah akan menurunkan musibah secara merata. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka jangan kalian taati aku, dan dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.” (Imam As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 27. Ibnu Katsir, Sirah An-Nabawiyah, 4/493, katanya: sanadnya shahih. Ar-Raudhul Unuf, 4/450. Sirah Ibnu Hisyam, 2/661. Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, Hal. 379. Ibnu Khalikan, Wafayat Al-A’yan, 3/66. Imam Ath-Thabari, Tarikhul Rusul wal Muluk, 2/120)

Bukan pula cela seandainya mereka mau meniru sikap para Imam berikut ini:

Imam Mujahid radhiallahu ‘anhu berkata:

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم.

“Tidaklah seorang pun melainkan bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ( yang wajib diterima /tidak boleh ditolak).” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’, Juz. 2, Hal. 31)

Imam Malik Rahimahullah berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan Al-Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai maka tinggalkanlah.” (Imam Al-Mizzi, Tahdzibul Kamal, Juz. 27, Hal. 120)

 

Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah berkata:

وكل أحد يؤخذ من كلامه ويترك إلا المعصوم صلى الله عليه وسلم , وكل ما جاء عن السلف رضوان الله عليهم موافقا للكتاب والسنة قبلناه , و إلا فكتاب الله وسنة رسوله أولى بالإتباع ، ولكنا لا نعرض للأشخاص ـ فيما اختلف فيه ـ بطعن أو تجريح , ونكلهم إلى نياتهم وقد أفضوا إلى ما قدموا .

“Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen), dan jika tidak sesuai, maka Al-Quran dan As Sunnah lebih utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak melempar tuduhan dan celaan secara pribadi kepada orang yang berbeda, kita serahkan mereka sesuai niatnya dan mereka telah berlalu dengan amal berbuatan mereka.” (Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal.306. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun)

Para pemimpin seperti inilah yang akan mendapat cinta, hormat yang tinggi, dan penghargaan yang mahal, dari umatnya (baca: kader), serta kewibawaan yang disegani. Tentunya, jurang Hab Hab pun tidak rela menerima kehadiran mereka. Wallahu A’lam

C. Tidak Diterima Shalat Seorang Pemimpin yang diBenci Kaumnya

Hadits seperti ini ada beberapa jalur yang bisa dipertanggungjawabkan (valid), dengan redaksi yang agak berbeda. Di antaranya, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

“Ada tiga manusia yang Shalat mereka tidaklah naik melebihi kepala mereka walau sejengkal: yakni seorang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, seorang isteri yang tidur sementara suaminya sedang marah padanya, dan dua orang bersaudara yang saling memutuskan silaturahim.” (HR. Ibnu Majah, 2/338/961, Imam Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi mengatakan sanadnya shahih dan semua rijalnya tsiqat (kredibel), Hasyiyah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 2/338. Syaikh Al-Albani mengatakan hasan. Misykah Al-Mashabih, 1/249/1128. Syaikh Ala’uddin bin Qalij bin Abdillah Al-Hanafi mengatakan sanad hadits ini laa ba’sa bihi (tidak apa-apa). Abu Hatim berkata: Aku belum melihat ada orang yang mengingkarinya. Dalam sanadnya terdapat ‘Ubaidah, berkata Ibnu Namir: dia tidak apa-apa. Ad Daruquthni berkata: baik-baik saja mengambil ‘ibrah darinya. Abu Hatim mengatakan: menurutku haditsnya tidak apa-apa. Sanadnya juga terdapat Al-Qasim. Menurut Al-‘Ijili dan lainnya dia tsiqah (kredibel), Lihat dalam Syarh Sunan Ibni Majah, no. 172, karya Syaikh Ala’uddin Al-Hanafi. Al-Maktabah Al-Misykat)

Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari jalur lain, yakni Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dengan redaksi sedikit berbeda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةً رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَرَجُلٌ سَمِعَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ثُمَّ لَمْ يُجِبْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat tiga golongan manusia, yakni seorang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, seorang isteri yang tidur sementara suaminya sedang marah padanya, dan seorang yang mendengarkan Hayya ‘alal Falah tetapi dia tidak menjawabnya.” (HR. At Tirmidzi, 2/97/326. Katanya: tidak shahih, karena hadits ini mursal (tidak melalui sahabat nabi), dan dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al-Qasim. Imam Ahmad mendhaifkannya dan dia bukan seorang yang terjaga hafalannya. Sehingga Syaikh Al-Albani menyatakan dhaif jiddan (lemah sekali), lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/358. Namun, Syaikh Muhamamd bin Thahir bin Ali Al-Hindi mengatakan, hadits ini memiliki sejumlah syawahid (penguat)nya. Muhammad bin Al-Qasim tidaklah mengapa, dan dinilai tsiqah oleh Imam Yahya bin Ma’in. Tadzkirah Al-Maudhu’at, Hal. 40)

Lalu, jalur Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثلاثة لا تجاوز صلاتهم آذانهم : العبد الآبق حتى يرجع وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط وإمام قوم وهم له كارهون

“Tiga golongan manusia yang shalatnya tidak sampai telinga mereka, yakni: budak yang kabur sampai dia kembali, isteri yang tidur sementara suaminya marah kepadanya, dan pemimpin sebuah kaum dan kaum itu membencinya.” (HR. At Tirmidzi, 2/99/328. At Tirmidzi berkata: hasan gharib. Syaikh Al-Albani menghasankan dalam beberapa kitabnya, Misykah Al-Mashabih, 1/247/1122. Shahih At Targhib wat Tarhib, 1/117/487, Shahih wa Dhaif Al-Jami’ Ash Shaghir, 12/315/5368)

Hadits ini menunjukkan, menurut para ulama, dimakruhkannya seorang pemimpin menjadi imam, dan dia dibenci oleh kaumnya. Tetapi jika pemimpin tersebut bukan orang zhalim, maka kaumnyalah yang berdosa. Sementara Ahmad dan Ishaq mengatakan seandainya yang membenci pemimpin tersebut hanya satu, dua, atau tiga orang maka tidak mengapa pemimpin tersebut shalat bersama mereka, kecuali jika yang membenci lebih banyak. (Sunan At Tirmidzi, 2/97/326)

Ibnu Al-Malak mengatakan bahwa penyebab kebenciannya pun adalah masalah agama, seperti bid’ah, kefasikan, dan kebodohan yang dibuat oleh pemimpin tersebut. Tetapi, jika kebencian disebabkan perkara dunia di antara mereka, maka itu bukan termasuk yang dimaksud hadits ini. (Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi, 1/387)

Maka hendaknya kita semua berhai-hati, khususnya para pemimpin. Jika mereka melakukan aktivitas atau keputusan yang membuatnya jatuh pada bid’ah, kefasikan, dan kebodohannya, lalu hal itu membuat dibencinya mereka oleh kaumnya, maka ambil-lah peringatan dari hadits ini.

Dalam konteks jamaah ini, hati-hatilah dengan sikap-sikap yang dianggap meremehkan nilai-nilai syara’ dengan alasan “memperbesar suara,” dan “memperluas dukungan.” Hingga berbasa-basi dengan pengusung kefasikan, liberalisme, dan komunitas yang dahulunya dianggap musuh dakwah, atau berbasa-basi dengan nilai yang dahulunya kita anggap sesat dan menyesatkan. Lalu akhirnya, terjatuh dalam wilayah bid’ah, fasik, dan kebodohan tadi. Nilai luhur yang ada pada syariat, itulah panglima, bukan politik yang menjadi panglima. Sebab, masih banyak cara halal untuk merebut hati manusia dan memperluas jaringan. Bukan cara kontroversi, abu-abu, dan –seperti- tidak wara’. Alih-alih merebut hati manusia dan memperluas jaringan, justru dianggap cari muka dan ditinggalkan pemilih tradisionalnya. Mengejar yang ada pada orang lain, namun tidak menjaga yang sudah ada, akhirnya, yang lain gagal diraih, yang sudah ada hengkang kecewa. Bahkan yang hengkang ini, bukan sembarang ‘manusia’ melainkan kader terbina seusia jamaah ini, atau kurang sedikit. Betapa mahalnya mereka, betapa sulitnya mencari pengganti mereka. Sekali pun ada pengganti dengan kader-kader baru, berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengejar kualitas pendahulunya? Dan .. apakah sama antara para sahabat assabiqunal awwalun dengan yang terbina pasca fathul makkah? Apakah sama antara yang menyaksikan hudaibiyah dengan pengikut haji wada’?

Penyesalan memang selalu datang kemudian.

D. Di antara Sifat Qiyadah Terbaik

Dari ‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim, 9/403/3447. Ahmad, 49/11/22856. Al-Baihaqi, As Sunan Al-Kubra, 8/158. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 12/431. Ad Darimi, 9/19/2853. Ibnu Hibban, 19/182/4672)

Hadits shahih ini memberikan kita gambaran, bahwa prestasi pemimpin tergantung dari timbal balik hubungan mereka dengan rakyatnya (baca: kader). Pemimpin menjadi terbaik, ketika mereka mencintai dan mendoakan kebaikan kepada rakyatnya, dan rakyatnya pun melakukan hal serupa untuk pemimpinnya. Pemimpin menjadi terburuk, ketika mereka membenci dan melaknat rakyatnya, dan rakyatnya pun melakukan hal serupa. Sayangnya, selintas lalu nampaknya gambaran yang kedua, bisa jadi lebih terlihat yakni saling ejek, olok-olok, menebar curiga, dan caracter assasination, dibanding gambaran yang pertama; saling mencintai dan mendoakan. Namun, gambaran ini kami yakin tidak mewakili keadaan sebenarnya dan keadaan pada umumnya. Seperti yang kami katakan sebelumnya, ini hanyalah guncangan segelintir wilayah dan internet saja. Sehingga tidak ada alasan untuk pesimis dan putus asa, masih banyak yang mencintai jamaah ini, betapa pun adanya kekurangan di sana sini. Semua harus optismis, karena kami yakin bahwa masing-masing menginginkan yang terbaik walau dengan cara yang berbeda. Tidak ada perbedaan manhaj dan aqidah, yang ada hanya perbedaan uslub dan strategi saja. Jika ternyata, ada yang salah dalam ijtihad politiknya, semoga Allah Taala memberikan satu pahala, dan jika benar maka dua pahala.

E. Pemimpin Zhalim, Pendusta, dan Para Pengikutnya

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ka’ab bin ‘Ujrah, “ semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang bodoh.” Dia bertanya: “Apa maksud kepemimpinan orang bodoh itu?” Beliau bersabda: “Yaitu para pemimpin setelahku yang menuntun tidak mengikuti petunjukku, tidak berjalan di atas sunahku, barangsiapa yang mempercayai kedustaan mereka dan menolong kezhaliman mereka, maka mereka bukan golonganku, dan mereka tidak akan mendatangi telagaku. Dan barangsiapa yang tidak memercayai kedustaan mereka dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka mereka akan bersamaku dan akan mendatangi telagaku.” (HR. Ahmad, 28/468/13919. Al-Baihaqi, Dalail An Nubuwwah, 7/472/2893, juga Syu’abul Iman, 19/392/9081. Ibnu Hibban, 19/34/4597. Imam Al-Haitsami mengatakan rijalnya shahih, Majma’ az Zawaid, 5/247. Imam Al-Hakim, Al-Mustadarak ‘alash Shahihain, 19/177/8415, katanya shahih dan tidak diriwayatkan Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini, ada beberapa pelajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menyebutkan bahwa kepemimpinan yang bodoh adalah, pertama, memberikan petunjuk bukan dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, kedua, tidak mengikuti sunah dalam memimpin.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan di atas huda dan sunah nabi adalah kedustaan. Namun demikian, pemimpin seperti ini juga memiliki pendukung dan penolong setia, dan yang mengikuti dan menolong kezhaliman mereka, Rasulullah menyebut mereka sebagai bukan umatnya dan tidak akan mendatangi telaganya. Sedangkan yang tidak mendukung dan menolong mereka, itulah yang termasuk umat Rasulullah dan akan mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.
  • abuzinad

    Subhanallah …. masya Allah …. semoga Alloh menjaga antum ustadz dan kita semua.

Lihat Juga

Fahira Idris, Anggota DPD RI. (pojoksatu.id)

Jakarta Magnet Kepentingan, Warga Jakarta Harus Rasional Pilih Pemimpin