Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tersesat di Jalan Yang Benar: Dilema Pemilihan Jurusan Mahasiswa IPB

Tersesat di Jalan Yang Benar: Dilema Pemilihan Jurusan Mahasiswa IPB

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

1361775139362867249dakwatuna.com Ada sebanyak 3.700 mahasiswa baru tiap tahunnya di IPB. Mahasiswa-mahasiswa baru ini datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. IPB sendiri menyebut mahasiswa-mahasiswa baru ini sebagai putra-putri terbaik bangsa. Dari 10 orang yang mendaftar hanya satu yang diterima. Satu yang diterima itu adalah salah satu putra-putri terbaik bangsa.

Untuk biaya masuk sendiri IPB tidak memberatkan calon-calon mahasiswanya. Ada banyak cara untuk membayar uang masuk tersebut. Satu dari empat mahasiswa IPB masuk tanpa membayar uang pangkal sama sekali. Mereka adalah calon mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bidik misi. Pemerintah sendiri lewat DIKTI  menyediakan kuota sebanyak 1000 beasiswa untuk calon mahasiswa IPB.

Seorang calon mahasiswa IPB baru bisa dikatakan sebagai mahasiswa IPB apabila telah memiliki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Selanjutnya mahasiswa ini baru sah sebagai mahasiswa IPB dan akan mendapatkan pendidikan. Tidak seperti Perguruan Tinggi lainnya, IPB sendiri pada tahun pertama menerapkan sistem pendidikan yang disebut TPB (Tahun Persiapan Bersama). TPB adalah masa-masa persiapan untuk mahasiswa baru sebelum masuk ke departemen atau fakultas. Mahasiswa IPB tidak disebut berdasarkan jurusannya masing-masing walaupun diterima di jurusan yang dipilih. Misalnya Mahasiswa baru yang diterima di jurusan Kedokteran Hewan tidaklah disebut Mahasiswa FKH tapi disebut sebagai mahasiswa TPB. Selama dua semester mahasiswa TPB akan tinggal di asrama yang dikenal dengan asrama TPB. Asrama mahasiswa (putra) dan mahasiswi (putri) dipisahkan. Untuk asrama putera disebut Astra dan asrama putri disebut Astri. Jadi pada tahun pertama mahasiswa IPB harus melewati dua masa pada satu waktu, yaitu masa TPB dan masa asrama.

Masa TPB sendiri ditujukan untuk menyamakan tingkat dan kualitas pendidikan mahasiswa. Kualitas pendidikan SMA satu daerah tentu tidak sama dengan SMA di daerah lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut seperti kurangnya sumber daya guru dan juga fasilitas yang tidak memadai. IPB sendiri tidak berkeinginan untuk membedakan kemampuan dan pemahaman akan ilmu bagi mahasiswanya. TPB adalah cara yang tepat untuk mengatasi ketidaksamaaan kualitas pendidikan tersebut. Kurikulum TPB sendiri sama seperti kurikulum SMA. Mata-mata kuliah yang diajarkan juga sama dengan mata pelajaran SMA. Oleh karena itu mahasiswa IPB sering menyebut TPB sebagai kelas empat –nya SMA. Materi-materi yang ada pada mata kuliah TPB tidak jauh berbeda dengan materi-materi yang ada di SMA. Materi-materi ini akan sedikit dipersempit dan diarahkan ke materi yang mendukung pertanian. Contohnya adalah mata kuliah Sosiologi Umum. Mata kuliah ini tetap mengajarkan materi-materi penting Sosiologi Umum seperti biasanya. Namun dalam hal pemberian kasus untuk dianalisis pasti yang berkaitan dengan yang namanya pertanian. Pertanian yang dimaksud adalah pertanian dalam arti luas yang mencakup peternakan, veteriner, perikanan-perairan, kehutanan dan juga teknologi pertanian. Diharapkan selepas dari TPB pemahaman semua mahasiswa baru IPB sama. Kesamaan ini akan menjadi dasar dalam memahami materi-materi yang sesuai jurusan atau departemen yang dipilih.

Masa-masa TPB adalah masa-masa pertukaran budaya, mengingat mahasiswa-mahasiswa baru IPB tidak datang dari satu daerah saja. Semua datang dari penjuru Indonesia. Mahasiswa yang berasal dari Jawa tetap mendominasi, namun tidak sedikit juga yang berasal dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Tidak ada masalah dengan adanya dominasi kebudayaan tersebut. Ketertukaran budaya cukup diwakili oleh satu orang mahasiswa saja. Satu mahasiswa ini sudah bisa menggambarkan tentang kebudayaan yang dibawa. Selain itu informasi yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dengan mahasiswa lainnya dari daerah yang sama.

Masa-masa asrama sendiri adalah masa-masa penuh kebagian, begitu pernyataan sebagian besar mahasiswa IPB yang telah melewati masa-masa tersebut. Pada masa inilah mahasiswa IPB akan menceritakan jalan mereka ketika masuk IPB. Hal yang paling mencolok adalah alasan masuk IPB dan memilih jurusan. Jika dibandingkan hanya satu dari sepuluh mahasiswa IPB yang masuk karena benar-benar mencintai pertanian. Sembilan lainnya memilih IPB karena banyak alasan. Ada yang yang masuk karena memperjuangkan prestige sekolahnya. Jika tidak memilih IPB maka SMA nya tidak akan mendapatkan jatah tahun berikutnya. Ada juga yang masuk untuk menghindari sekolahnya dari “blacklist” IPB. Isu yang beredar menyebutkan kalau sekolah-sekolah yang sudah di “blacklist” otomatis siswanya tidak bisa masuk IPB. Alasan-alasan inilah yang menjadikan siswa tersebut terpaksa harus memilih IPB, terkadang malah dengan jurusan yang tidak mereka inginkan sama sekali. IPB sendiri memberlakukan aturan ketat seperti ini untuk mencegah “peng-anak tirian” pilihan. Selama ini IPB merasa selalu di nomor dua kan dan dijadikan sebagai pilihan alternatif jika tidak diterima di perguruan tinggi lainnya.

Bicara memilih jurusan kebanyakan dari siswa tidak mengerti dengan jurusan yang mereka pilih. Informasi tentang Perguruan Tinggi yang ada dan bisa dipilih itu tidaklah memadai. Guru sebagai tenaga pendidik yang bertanggung jawab terhadap pendidikan siswanya juga tidak memiliki informasi yang cukup mengenai Jurusan dan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Bahkan ada juga oknum guru yang tidak peduli dengan hal ini. Akibatnya jurusan yang dipilih adalah jurusan yang namanya aneh, bagus dan asing. Suatu jurusan yang baik dinilai berdasarkan namanya, bukan dari program jurusan tersebut. Sementara jurusan lain yang tidak memiliki nama yang menarik menjadi pilihan terbawah. Jurusan-jurusan dengan nama pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan tidak menjadi prioritas. Siswa-siswa yang tidak diterima di jurusan yang mereka inginkan (jurusan pilihan pertama) berkemungkinan diterima di jurusan yang ada di pilihan kedua. Pilihan kedua ini kadang-kadang adalah jurusan yang dipilih secara asal-asalan. Selanjutnya siswa ini mau tidak mau harus memutuskan, memilih jurusan yang diterima atau mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pilihan memilih jurusan yang diterima adalah pilihan rasional. Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) jauh lebih prestise dibanding kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Faktor biaya juga menjadi alasan. Hanya orang-orang kaya yang bisa bertahan dengan biaya kuliah mahal di PTS. PTS sendiripun tidak menyediakan beasiswa yang cukup untuk mahasiswa yang tidak berkecukupan dalam masalah biaya.

Kuliah di jurusan yang tidak diketahui. Itulah imbas dari pilihan yang tidak beralasan. Hanya satu dari sepuluh mahasiswa IPB yang benar-benar tau informasi tentang IPB. Sedikit sekali yang benar-benar merencanakan untuk kuliah di IPB dengan jurusan yang mereka sukai. Akibat akan mengakibatkan hal yang lainnya. Pertama memilih jurusan asal-asalan akibatnya diterima di jurusan yang tidak sesuai keinginan. Kedua, Karena tidak diterima di jurusan yang sesuai keinginan kuliah menjadi malas, nilai turun, dapat surat peringatan dan akhirnya DO. Banyak mahasiswa yang DO bukan karena kasus-kasus kriminal. Rata-rata alasan di DO adalah tidak bersemangat dengan jurusan yang dipilih. Tidak ada motivasi untuk belajar, tidak melihat prospek masa depan yang cerah dari jurusan yang pipih membuat mahasiswa ini DO di semester-semester awal kuliah.

Walaupun IPB sendiri tau kalau ketidaksukaan dengan jurusan yang dipilih adalah masalah personal, namun IPB juga tidak mau kehilangan putera-puteri terbaik bangsa hanya karena masalah ini. Ada potensi yang besar dari seorang pemuda dan potensi itu bisa memajukan bangsa Indonesia, terutama di bidang pertanian. Putera-puteri terbaik bangsa ini hanya mengalami sedikit kegalauan dengan jurusan-jurusan yang mereka pilih. Jika diibaratkan, mereka seperti pedang yang bengkok yang sewaktu-waktu bisa patah jika tidak diluruskan lagi. IPB sebagai Perguruan Tinggi yang diberikan amanah oleh bangsa ini untuk memajukan pertanian Indonesia memiliki tanggung jawab untuk meluruskan pedang yang bengkok tersebut. Dengan segala daya dan upaya pedang ini akan lurus dan siap membabat gulma-gulma pertanian Indonesia.

Asrama TPB merupakan salah satunya. Asrama ini bukan sekedar tempat tinggal saja. Terdapat berbagai program pembinaan seperti apel pagi, SOGA (Sosial Gathering) lorong dan beberapa program lainnya yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta akan pertanian. Terdapat juga kakak-kakak pendamping yang disebut Senior Resedent (SR) yang senantiasa membimbing mahasiswa-mahasiswa baru dalam berbagai hal. Pembibingan ini menyangkut semua hal tidak hanya terbatas pada program-program asrama. Salah satu contohnya adalah diskusi bebas. Dalam diskusi bebas ini semua topik boleh dibicarakan dan nanti SR akan menghubungkannya dengan pertanian. Inti dari diskusi bebas itu adalah memberikan paradigma kepada mahasiswa baru bahwa pertanian tidaklah seperti yang mereka pikirkan. SR juga akan mengatakan kalau perjuangan itu tidak harus dengan hal-hal yang disukai, justru dengan hal yang tidak disukai membuat diri untuk belajar tentang hal yang dikesampingkan selama ini. SR juga memberikan pernyataan kalau kuliah di IPB adalah pilihan tepat. Apapun jurusan yang dipilih, suka atau tidak suka IPB akan menjadikan mahasiswa baru menjadi pejuang pertanian, laskar pertanian Indonesia. Artinya memperjuangkan nasib rakyat kecil, rakyat kalangan bawah yang mendominasi Indonesia ini. Jika merasa tersesat, maka tersesatnya tidak lah ke jalan yang salah tapi ke jalan yang benar.

Penanaman nilai-nilai cinta akan pertanian, cinta akan jurusan yang dipilih, cinta akan keputusan yang telah diambil tidak hanya dilakukan oleh SR tapi juga dosen. Dosen sendiri pasti menyematkan kalau pertanian tidak seperti yang disangka mahasiswa. IPB juga tidak seperti yang disangka. Banyak orang-orang besar dulu kuliah IPB dan banyak di antara mereka dulunya adalah orang –orang yang salah jurusan juga. Intinya dosen akan mengatakan kalau merasa tersesat di IPB maka tersesatnya tidak di jalan yang salah tapi dijalan yang benar. Mereka besar karena mengubah ketidaksukaan menjadi kecintaan.

Begitulah cara dan nilai yang ditanamkan IPB dalam menyikapi salah jurusan. Ketidaksukaan memang menyebabkan penurunan spirit belajar dan berjuang. Lewat kerjasama semua elemen ketidaksukaan itu akan tergantikan dengan kecintaan kepada jurusan yang dipilih. Cita-cita bisa ditulis ulang, passion bisa bentuk dan mood bisa dikontrol . Tersesat bisa benar-benar tersesat dan tersesat yang tersesat di jalan yang benar. Tersesat di jalan yang benar itulah dampak dari adanya pilihan-pilihan yang harus diambil.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
M Zulfitra Rahmat
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Aktivis KAMMI

Lihat Juga

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah