Home / Berita / Rilis Pers / Dialog Kemanusiaan ACT: Bangun Harmonisasi di Myanmar

Dialog Kemanusiaan ACT: Bangun Harmonisasi di Myanmar

shelter 2prescom Rohingya 3prescom Rohingya 5

dakwatuna.comAksi Cepat Tanggap (ACT) telah tujuh kali mengirim Tim Kemanusiaan membantu korban konflik horizontal Myanmar, baik di Myanmar maupun negara tujuan pengungsian, dalam kurun 2012-2013. Krisis Myanmar belum usai. Salah satu mitra ACT, Myanmar Resources Foundation/MRF hadir menyuarakan harapan harmonisasi di Myanmar.

Tahap dukungan fisik yang terlaksana di Sitway, Rakhine State, Myanmar, berdirinya 300 shelter dari rencana membangun 1000 shelter (untuk 10.000 keluarga). Tak hanya itu. Ada seribu satu kisah dan kendala untuk menghadirkan kedamaian dan kelayakan hidup manusia di Myanmar.

Stimulan kesadaran  mendorong perdamaian atas berlarut-larutnya tragedi kemanusiaan di Myanmar. Belum kunjung muncul solusi kongkret sejak Rohingya dinobatkan sebagai etnis paling teraniaya di dunia oleh PBB. Dunia tak kunjung nampak keseriusannya mengatasi masalah ini, dan Myanmar masih menebar kisah pilu yang menimpa etnik Rohingya.

Pada dialog bertema Build Humanity: Dream for a Peaceful in Myanmar, Ko Ko Lwim, dari Myanmar Resource Foundation (MRF), mengungkapkan, saat ini pembatasan akses yang kembali menghadang bagi aksi-aksi kemanusiaan di Myanmar. “Perlu kebersamaan antarbangsa untuk bisa mengembalikan kedamaian antar etnik, antar umat beragama di Myanmar. Ini bisa didorong dengan kerjasama antar lembaga kemanusiaan,” jelas Ko Ko Lwim.

Dialog kemanusiaan di ruang pertemuan ACT Foundation di Menara 165 Jakarta itu, Direktur Global Humanity Response ACT, Doddy CHP, juga menegaskan perlunya mengingatkan pemerintah Indonesia sebagai negara yang mulai merintis banyak investasi di Myanmar, agar menggunakan posisi tawarnya untuk mendorong Myanmar agar lebih aktif dan segera menyelesaikan konflik komunal yang terjadi

“Indonesia bisa sebagai contoh yaitu sebagai negeri mayoritas berpenduduk Muslim yang toleran di mana Borobudur sebagai situs sejarah terbesar Budha tegak berdiri dan masih menjadi pusat ibadah Budhis di Hari Besar Budha, meskipun lingkungan sekitarnya tak hanya beragama Budha. LSM Budha Tzuchi, bahkan menjadi salah satu NGO terbesar di Indonesia, dengan kantor megah melayani beneficiaries lintas agama. Kondisi ini mustahil tercipta tanpa itikad baik dari semua elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat dan juga media” kata Doddy pada dialog pada Senin 27 Mei itu.

Dialog ini dibuat sebagai wahana untuk mendorong agar perdamaian Myanmar terwujud. Acara ini dihadiri representasi komunitas donatur dan mitra ACT juga sejumlah media massa nasional yang selama ini banyak mendukung isu Rohingya mengemuka. (am/act)

 

Ahmad Muslim

Public Relations Officer
Aksi Cepat Tanggap (ACT)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Pengungsi Rohingya (channel 4)

Advokat: Jika Gagal Lindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja