Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam Mencintaimu, Miss Indonesia

Islam Mencintaimu, Miss Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

mahkota miss worlddakwatuna.com Wanita adalah makhluk mulia di hadapan Islam. Itulah mengapa berkali-kali Ormas Islam, bahkan MUI sebagai lembaga Pemerintah, menolak dilaksanakannya “Miss World” di Indonesia. Tetapi acap kali orang tak mengacuhkan. Padahal itu adalah ekspresi kecintaan umat Islam pada wanita seluruhnya.

Bagi Islam, wanita merupakan makhluk yang sangat mulia. Tak ternilai harganya. Bukan sembarang orang bisa menyentuhnya. Seperti Ratu di Inggris yang tak semua orang bisa “menikmati”. Hanya  orang yang membayar dengan tanggung jawab atas nafkah fisik dan batin selama hidupnya, yang memiliki hak atasnya. Karena wanita begitu mulia. Makhluk berharga yang akan menjadi madrasah bagi eksistensi sebuah bangsa. Maka menjadi penting menjaga kesuciannya. Nilainya adalah harga diri bangsa. Begitulah Islam menghargai kemuliaan wanita.

Sekedar melihat wajah wanita pun ada adabnya. Itulah mengapa diwajibkan atasnya mengenakan jilbab hingga menutupi dada. Itulah bentuk pengamanan agar terjaganya kemuliaan yang dimilikinya. Seluruh tubuhnya ditutup kecuali wajah dan telapak tangan. Karena dalam setiap jengkal tubuhnya dianugrahi keindahan. Selayaknya permata. Semakin berharga, semakin dijaga. Semakin berkualitas barang, semakin berkualitas pengemasannya.

Bahkan sopan santun pada wanita menjadi parameter kualitas manusia. Itulah mengapa Syurga berada di bawah telapak kakinya. Syurga sebagai cita-cita tinggi bagi umat manusia. Yang tak ada seorang laki-laki pun di bumi diberikan hak istimewa ini.

Namun ajang Miss World membuat umat islam di Indonesia menjadi gelisah. Icon peradaban akan dicoreng, ketika wanita hanya menjadi ajang bisnis belaka. Padahal yang diuntungkan hanya bisnis tertentu saja. Paling-paling hanya pariwisata, majalah pria hidung belang, dan bisnis pengumbar “harta” wanita. Padahal wanita lebih mulia dari pada sekedar rupiah dan dolar yang menggunung. Bahkan islam mengajarkan bahwa harta yang paling berharga adalah wanita sholihah. Baik budi pekertinya, dan tentunya bermanfaat bagi manusia.

Kami yakin bahwa “Miss Indonesia” dan “Miss luar Indonesia” adalah wanita yang tak sekedar cantik. Tapi sayangnya, icon “Miss World” hanya boleh disandang wanita cantik saja. Padahal yang akan dibawa ke penjuru dunia adalah almamater bangsa. Bahkan yang tertanam adalah icon wanita terbaik dunia. Tapi konsep Miss World tetap saja hanya konsep penghargaan fisik. Secerdas apapun wanita membangun pendidikan bangsa, sehebat apapun wanita membangun kelestarian lingkungan untuk dunia, dan se-jenius apapun wanita yang telah menemukan obat kanker maupun jantung, tetap saja tak akan mendapatkan gelar Miss World jika dia pincang.

Sebuah situs hiburan di Indonesia menampilkan judul berita: “Kriteria Miss Indonesia 2013 Ikuti Standar Miss World”.  Salah satu anggota tim juri audisi Miss Indonesia 2013 menyatakan: “Karena ini ajang kecantikan, bagaimanapun yang paling penting adalah fisik perlu diperhatikan, seperti wajah, tinggi badan dan proposional berat tubuh.” Maka wajar saja yang diukur adalah jarak antara jidat dengan dagu, ukuran pipi, mancungnya hidung, jenjangnya kaki, bahkan ukuran bagian intim wanita dijadikan standar.

Hanya sekedar itu penghargaan terhadap wanita yang akan diberikan gelar “Miss World”. Dilihat oleh para laki-laki berlenggak-lenggok di atas catwalk. Lalu menggunakan baju renang yang akan memperjelas “harta” nya. Setelah itu, “diukur” keindahan fisiknya. Bagaimana caranya? adalah dewan juri yang mengetahui.

Saya yakin, ajaran katolik, protestan, hindu dan budha tak akan sebegitu picik menilai kemuliaan wanita hanya sekedar fisik. Apalagi hanya sekedar menjadi korban dari syahwat bisnis tertentu. Begitulah Islam tidak rela jika Ibu kita, saudara perempuan kita, dan wanita yang kita cintai hanya menjadi korban syahwat lelaki.

Sehingga, Alasan cinta lah, yang membuat terik matahari menjadi bara semangat di hati demonstran. Menjadikan jalan panjang birokrasi selayaknya mendaki mendapatkan kesejukan peradaban. Mereka rela berlelah-lelah hanya untuk menjaga kehormatanmu, harga dirimu, martabatmu, wahai makhluk mulia. Karena Islam mencintaimu.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini