Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Sisi Gelap Pulau Bali

Sisi Gelap Pulau Bali

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

pandora-baliJudul: Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme

Penulis: Nyoman Sukma Arida

Penerbit: Pustaka Larasan, Denpasar

Cetakan: I, 2012

Tebal: 166 halaman

Isbn: 978-979-3790-9

Harga: Rp. 25.000,00

dakwatuna.com Apa yang Anda pikirkan jika seseorang bertanya tentang Bali? Kata pertama yang mencuat tentulah berupa keindahan alam yang eksotis, pulau surga, turis-turis manca negara, aman, damai, tentram, pantai Kuta, dan pesona kekuatan budaya yang sakral. Namun siapa sangka ternyata  Bali memiliki sisi gelap berupa kegetiran yang penuh paksaan dan berakibat kekerasan.

Keunikan budaya dipadu dengan keeksotisan keadaan alam menjadikan Bali sebagai magnet bagi wisatawan. Tidak hanya wisatawan dari dalam negeri, jutaan turis pun datang untuk menyaksikan langsung kemeriahan budaya masyarakat setempat dalam melakukan tradisi adatnya, seperti upacara melepasroh yang meninggal (pelebon atau ngaben). Keindahan pulau Dewata telah memberi warna paten.

Namun siapa sangka di balik kemeriahan upacara tersebut ternyata ada sisi gelap yang jika disebar-luaskan menjadi hal negative. Semisal masalah pembiayaan pelaksanaanya yang tidak jarang didapat dari utang jutaan rupiah. Bahkan penyelenggaraannya pun bukan niat murni keluarga sohibul musibah tersebut, melainkan keinginan pihak yang dominan.

Buku besutan Nyoman Sukma Arida berjudul Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme mengungkap sisi tersembunyi tersebut. Mulai dari mahalnya biaya untuk upacara agama, ludesnya tanah-tanah Bali dilahap investor, menjamurnya mall di sudut-sudut kota, hingga kerusuhan berkedok kasus adat. Masing-masing dikemas dalam bentuk esai berjumlah 25 artikel yang terangkum dalam buku setebal 166 halaman ini.

Rata-rata esai ditulis dengan menampilkan tokoh-tokoh orang-orang biasa. Diceritakan dengan ilustrasi yang sederhana dan ringan namun penuh makna. Sukma menggambarkan setiap permasalahan dengan cerita-cerita, tokoh yang sangat “Bali”. Misalnya, tokoh Gusti Ayu Cempaka yang bersikeras melangsungkan upacara pelebonan (atau ngaben) untuk suaminya dengan perayaan yang meriah, padahal keadaan ekonomi yang pas-pasan. Pada akhirnya terpaksa meminjam kesana-kemari untuk membuat upacara yang uttamaning utama (upacara yang tingkatannya paling tinggi) hanya demi gengsi semata.

Ada lagi I Lugra, seorang tokoh yang diceritakan berpenghasilan pas-pasan, namun wajib mengeluarkan iuran untuk upacara di Pura-pura, upacara agama di rumah, dan belum lagi biaya hidup sehari-hari. Kenyataan seperti itu bak kotak Pandora yang terbuka. Mengejutkan siapapun yang melihatnya. Sukma membuat perincian sistematis dan sederhana terkait dengan biaya pengeluaran saat diadakannya kegiatan adat dan keagamaan.

Otokritik

Karena penulisnya adalah orang Bali asli, maka dia bisa dengan bebas melakukan otokritik terhadap peliknya persoalan adat dan budayanya sendiri. Dia menampilkannya melalui tokoh-tokoh sederhana dalam 25 tulisan di buku ini. Merupakan sebuah keistimewahan dalam mengkritik tentang identitas, pulau, dan tradisinya sendiri. Banyak hal baru pada buku ini termasuk cara panggil lelaki orang Bali.

Buku ini berhasil menjadi kotak Pandora pagi pembaca. Sukma tidak hanya membaca kegalauan orang Bali tentang situasi di pulaunya sendiri tapi juga mengenal sisi lain Bali yang selama ini tenggelam di balik gemerlap pariwisata. Kekurangan dari buku ini bahwa kebanyakan artikel telah ditulis tujuh tahun silam. Tidak adanya tanggal penulisan membuat pembaca sedikit bingung melihat kronologi pemahaman.

Sebenarnya buku ini bukanlah satu-satunya buku yang membahas tentang sisi gelap Bali. Seperti karya Geofrey Robinson dalam The Darkside of Paradise (1998). Robinson membahas paradox Bali dengan lebih tajam. Bahkan orang Bali sekarang ini, mulai berani mengkritik dengan adanya Putu Setia dalam bukunya Menggugat Bali. Walau begitu buku ini masih diperlukan guna menumbuhkan kesadaran sosial antar-individu.

Setelah membaca buku ini, ternyata Bali bukan hanya sebagai pulau penuh ketentraman tetapi juga pulau yang memiliki konflik individu. Pulau dewata sudah terlanjur terkenal di dunia, bahkan lebih terkenal daripada Indonesia. Tidak sedikit para turis menjawab pernah, saat ditanya pernah ke Bali. Tetapi jika ditanya Indonesia? Tidak semua turis mengetahuinya. Membaca buku ini menjadi sadar melihat dan menilai sesuatu lebih subjektif. Bahwa setiap hal memiliki kekurangan dan kelebihan.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (46 votes, average: 8,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Saya orang Bali dan saya pernah membaca bukunya, isinya sangat bagus dan memang hal tersebut terjadi di sebagian daerah di Bali, saya sebagai generasi muda Bali berusaha untuk terus memperbaiki keadaan tersebut, mencoba membatasi jumlah penduduk dan lebih banyak membuka lahan hijau, memperketat ijin pembangunan, menyederhanakan upacara agama, yang kesemuanya itu belum tentu bisa diterima oleh orang Bali sendiri. tapi saya yakin, pelan2 masyarakat akan sadar dan bisa menerimanya.

    Saya harap banyak juga masyarakat yang punya sifat otokritik, yang tidak malu membeberkan sisi negatif dari budaya atau kepercayaannya, jika buruk katakan lah buruk, dengan begitu kita akan berusaha mencari solusi untuk memperbaikinya.

    Jangan ketika ada kritikan lantas dengan mudahnya kita mengusir atau mengatakannya sesat, liberal, dll, karena hal tersebut justru membuat kita tidak berkembang dan terus terpuruk.

Lihat Juga

KAMMI Badung Peduli Korban Musibah Banjir Bandang Gerokgak