Home / Berita / Nasional / Pengamat Hukum: Kurang Greget Tangani Kasus Besar, KPK Utamakan Pencitraan Daripada Profesionalitas

Pengamat Hukum: Kurang Greget Tangani Kasus Besar, KPK Utamakan Pencitraan Daripada Profesionalitas

kpk loyodakwatuna.com – Jakarta. Kelambanan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) dalam menangani kasus-kasus besar mengundang reaksi dari beberapa pengamat dan politikus DPR.

Pengamat hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Muzakir mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih mengutamakan pencitraan daripada profesionalitas. Terbukti sampai saat ini KPK belum dapat menuntaskan kasus korupsi besar seperti Century dan BLBI.

“KPK diberi wewenang yang besar, tapi cara menggunakan wewenangnya kurang elegant, cenderung mencitrakan dirinya, daripada meningkatkan kualitas dan profesionalitas aparat penegak hukum. Ini juga menjadi tugas KPK,” ujarnya kepada wartawan, tadi malam.

Muzakir menegaskan KPK hanya mencari pencitraan di mata masyarakat yang reaktif dengan kasus-kasus kecil.

“Tindakan KPK yang kurang greget dengan kasus yang besar, Century dan BLBI, menunjukkan bahwa KPK mencari jalan yang mudah dan cepat memperoleh citra yang baik di mata masyarakat (walaupun itu perlu), meskipun dananya yang dikembalikan ke negara relatif kecil,” tuturnya.

Apabila KPK dapat menyelesaikan kasus-kasus besar tersebut, maka KPK tidak akan dianggap tebang pilih dalam memberantas korupsi karena dana yang kembali ke negara juga lebih besar.

“Sementara jika berhasil ungkap perkara BLBI dan Century akan memberikan masukan ke negara dana ratusan triliun yang signifikan, dengan maksud dan tujuan pembentukan KPK dan anggaran negara yang dikeluarkan untuk KPK,” tandasnya.

Selanjutnya dikatakan juga, janji Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad untuk menuntaskan kasus bailout Bank Century belum juga terjawab. KPK belum menemukan titik terang dalam kasus yang merugikan keuangan negara Rp6,7 triliun itu.

Anggota Komisi VIII DPR, Nasir Djamil mengatakan, institusi tindak kejahatan korupsi tersebut seharusnya lebih ganas untuk menuntaskan kasus korupsi yang diduga melibatkan penguasa.

“Penyidik KPK seharusnya lebih ganas dengan kasus Century, publik bisa berharap kasus Century dibuka. Itu kan janji Abraham Samad waktu pemilihan di komisi III,” kata Nasir, di Jakarta, tadi malam.

Menurut dia, penyidik KPK harus lebih fokus untuk mengungkap dugaan keterlibatan penguasa terkait kasus Century. “Penyidik KPK harus lebih ganas terhadap Century, karena diduga terkait dengan kekuasaan,” tegas mantan Ketua Komisi III DPR itu.

Kata Nasir, janji Abraham Samad untuk menuntaskan kasus Century hanya janji belaka. “Itu membuat kami agak miris, harusnya lebih ganas, tapi seolah-olah tidak ada perkembangan,” tegas politikus PKS itu.

KPK sendiri mangkir dari undangan yang digagas Timwas Century DPR terkait penyelesaian kasus bank century pada rabu, 22/5.

“Kami terus terang kecewa. Kami kan hanya ingin mendengar progres report, tidak ingin melakukan persidangan,” ujar anggota Timwas Century DPR, Hendrawan Supratikno di DPR, Jakarta, Rabu (22/5). (fz/ind)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Semakin banyak wanita ditampilkan KPK jadinya kasus korupsi dan Pencucian Uang malah jadi infotainment yang lebih banyak ghibar dan menjurus fitnah.

Lihat Juga

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (ROL)

HNW: Berapa kali Pun Paripurna Diundur, PKS Tetap Tolak Revisi UU KPK