Home / Berita / Internasional / Eropa / Merebak Gelombang Anti Pernikahan Gay di Perancis

Merebak Gelombang Anti Pernikahan Gay di Perancis

gaydakwatuna.com – Paris. Ratusan ribu massa turun ke jalan untuk menentang undang-undang pernikahan sesama jenis di Paris, Minggu (26/5/2013). Polisi memperkirakan jumlahnya sekitar 150 ribu orang, namun perwakilan pengunjuk rasa menyatakan jumlahnya hampir mencapai 1 juta orang.

Unjuk rasa itu dihadang polisi anti huru-hara. Sebagaimana dilaporkan BBC, tidak terjadi kekerasan namun sedikitnya 100 orang ditangkap. Sehari sebelumnya, sebanyak 50 orang juga ditangkap karena memblokade jalan utama Champs-Elysees di Paris.

Gelombang aksi unjuk rasa itu muncul secara spontan untuk menentang kebijakan pemerintahan Presiden Francois Hollande yang dikeluarkan pekan lalu yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Undang-undang tersebut tetap dikeluarkan meskipun sebagian besar warga Perancis menentangnya.

Kelompok oposisi pimpinan mantan presiden Nicolas Sarkozy juga menentangnya mati-matian. Undang-undang ini telah memakan korban, yakni sejarawan terkemuka Perancis melakukan bunuh diri di altar katedral terkenal Notre Dame setelah berpesan untuk menentang undang-undang gay tersebut.

“Saya benar-benar brengsek. Saya telah memilih Hollande (di pemilu lalu),” teriak pengunjuk rasa.

Pengunjuk rasa yang berdatangan dari berbagai penjuru berjalan bersama menunju kompleks Invalides di Paris. Beberapa pengunjuk rasa meneriakkan makian kepada Hollande yang berisi penyesalan telah memilihnya di pemilu lalu.

Sejumlah tokoh yang ikut turun ke jalan adalah pemimpin opoisisi dari partai konservatif UMP, Jean-Francois Cope serta aktivis terkemuka Virginie Tellen – yang lebih dikenal sebagai Frigide Barjot.

Salah seorang anggota parlemen, Jacques Myard, mengatakan bahwa undang-undang itu keluar karena tekanan. Ini mengakibatkan munculnya jurang pemisah antara pemerintah dan warga negara.

“Ini merupakan salah satu hal yang tidak bisa kami terima. Pemerintah mempermainkan Tuhan karena para gay ingin menikah dan ini tidak akan berhenti sampai di sini. Setelah menikah mereka akan mengadopsi anak dan kemudian anak itu tumbuh dalam keluarga yang tidak ada ayah atau ibu,” tegas Myard. (tjs/ind)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Selamatkan Remaja dari LGBT