Home / Narasi Islam / Sosial / SAHABAT = Selalu Ada Bahagia And Tenteram

SAHABAT = Selalu Ada Bahagia And Tenteram

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (iluvislam)
Ilustrasi (iluvislam)

dakwatuna.com Alkisah ada dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir katakanlah si A dan si B. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar urat saraf, sehingga si A menampar sahabatnya si B. Sahabat B yang kena tampar, merasa sakit hati, akan tetapi ia diam tanpa berkata-kata, dia menulis kejadian yang membuatnya sakit hati di atas pasir: HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Sahabat B yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabat A.

Ketika sahabat B mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis kejadian tersebut di sebuah batu: HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Sahabat A yang menolong dan menampar sahabatnya bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Sahabat B sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin MAAF datang menghembus dan menghapuskan tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak mudah hilang ditiup angin.”

Saudara-saudara, kisah di atas menunjukan bahwa terdapat keunggulan Islam yakni dengan konsep saling hormat menghormati dan hidup berdampingan secara damai. Sebagai contoh sahabat B memiliki sifat mulia yakni senantiasa memaafkan sahabat A meskipun sahabat B pernah ditampar dan sakit hati.

Sifat memaafkan juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Asy-Syuara: 43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (Ali‘Imraan, 3:134)[1]

Memaafkan, di sisi lain terasa berat, namun terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya– haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al-Quran, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Suatu renungan pula, bahwa mengapa begitu mudahnya kita memutuskan sebuah persahabatan hanya  kerana sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sakit hati lebih mudah untuk diingati berbanding begitu banyak kebaikan yang dilakukan. Mungkin ini memang sebagian dari sifat buruk diri kita. Mari kita bersama membenahi diri.

Wallahua’lam bishsowab. . .



[1] Artikel HARUN YAHYA Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (7-themes.com)

Futur, Maafkan Kami yang Sekarang Yaa Allah

Organization