Home / Pemuda / Cerpen / Purnama Kedua

Purnama Kedua

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dua purnama telah terlewat menunggui waktu yang  terlalu lama bergulir. Ini adalah tentang purnama kedua yang aku lewati setelah purnama pertama di bulan Agustus. Di bulan itu aku mengikuti dua test agar aku bisa berada di seberang pulau yang aku impikan. Bumi rinjani, tak pernah melihatnya dengan nyata hanya mengira keindahannya yang berada dalam novel sejak aku duduk di bangku SMA. Gunung dengan hamparan hijau, sungai-sungai kecil, mulut gua yang sangat jelas terdeskripsikan dengan baik. Di akhir kontelasi leo, kantuk ini tak memperoleh jawaban, mata masih saja sulit terpejam. Bagiku ini adalah lima menit terlama yang aku rasakan.

Jarum detik itu tak lagi bersahabat walau terus ku tatap jam dinding yang tertempel di dinding rumahku ia seolah tersenyum lirih mengejekku. Ah.. menyebalkan mengapa sang dewi malam ini tak jua terbenam?. Lalu ku nyalakan handphone yang ada di samping tempat tidurku, mencari dan kemudian menyalakan  list ayat cinta-Nya agar aku merasakan ketenangan. Arrahmaan… A’llamal Qur’aan… Kholaqol in saan… A’llamahul bayyan… Assyamsu wal Qomaru bihusbaan… di ayat cinta-Nya yang kelima “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” seakan menjawab kegelisahanku. Seolah-olah Allah menegurku untuk bersabar menunggui pagi karena bulan terbit dan terbenam sesuai garis edarnya untuk mengitari bumi.

Aku malu rasanya ternyata aku terlalu menuruti egoku dan menuntut apa yang menjadi perhitungan-Nya. Kalam Illahi masih sangat hikmat ku dengar tapi hati masih saja menuntut penasaran untuk segera tahu kabar yang dinantikan itu. entah jawaban apa yang akan diterima? bahkan malam yang berbalut kabut tak memberikan jawabannya. Gelisah yang semakin durjana terus menyelimuti. Suara yang terdengar semakin sayup dan lalu menghilang, mataku pun akhirnya terpejam.

***

Demi pemilik cahaya merah di waktu pagi dan apabila siang telah dirajai-Nya

Fajar mulai membangunkanku seolah membuka jendela mimpiku dan mengatakan “inilah saatnya”. Sebelum memulai hari ini aku terbiasa untuk menyemangati hari dengan mensugesti menggunakan kata-kata dari Sandiaga Uno saat itu “Dalam proses menuju kesuksesan semangat kita tak pernah padam seperti obor olympic yang tetap berkobar dari waktu ke waktu dan masa ke masa. Katakanlah pada dunia I’m the true spirit of olympic”. Masih menelusuri jalan yang sama, melewati lorong jalan kecil yang sepi dan terus menembus perumahan warga.

Akhirnya aku tiba di sekolah tempat ku mengajar. Di depan pintu gerbang terdapat plang bertuliskan SMK Bhara Trikora I. Hari ini pun tiba, hasil test yang aku ikuti diumumkan. Aku pun membuka halaman website yang dituju dengan segera www.Sekolahguruindonesia.net. koneksinya berjalan dengan lamban dan dada inipun terus memburu dengan kuat terasa bagaikan tirani yang mencengkeram.

Halaman website telah terbuka, klik… ku tekan mouse dengan tak sabar. Ddreeeetttt….. langsung ku roll halaman itu di urutan sepuluh terdapat namaku. Ya! tulisan itu terdapat namaku dan ku yakin nama itu adalah milikku bukan milik orang lain. Dada ini terasa dipenuhi udara yang membuncah dan menyesakkan dada. Semacam perasaan bangga, perasaan senang oh… atau apapun itu yang pasti kakiku terasa tak menapaki bumi. Segera ku cetak halaman website tersebut dan menunjukannya kepada pihak sekolah bahwa aku telah diterima di SGI. Pihak sekolah merasa tak percaya karena rasanya masih terlalu pagi, ketika kata pisah itu akhirnya terucap.

Ingatanku belum saja kering, dua tahun lalu aku datang ke sekolah ini sebagai guru dan mengajar anak STM di sekolah itu. Label sekolah ini pun dicap buruk oleh masyarakat dengan prestasi yang tak dapat dikatakan baik dan tawuran yang kerap kali terjadi. Tapi saat itu aku mengazzamkan dalam diri aku harus bisa meningkatkan kualitas siswaku agar kelak tak lagi dicap buruk oleh masyarakat. Ternyata menjelang kepergianku dari sekolah inipun sangat sedikit perubahan yang terjadi hanya ada 1-5 siswa yang akhirnya bisa terpacu untuk belajar dengan baik. Aku tak menuntut lebih siswa ku mencapai standar kognitif asalkan mereka dapat menemukan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat dan berhak untuk diakui keberadaannya tentu dengan label yang baik.

Di hari perpisahan, siswa ku bertanya “ibu mau keluar dari sekolah yah? Kenapa emang bu?” aku hanya bisa menjawab “iya” tanpa menyebutkan alasannya terasa keluh di dada ini ketika ku sadari belum banyak yang diberikan untuk mereka. Lalu mereka menyalamiku seakan jabat tangan itu tak ingin dilepasnya. Hangat seperti pertama kali ku temui mereka.

Setiap pemberhentian adalah awal perjalanan berikutnya dan setiap pintu keluar adalah pintu masuk ke ruangan yang lain (Mario Teguh). Aku meyakini sebenarnya tak pernah ada akhir dalam perjalanan hidup manusia kecuali kematian dan itu adalah kepastian. Langit hari ini cerah seperti biasanya, biru langit bertemankan awan sedikit cahaya mentari menembus ke bumi. Udara Jakarta hari ini pun terasa menyegarkan, terasa sepi dari kebisingan, terasa burung-burung yang tak nyata itu bersiul-siul menyanyi dengan riang di telingaku. Hari ini indah, syukur yang tak terputus terucap lirih di bibirku.

Aku tahu  bahwa setiap hasil adalah refleksi dari apa yang pernah kita upayakan. Man plant aber Allah bestimmt. Manusia memang hanya berencana tetapi Allah yang memutuskan maka Katakanlah “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui yang di langit dan di bumi…” (Al-Ankabut: 52) Niat itu hanya cukup diketahui dalam hati, biarlah Allah yang menjadi saksiku. dan hatiku terasa lebih ringan, benarlah apa yang ada dalam ayat-cinta-Nya “Berangkatlah kamu dengan rasa ringan dan rasa berat. Dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At-Taubah: 41).

***

                Seringkali aku melihat berita dengan sekolah serba terbatas dari jumlah guru, ruang kelas, dan fasilitas sekolah bahkan sekolah itu tak pantas disebut sekolah, siswa- siswa yang luntang-lantung karena disekolah tersebut kekurangan guru lalu siapa yang bertanggung jawab? “Seonggok manusia terkapar, siapa yang bertanggung jawab bila semua pihak menghindar biarlah aku yang menanggungnya semua ataupun sebagian” (ulama). Jalan mengikuti SGI ini artinya ada dua tujuan sekaligus yang ingin aku capai. Semoga para malaikat mengaminkan do’a yang terpanjatkan sampai ke Arsy-Nya.

 

Tertanggal 20 September 2012

Setelah menunaikan kewajiban sebagai warga jakarta, atas seizin kedua orang yang ku cintai serta dua adik yang aku sayangi. aku pun berangkat menuju parung dengan tujuan Bumi Pengembangan Insani tempat selama enam bulan ke depan yang akan aku naungi. Di malam awal masih perlu adaptasi pengenalan lingkungan. Aku tak bisa tidur, baru aku yang berada di kamar itu karena memang aku tidak terbiasa tidur sendiri.

Tengah malam, teman kamarku yang berasal dari bone tiba. Akhirnya aku bisa melepaskan lelah setelah seharian ini naik angkutan kota lebih dari empat jam padahal jakarta-parung dekat tapi akibat kemacetan perjalanan menjadi lama. Hari kedua aku berada di asrama, pagi setelah sarapan teman sekamarku yang berasal dari lampung baru saja tiba. Lengkaplah sudah kami bertiga di kamar itu. Di suatu siang tiba-tiba aku sudah merindukan rumah. Hari ini tak lagi sama dengan hari kemarin. Ketika sore kemarin hujan dan hari inipun hujan bunyi gemericik yang tak berbunyi sama menegaskan aku sudah berada di tempat yang lain.

Aku hanya bisa bertekad bahwa aku harus bisa melakukan yang terbaik melebihi kemampuan yang aku punya dan biarkan Allah yang menilai segala prosesnya. I never work for the numbers. I want to be the best at what I do then the best numbers will come in (Mario teguh).

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan IV. sekarang menjadi volunteer sebagai Sekretaris KLIPNUS (Klinik Pendidikan Nusantara) menangani Training untuk Guru dan Siswa. serta KLIPNUS memiliki rumah baca yang disebut Kolong Ilmu. beberapa kegiatan kami diantaranya Indonesia Ceria dan Training for Teacher. Semoga Kami senantiasa bermanfaat. Klipnus : Build Better Indonesian Education

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku