Home / Pemuda / Kisah / Urgensi Tarbiyah Bagi Calon Guru

Urgensi Tarbiyah Bagi Calon Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Hal ini saya tuliskan berdasarkan hal yang saya temui di wilayah penempatan saya yaitu di Sambas, Kalimantan Barat. Saat ini saya tinggal di Desa Sempadian untuk satu tahun mendatang. Di Desa saya ini 100% warganya beragama Islam, memang untuk di Kalimantan Barat sendiri mayoritas etnis nya adalah melayu yang merupakan warga pribumi dan mayoritas Islam, china, dan Dayak. Melayu itu sendiri paling banyak berada di Sambas namun untuk tingkat kenakalan remaja berdasarkan data yang saya dapatkan adalah kedua setelah Jakarta. Selain permasalahan tersebut tingkat kehamilan di luar nikah dan perceraian orang tua, Sambas menempati kedudukan tertinggi di Kalimantan Barat.

Memang tidak ada jaminan agama dengan akhlaq seseorang kecuali bila tiap individu memahami esensi dari agama yang dianutnya maka akan tidak mungkin permasalahan tersebut dapat terjadi. Seperti yang telah pernah saya tuliskan dalam cerpen saya yang berjudul Melalui Jilbab, Allah menolongku. Saya sudah berjilbab saat saya duduk di bangku SMA, dan paska kuliah saya pun mengazamkan dalam diri saya untuk memanjangkannya seperti yang telah tercatat dalam ayat-Nya.

Se awam pengetahuan saya dulu mengenai esensi berjilbab ini, saya pun menemuinya kembali anggapan yang dulu pernah saya lontarkan “kenapa harus berjilbab panjang, apakah hanya untuk membedakan antara orang yang tarbiyah (dalam artian mengikuti mentoring) dengan yang tidak)?” pemikiran ini dipicu karena seringkali saya mengalami pembedaan oleh beberapa orang yang memang berada dalam komunitas tersebut. Semenjak saat itupun saya merasa tidak semua yang berjilbab panjang dan lebar itu jauh lebih baik dari saya. Walaupun memang tidak semua yang berjilbab panjang dan lebar itu mengucilkan saya.

Selama berkuliah saya pun masih sangat anti pati dengan kawanan berjilbab lebar. Hingga suatu saat sahabat saya Muthia Sari tiba-tiba mulai rutin mengikuti tarbiyah di kampus dan mulai melapisi kerudungnya seperti komunitas tersebut. Saat itu pula saya merasa ditinggalkan oleh sahabat saya karena mungkin perubahan yang terjadi pada Muthia sebenarnya itu hanya perasaan saya saja karena saya merasa Muthia lebih banyak menceramahi saya semenjak mengikuti tarbiyah. Hati saya saat itu adalah hati yang tidak rela sahabat saya kini mengalami perubahan seperti mereka yang tidak saya sukai, saya merasa ditinggalkan.

Tapi sebelum saya menyelesaikan kuliah, dengan pemikiran terbuka yang Muthia berikan pada saya. Akhirnya saya pun mulai belajar mentarbiyahi diri saya dengan mengikuti mentoring di kampus walaupun saya sudah tidak lagi menjadi mahasiswa di sana. Tidak ada yang terlambat untuk memperbaiki diri bukan?. Kembali ke wilayah penempatan, berkerudung lebar di sini masih sangat asing, bahkan yang lebih ekstrim di wilayah penempatan kawan saya Desa Sendoyan oleh beberapa warga di sana menjadi pembicaraan untuk warga. Memandang dengan asing dan mengatakan “ih…undung-undungnye panjang gila”1. Ditempat saya tinggal pun yaitu di rumah warga dengan awamnya ma’ce orang tua angkat saya meminta saya untuk melepaskan kerudung saya walaupun pada saat itu ada Pa’ce (suami dari ma’ce) dan kakak angkat saya. Jelas permintaan itu saya tolak berdasarkan hal yang saya dapatkan dari mentor saya dan beberapa bacaan yang memang sesuai pada surat An Nur : 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara-saudara mereka ….”. Pada ayat tersebut jelas tercatat tidak untuk bapak angkat dan kakak angkat.

Saya mencoba mempertahankan apa yang telah saya yakini sesuai ayat Al-Qur’an dan Hadits Riwayat Abu Dawud. Tidak terlepas pula oleh apa yang dikatakan siswa saya di kelas, saat saya mengajar kelas V “bu ngapelah undung ibu panjang inyan?”. Saya pun memberikan mushaf saya kepada siswa saya tersebut dan memintanya membaca dengan keras arti dari QS. Al-Ahzab : 59 “… , Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Saya jelaskan kembali kepada siswa-siswa saya seorang wanita yang telah baligh hendaklah memakai undungnya sampai menutupi dada dan tidak memperlihatkan perhiasannya itu (rambut) kepada yang bukan muhrimnya seperti yang difirmankan Allah dalam Qs. An Nur : 31.

Beberapa dari mereka memang tidak mudah menerima begitu saja terutama siswa saya yang lelaki. Di tempat saya mengajar ini rata-rata siswa memang sudah beranjak ABG karena umur mereka saat masuk Sekolah Dasar pun melebihi usia anak SD umumnya maka untuk siswa-siswa saya yang lelaki saya batasi karena memang mereka sudah baligh untuk siswa yang berada di kelas tinggi. Di sinilah pentingnya tarbiyah bagi seorang guru menghadapi siswa-siswa yang beranjak dewasa memang tidak mudah bila ilmu kita tidak bisa disampaikan dengan baik. Guru harus banyak belajar, tidak sekedar untuk meningkatkan kemampuan kognitif mereka tetapi juga mengajarkan akhlaq dan moral yang baik untuk siswa-siswa kita karena guru adalah orang tua mereka di sekolah maka jadilah orang tua yang baik.

1 “ih… kerudungnya panjang amat” dalam artian negatif

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan IV. sekarang menjadi volunteer sebagai Sekretaris KLIPNUS (Klinik Pendidikan Nusantara) menangani Training untuk Guru dan Siswa. serta KLIPNUS memiliki rumah baca yang disebut Kolong Ilmu. beberapa kegiatan kami diantaranya Indonesia Ceria dan Training for Teacher. Semoga Kami senantiasa bermanfaat. Klipnus : Build Better Indonesian Education

Lihat Juga

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku