Home / Pemuda / Essay / Irama Kehidupan Muslim

Irama Kehidupan Muslim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Hidupdakwatuna.comMaka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 103)

Ritme Hidup, Ritme Shalat

            Sebagai seorang yang beriman tentunya ritme kehidupan kita seharusnya akan banyak ditentukan iramanya oleh keimanan kita kepada Allah Swt. Irama kehidupan kita tentulah akan berbeda dengan orang-orang yang tidak mau mengenal Rabbnya.

            Apabila orang-orang kufur lagi lalai itu terhenti aktivitas duniawinya semata-mata oleh aktivitas duniawi lainnya seperti makan, minum, kelelahan, tidur, atau bahkan sakit. Tidaklah demikian semestinya bagi kita kaum muslimin. Suara adzan adalah penanda bagi kita untuk menghentikan segala macam aktivitas duniawi. Melalui adzan kita memasuki irama ukhrawi yang lembut, tenang, khusyuk, dan ikhlas yakni bermunajat kepada Allah Swt dengan ibadah shalat.

            Rasulullah Saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: Kesaksian bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke baitullah, dan puasa di Bulan Ramadhan.” (HR Bukhari)

            Sehingga rasanya tidak mungkin seorang muslim dapat berharap kehidupan akhiratnya bahagia sejahtera apabila lalai akan shalatnya.

            Kembali menegaskan dalam salah satu sabda Rasulullah bersabda, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di Jalan Allah.” (HR Muslim)

            Sesungguhnya shalat merupakan salah satu instrumen efektif yang mampu mencegah kita agar tidak terjebak pada kemaksiatan, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surat Al-Ankabut ayat ke 45 yang berbunyi, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.”

            Dengan shalat pula kita bisa disebut seorang mukmin. Sabda Nabi Saw, “Jarak antara orang dengan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim).

            Sehingga hendaknya tiada keraguan lagi bagi kita untuk sekedar meninggalkan urusan duniawi demi bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti irama ukhrawi kemudian melanjutkan aktivitas semula. Demikian seterusnya hingga lima kali dalam sehari (minimal). Yakinlah Allah Swt akan memudahkan semua urusan kita, karena Ia mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tujuan Jelas

            Islam telah mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatunya dengan orientasi tujuan yang jelas, sebagaimana kehidupan kita pun tujuannya jelas. Setiap manusia yang hidup di bumi ini memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Namun yang membedakan seorang muslim dengan yang lainnya dalam hal ini adalah orientasi tujuan hidupnya. Orientasi kehidupan seorang muslim adalah kehidupan akhirat. Setiap hal yang kita lakukan adalah upaya menabung bekal, menanam benih kebajikan, memperbanyak amal shalih, tidak lain demi memperjuangkan kebahagiaan kehidupan di akhirat.

            Secara fundamental, hidup merupakan suatu perjalanan yang teramat pendek. Hidup ibarat pengembaraan singkat. Tak begitu lama, lalu kembali ke tempat asal, padahal mempertaruhkan sesuatu yang besar, yaitu akhirat.

            “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36).

            Manusia diciptakan dengan tujuan yang sangat jelas dan pasti.

            “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (Adz-Dzariyat: 56).

            “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (Al-Baqarah: 207)

            “Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati…” (Al-Imran: 185)

            Adapun golongan manusia-manusia yang kehilangan orientasi, misi dan tujuan eksistensi  kehidupannya akhirnya akan menderita.

            “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makanan hewan-hewan. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12).

            “Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Naziat: 37-41).

Berlandaskan Niat Ikhlas

Seorang muslim itu menjalani ritme kehidupannya dengan perilaku dan perbuatan yang semuanya dilandasi oleh keinginan memperoleh keridhaan Allah Swt, bukan karena berharap keridhaan dan kerelaan makhluk.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..” (Al-Bayinah: 5).

Ikhlas berarti beribadah mencari keridhaan Allah dengan memurnikan ketaatan pada-Nya saja. Sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan, ”Syirik khafi (halus) akan terhindar dari orang-orang yang dirahmati Rabbnya. Sedangkan cara menghindari syirik tersebut adalah dengan mengikhlaskan hanya kepada Allah. Ikhlas murni ini tidak akan terwujud kecuali dengan zuhud. Sedangkan zuhud tidak akan tercapai kecuali dengan takwa. Dan takwa akan terwujud kalau mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah dengan konsekuen.

Maka menjauhi ritme kehidupan yang didominasi oleh aktivitas sekedar entertainment seperti bermain game, menonton televisi, internet, dan sejenisnya merupakan tindakan bijak dan semestinya dilakukan. Kemudian mulailah jalani kehidupan dengan irama shalat, melodi orientasi akhirat, dan simfoni keikhlasan serta ketulusan hati.

Wallahu a’lam bish shawab.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Satria Budi Kusuma
Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam. Anak pertama dari dua bersaudara ini mempunyai hobi membaca, hiking, dan traveling. Sejak SMP telah tertarik di dunia keorganisasian. Mulai dari OSIS, ROHIS, FAROIS, dan hingga sekarang aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas Peternakan UGM 2013, sebagai Menteri Koordinator bidang Eksternal di samping juga menjadi Kepala bidang HUMAS pada salah satu partai mahasiswa UGM. Aktivitas pergerakan yang diikutinya yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Baru-baru ini sempat didaulat oleh fakultasnya untuk melakoni program student exchange ke Faculty of Animal Science and Technology, Maejo University, Thailand.

Lihat Juga

Be a Real Muslim