Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar Mencintai Rosulullah Saw

Belajar Mencintai Rosulullah Saw

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

muhammad2dakwatuna.com “Kehidupan Muhammad bukanlah rekonstruksi setelah wafatnya. Kehidupan Muhammad bersifat seperti sebuah buku yang terbuka. Dalam hal ini posisinya dalam sejarah spiritual adalah unik. Seorang tokoh sejarah yang mengajarkan sebuah agama dunia, dan setiap gerakan dan nasihat-nasihatnya dicatat oleh banyak saksi sepanjang hidupnya.”

Demikian yang ditulis oleh  Michael Wolfe, seorang mualaf berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai jurnalis.

Sumber rujukan penulisan sejarah atau sirah Rosulullah Saw adalah bersumber dari Al Qur’an dan sunnah Rosul yang sejatinya memang diriwayatkan oleh para sahabat dan sahabiyah. Dengan beralas tanah dan beratapkan langit mereka mendapat didikan langsung dari Rosulullah Saw sehingga menjadi generasi emas pertama yang pernah ada di muka bumi.

Para sahabat ini kemudian meneruskan kepada para tabiin yang kemudian menukilkan riwayat tersebut dengan mencatatnya dalam lembaran yang mereka simpan hingga generasi selanjutnya dapat menuliskan sirah Nabi Saw tersebut dalam bentuk sebuah kitab atau buku.

Sesungguhnya keberadaan Rosulullah Saw adalah anugerah yang luar biasa dari Allah  Swt untuk umat manusia. Mengingat tabiat manusia yang cenderung menyenangi sesuatu dan mengidolakan sosok atau figur seorang tokoh. Rosulullah Saw hadir menjadi rosul terakhir sebagai penebar rahmat bagi semesta alam  dan memiliki akhlak yang berhiaskan akhlak Al-Qur’an.

Rosulullah Saw adalah Al-Qur’an berjalan. Semua perkataan dan perbuatannya  adalah terjemahan aplikatif dari kitab suci.  Beliau terbukti sukses menjalani setiap aspek kehidupannya dengan mengikuti petunjuk Allah Swt.

Dengan demikian, walau berabad jarak memisahkan, kita tetap dapat mengetahui setiap episode kehidupan dan peran Beliau dari sirah nabi Saw. Tidak hanya dari sisi ritual ibadahnya, tetapi juga dari perannya sebagai kepala keluarga, pendidik, motivator, panglima, politikus dan pemimpin negara.

Rosulullah Saw begitu mencintai   dan peduli pada kita. Bahkan sampai menjelang wafatnya pun Beliau masih mengkhawatirkan keselamatan  umatnya.  Beliau jugalah yang akan memberi syafaat kepada kita kelak di saat tak ada syafaat yang akan diterima oleh Allah Swt.

Berkaitan dengan hal ini, diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hajar Asqalany dalam Shahih Al Bukhari, dimana beliau menukil riwayat lain dari Anas bin Malik yang berkata,” Wahai Rosulullah, aku memohon syafaat kepadamu”, maka Rosulullah berkata,” Engkau akan bertemu aku di Mizan” Rosulullah menunggu umatnya di timbangan amal untuk memberikan syafaat.

Jika timbangan dosanya lebih berat dari amalnya maka akan diringankan oleh nabi Muhammad Saw dengan syafaatnya. Kemudian Anas bin Malik berkata, “ Wahai Rosulullah jika aku selamat di mizan, lalu bermasalah di tempat selanjutnya?” maka Rasulullah menjawab,”Aku akan berada di jembatan Shirat saat ummatku melintas”.

Dalam sebuah riwayat lain dikatakan  setiap  ummat Muhammad   akan terjatuh ke jurang api neraka. Lalu Rosulullah Saw akan memegang tangannya.  Namun jika dia pendosa besar yang belum sempat bertobat sebelum wafat, maka orang itu yang akan melepaskan tangan nabi sehingga iapun terjerumus ke dalam neraka.

Maka Anas bin Malik  kembali bertanya,” Wahai Rosulullah, jika aku mendapatkan kesulitan di tempat selanjutnya, dimana aku akan menemuimu ?” Rosulullah Saw menjawab, ” Aku berada di telaga Haudh. Aku akan mendahuluimu datang di Haudh. Siapa yang mendatanginya akan minum darinya dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang aku kenali namun ada juga yang dihalau ketika mereka mendatanginya”.

Menurut beberapa pendapat, telaga Haudh adalah sambungan dari telaga Al Kautsar yang  ada di dalam surga.  Al Kautsar  adalah telaga yang disiapkan oleh Allah Swt untuk Rosulullah Saw. Dimana Beliau diperlihatkan dalam peristiwa di malam Mi’raj.

Telaga yang indah itu dikelilingi oleh kubah-kubah mutiara dan menebar wangi yang lebih harum dari kesturi. Dimana  manusia sesungguhnya tidak akan pernah dapat melukiskannya. Karena Allah Swt menyiapkan sebuah keindahan surga yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh  telinga dan terlintas dalam hati dan pikiran  manusia.

Dimalam Mi’raj pula Rosulullah Saw memohon keringanan pada Allah Swt agar perintah sholat dikurangi dari 50 kali menjadi 5 kali dalam sehari.

Demikianlah,  betapa  besar belaskasihan Beliau kepada kita umatnya. Sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat At-Taubah ayat 128

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(At-Taubah: 128).

Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita membalas cintanya dan merindui Beliau ? Berharap diakui sebagai umatnya, mendapatkan syafaatnya. dan tidak dihalau ketika mendekati telaganya. Merindukan dan bercita-cita berjumpa dengan Beliau serta Mendambakan diberi seteguk air dari telaga Al Kautsar yang dijaganya.

Sementara, hari ini kita berada dalam era dimana peristiwa apapun yang terjadi, dibelahan dunia  manapun itu, dapat kita ketahui dalam hitungan detik.

Kita juga dapat menyaksikan sepak terjang seorang tokoh, sosok atau figur dari berbagai kalangan  yang mungkin kita puja atau kita idolakan hanya dengan menyentuh gadget yang ada dalam genggaman. Sehingga tidak mengherankan jika hari ini kita melihat betapa diantara kita terutama dari kalangan remaja atau para abg yang mencintai dan memuja idolanya diluar batas akal sehat.

Ketika kita mengidolakan seseorang  maka kita akan  menggilai dan meniru  semua yang ada pada sosok tersebut. Mulai dari tampilan luarnya sampai gaya hidupnya. Padahal sosok yang kita jadikan trendsetter  tersebut bisa jadi memberi contoh buruk dan tidak memberi manfaat bagi kita. Dan bila mereka melakukan sesuatu yang tidak patut, kita akan sangat kecewa atau bahkan sebaliknya membelanya mati-matian.

 

Sementara itu  Allah  Swt dan Rosul-Nya tidak pernah mengecewakan kita.   Tidak heran bila para sahabat  telah menunjukkan kecintaan kepada Rosulullah Saw dengan merelakan   harta dan nyawanya demi melindungi diri Beliau. 

Dan kini cara kita Mencintai Rosulullah Saw yang paling utama adalah dengan mentaati Beliau.  Allah Ta’ala berfirman  dalam surat An-Nisa ayat 80

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’; 80).

Cara selanjutnya adalah kita perbanyak bacaan shalawat dan salam kepada Beliau. Karena sesungguhnya bershalawat kepada Rosulullah Saw mengandung keberkahan, doa, pengagungan, dan pemuliaan.

Manisnya iman adalah ketika kita memiliki getar-getar cinta dan kerinduan pada Allah Swt dan Rosulullah Saw. Semoga usaha kita belajar mencintai Beliau  mampu menghadirkan rasa  yang indah itu. Sehingga kita dapat belajar menjadi pribadi yang taat dan istiqomah ditengah kepungan dan gempuran  gaya hidup hedonis yang tersaji di ruang-ruang publik.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan